Postingan

Swasembada Tanpa Senyum Petani

Gambar
  Swasembada Tanpa Senyum Petani  ( Refleksi Seorang Penyuluh Pertanian) Oleh: Sutoyo ___________   Bruno, 12 November 2025-__ Ketika pemerintah mengumumkan keberhasilan swasembada beras hati saya sebagai penyuluh pertanian seharusnya ikut bangga. Tetapi entah kenapa rasa bangga itu justru datang bersama dengan rasa malu yang diam-diam menusuk kalbu. Malu kepada para petani yang sejak lepas subuh sudah berlumuran lumpur, tetapi belum juga bisa menikmati hasil dari keringatnya secara layak. Saya sering berdiri di tepi sawah menyaksikan petani tersenyum tipis saat panen raya tiba. Tetapi saya tahu senyum itu lebih karena kelegaan berhasil panen, bukan karena hidupnya menjadi lebih sejahtera.  Harga-harga hasil panenan yang tidak stabil, biaya produksi yang terus naik, dan ketergantungan pada pupuk bersubsidi membuat keuntungan mereka semakin menipis dan terkadang hanya sekedar untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang. Bagaimana tidak malu wong  menurut Badan P...

Pangan sebagai Jembatan Kemanusiaan

Gambar
Pangan sebagai Jembatan Kemanusiaan  Oleh : Sutoyo ___________  *Bruno, 11 November 2025__* Musim hujan yang datang lebih awal dari perkiraan ternyata  membawa konsekuensi yang tidak ringan bagi sejumlah wilayah di Kabupaten Purworejo. Di Desa Gowong, Kecamatan Bruno, intensitas hujan yang tinggi selama beberapa pekan terakhir telah memicu tanah longsor dan pergerakan tanah di beberapa titik pemukiman warga. Berdasarkan hasil verifikasi lapangan oleh Tim Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo yang diwakili oleh Untung Widodo, Dewa, dan Galih memastikan terdapat empat titik bencana yang  terdiri dari  tiga lokasi tanah longsor dan satu lokasi tanah bergerak. Keseluruhan titik kejadian berada di area pemukiman, bukan pada lahan pertanian. Kegiatan verifikasi dilakukan bersama dengan Pemerintah Desa Gowong yang dipandu langsung oleh Kepala Dusun Nuraminudin menuju ke empat pedukuhan terdampak yaitu Siblabak, Sidami, Sigebang, dan Kajoran. D...

Refleksi Hari Pahlawan

Gambar
Refleksi Hari Pahlawan  Ibu Pertiwi Menangis   Oleh : Sutoyo _________________  Bruno, 10 November 2025__ Hari ini kita semua menundukkan kepala, menatap merah putih yang berkibar dengan rasa haru. Dibalik setiap helai benang yang menyusun sang Merah Putih tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan doa para pahlawan yang rela lapar agar rakyat kenyang, rela mati agar bangsa ini dapat hidup. Namun di tengah gema upacara dan karangan bunga yang semerbak, terdengar lirih suara Ibu Pertiwi merintih dan menangis. Rintihan dan tangisannya bukan karena penjajah kembali datang, tetapi karena bangsanya kini mulai melupakan cita-cita kemerdekaan. Negeri yang dulu dibangun dengan darah dan air mata, kini retak oleh kerakusan dan kepalsuan. Korupsi menjadi berita harian, keadilan semakin mahal, dan kekuasaan sering disalahgunakan. Dulu para Pahlawan berjuang untuk menegakkan kehormatan, tetapi hari ini banyak yang menukar kehormatan dengan jabatan. Mereka menanamkan persatuan, kit...

Mitigasi sebagai Penopang Stabilitas dan Kemandirian Pangan

Gambar
  Mitigasi sebagai Penopang Stabilitas     dan Kemandirian Pangan Oleh: Sutoyo _____________ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa puncak musim hujan 2025/2026 akan terjadi lebih awal, yakni sekitar bulan November 2025 , terutama di wilayah barat Indonesia 1 . Perubahan ini menjadi sinyal penting bahwa musim hujan tahun ini maju dari pola biasanya, dan diikuti oleh kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang pada tahun berikutnya 2 . Kabar ini tidak hanya penting bagi para peramal cuaca tetapi juga menjadi alarm bagi petani dan pengambil kebijakan pangan. Sebab perubahan kecil dalam kalender iklim dapat mengguncang sistem besar bernama ketahanan pangan nasional . Perubahan pola musim merupakan cermin dari dinamika iklim global yang semakin ekstrem. Dibanyak wilayah petani menghadapi kondisi paradoksal dimana ketika curah hujan tinggi dapat menyebabkan banjir dan gagal tanam, sementara disisi lain air justru sulit didapat saat ...

Membaca Swasembada Era Soeharto dan Era Prabowo

Gambar
Membaca Swasembada  Era Soeharto dan Era Prabowo  Oleh : Sutoyo _____________ Bangsa ini sedang larut dalam suasana bergembira. Spanduk dan baliho ucapan selamat atas capaian “Swasembada Beras” ada dimana-mana. Di televisi para pejabat berebut menyampaikan kabar baik tentang meningkatnya produksi beras, stok melimpah, dan berkurangnya impor. Suasana seperti ini mengingatkan kita pada era tahun 1984, disaat itu Presiden Soeharto menerima penghargaan dari FAO karena Indonesia dinyatakan telah berhasil swasembada beras. Panggungnya megah, sorak sorainya serupa, bahkan narasinya pun hampir sama: “Petani sejahtera, bangsa berdaulat.” Namun sejarah telah mengajarkan satu hal penting bahwa keberhasilan pangan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya. Maka, sebelum kita larut dalam euforia panen besar, mari kita membaca ulang — bagaimana Soeharto membangun swasembada, dan bagaimana Prabowo kini menapaki jalan yang mirip namun di zaman yang berbeda. ...

Sumpah Pemuda Tak Pernah Kedaluwarsa

Gambar
  🇮🇩 Sumpah Pemuda Tak Pernah Kedaluwarsa Oleh : Sutoyo __________ *Bruno, 28 Oktober 2025__* Setiap tanggal 28 Oktober, kalimat “Kami putra dan putri Indonesia…” kembali terdengar di ruang-ruang upacara, dicaption media sosial, dan dipidato para pejabat. Namun jauh dibalik upacara dan formalitas itu tersisa satu pertanyaan yang layak untuk direnungkan kembali apakah Sumpah Pemuda masih relevan dizaman yang serba cepat, dizaman ketika perhatian kita lebih sering habis untuk layar daripada untuk negeri?. Bagi sebagian anak muda Sumpah Pemuda mungkin berasa seperti sebuah label di toples kenangan, penting tapi sudah lewat masa edarnya. Padahal kalau dipikir dan direnungkan secara mendalam semangat yang terkandung di dalamnya takkan pernah kedaluwarsa. Ia seperti cahaya yang menyesuaikan dengan zamannya. Dulu Sumpah Pemuda menyinari langkah menuju kemerdekaan, kini seharusnya menerangi cara kita berpikir, berkreasi, dan berkontribusi diera digital. Tahun 1928 para pemuda rela menem...

Ketika Kacang Hijau Menggeser Kedelai

Ketika Kacang Hijau Menggeser Kedelai: Petani Sudah Punya Logika Sendiri  Oleh : Sutoyo ____________ Sekitar tahun 2019, peta pertanian di Kecamatan Pituruh mulai bergeser. Lahan yang dulunya dipenuhi oleh tanaman kedelai, perlahan berubah menjadi hamparan kacang hijau. Awalnya dianggap tren sesaat, namun hingga kini, arah itu justru semakin mantap. Bukan tanpa alasan hal itu dapat terjadi sebab saat itu  kacang hijau dihargai mencapai  dua kali lipat dari harga kedelai, sementara produktivitasnya relatif berimbang.  Secara hitung-hitungan sederhana dan cukup jelas mana yang lebih menguntungkan maka petani pun akan beralih. Bukan karena diperintah, tetapi karena mereka telah berpikir logis. Namun ironinya disaat petani sudah punya arah sendiri, kebijakan masih saja sibuk mendorong program Pajale (Padi, Jagung, Kedelai).  Berbagai upaya dilakukan untuk “mengembalikan” petani ke kedelai. Ada iming-iming bantuan alsintan, benih unggul, hingga pelatihan budidaya, te...