Postingan

Senja dan Hati yang Diuji

Gambar
Episode 3 – Senja dan Hati yang Diuji Senja mulai turun ketika Amin Zaid menuntun kambing-kambingnya untuk pulang. Matahari sudah mulai mendekati ufuk barat, cahayanya kuning kemerahan dan lembut. Panas terik siang tadi telah pergi digantikan dengan semilir angin sore yang pelan menyentuh kulit. Karung berisi rumput menggantung di pundaknya. Beratnya masih terasa, tapi tidak lagi memberatkan langkah. Di kejauhan, suara adzan magrib seperti sedang bersiap keluar dari menara masjid. Di jalan setapak diatas tanggul kali, beberapa teman seusianya lewat sambil tertawa. Mereka baru saja selesai bermain. Ketika melihat Amin Zaid bersama kambing-kambingnya, salah satu dari mereka berseru, “Min, kok belum pulang juga? Bau kambing tuh!” Tawa kecil menyusul. Tidak keras. Tapi cukup untuk mengusik. Langkah Amin Zaid melambat. Bukan karena lelah, tapi karena hatinya tersentuh. Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan bahwa kambing-kambing ini adalah amanah. Bahwa tidak semua anak punya waktu bermain se...

Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali

Gambar
 Episode 2 –Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali Matahari mulai condong kearah  barat. Panasnya masih terasa, tapi tidak lagi setajam ketika siang hari tadi. Amin Zaid berjalan menuntun kambing-kambingnya menyusuri jalan setapak menuju tanggul kali, karung goni tersampir di pundak dan sabit kecil digenggamnya dengan erat. Air sungai tampak mengalir tenang. Pantulan cahaya matahari bergerak pelan di permukaannya. Amin Zaid membayangkan  bahkan merasakan bahwa aliran air sungai itu seperti menggambarkan  kehidupan yang tidak selalu lurus, tetapi terus berjalan. Rumput disekitar tanggul tidak semuanya hijau. Ada yang sudah menguning, ada pula yang tinggal batang. Kambing-kambingnya mengembik pelan, seolah gelisah menunggu. Amin Zaid berhenti sejenak. Ia teringat cerita guru ngajinya tentang Rasululloh Muhammad SAW yang menggembala kambing dengan sabar, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengeluh meski panas menyengat. “Kalau Nabi saja berjalan sejauh itu...

Amin Zaid: Jejak Kecil Meneladani Nabi

Gambar
Amin Zaid: Jejak Kecil Meneladani Nabi Oleh : Sutoyo Setiap anak pasti memiliki tokoh idola. Sebagian mengagumi pahlawan dalam cerita, sebagian lagi tokoh yang mereka lihat di layar ponsel. Dan pada umumnya tokoh idolanya banyak dipengaruhi oleh zamannya. Namun ternyata tidak bagi begitu  Amin Zaid, sosok idolanya itu tidak pernah ia jumpai secara langsung. Ia hanya mengenalnya lewat kisa—kisah yang ia dengar dari guru ngajinya di langgar kecil dekat rumahnya. Ya tentang masa kecil Rasululloh Muhammad SAW. Tentang kejujuran beliau, kesabaran beliau, dan tentang masa kecil ketika beliau menggembala kambing. Guru ngajinya sering berkata, bahwa pekerjaan itu bukanlah sekadar mencari nafkah atau makan, melainkan sekolah akhlak tempat dimana  untuk belajar sabar, amanah, dan tawakal. Cerita-cerita itu tidak berhenti di telinga Amin Zaid. Ia membawanya pulang. Ia menyimpannya di dalam hati. Dan tanpa ia sadari, kisah itu pelan-pelan membentuk cara ia memandang hidup. Ia tidak bermim...

Padi Rebah

Gambar
Padi Rebah   Antara Angin Muson dan Cara Kita Bertani Oleh : Sutoyo (pemerhati dan peduli petani dan pertanian) _________________ Setiap menjelang musim panen padi MT1 cerita yang sama kembali berulang. Hari ini hujan turun seharian dari malem hingga siang. Padi yang sudah mulai  menguning dan panen di depan mata, tetapi hujan belum juga mau kompromi. Angin muson masih bertiup, sawah tergenang, dan tanaman padi satu per satu mulai tak tahan rebahan. Sampai pada titik ini cuaca sering dijadikan terdakwa utama. Padahal  jika ditelaah dengan lebih jujur, padi rebah tidaklah semata-mata soal angin, melainkan juga soal bagaiamana cara kita memperlakukan tanaman. Faktor eksternal itu memang fakta dan tak terbantahkan. Angin muson yang datang pada penghujung musim hujan di Indonesia membawa hujan lebat dan hembusan angin yang tak mungkin ditahan oleh petani. Tidak ada teknologi murah yang mampu menahan angin di hamparan sawah terbuka. Maka ketika kita menuduh dan menyalahkan mus...

Indonesia Emas tahun 2045

Gambar
Indonesia Emas tahun 2045   Apa yang paling tepat disiapkan ?  mengisi perut atau mengisi kepala . Oleh : Sutoyo _________________ Perdebatan antara program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Gratis hingga kuliah bukan sekadar soal anggaran, melainkan soal visi tentang masa depan bangsa. Negara sedang memilih: apakah ingin membangun generasi yang sekadar bertahan hidup, atau generasi yang mampu bersaing dan memimpin dikancah dunia. Ok MBG lahir dari niat baik agar anak tidak lapar sehingga bisa belajar. Dan tidak ada satupun yang menyangkal pentingnya gizi. Namun masalah muncul ketika kebijakan ini diposisikan sebagai poros utama pembangunan SDM. Dititik itulah negara mulai keliru membaca tantangan zaman. Kompetisi global tidak berlangsung di dapur umum, melainkan di ruang kelas, laboratorium, pusat riset, dan arena inovasi. Memberi makan adalah tindakan perlindungan. Tetapi perlindungan bukanlah kemajuan. MBG bersifat konsumtif: ia habis hari ini, diulang besok, dan sel...

Profesionalitas di Era Kinerja Berbasis Citra

Gambar
  Profesionalitas di Era Kinerja Berbasis Citra Oleh : Sutoyo _________________ Beberapa tahun terakhir ini ukuran kinerja aparatur publik mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Selain capaian program dan administrasi, aktivitas komunikasi terutama di ruang digital menjadi bagian yang semakin diperhatikan. Publikasi kegiatan, narasi keberhasilan, dan kehadiran di media sosial kini kerap diposisikan sebagai indikator tambahan kinerja. Memang pada satu sisi komunikasi publik itu penting. Negara perlu hadir menjelaskan program, dan membangun kepercayaan masyarakat. Namun, persoalan muncul ketika orientasi pada citra mulai lebih dominan dibandingkan dengan substansi kerja itu sendiri. Ketika yang dinilai bukan lagi kedalaman proses dan dampak yang nyata, melainkan seberapa sering tampil dan seberapa positif narasi disajikan. Kinerja berbasis citra memiliki kecenderungan menyederhanakan realitas lapangan yang sebenarnya cukup kompleks. Tantangan, keterbatasan, dan kegagalan yang ...

Hujan Itu Barokah, Tapi Mengapa Petani Selalu Diselamatkan dengan Bantuan, Bukan Dikuatkan dengan Kemandirian?

Gambar
Hujan Itu Barokah, Tapi Mengapa Petani Selalu Diselamatkan dengan Bantuan, Bukan Dikuatkan dengan Kemandirian? Oleh : Sutoyo _________ Setiap kali hujan turun kita kembali diyakinkan bahwa hujan adalah barokah. Kalimat ini memang terdengar indah, menenangkan, dan terasa bijak. Namun dibanyak desa sentra pertanian hujan juga berarti  kecemasan. Air yang turun terlalu deras bisa menggenangi sawah, merobohkan dan merusak tanaman padi bahkan menggagalkan panen yang sudah ditunggu berbulan-bulan. Saat itulah cerita lama kembali berulang: petani merugi, panen gagal, lalu negara datang membawa bantuan benih, pupuk dan pangan. Semua terdengar baik dan memang sering kali menyelamatkan hari ini. Tapi diam-diam disitulah persoalan dimulai. Hujan sebenarnya tidak pernah menjadi musuh petani sebab air adalah jantung pertanian dan tanpa hujan sawah akan mati. Masalah akan muncul ketika ruang hidup pertanian semakin rapuh. Lahan mulai menyempit, irigasi seadanya, daerah hulu rusak, dan sawah dibi...