Postingan

Seri Artikel: Rahasia Hari Pasaran dalam Tradisi Jawa

Gambar
Seri Artikel: Rahasia Hari Pasaran dalam Tradisi Jawa Oleh : Sutoyo ______________ Bagian 1 Jejak Peradaban di Balik Hari Pasaran Jawa Didalam tradisi masyarakat Jawa dikenal dengan lima hari pasaran yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Kelima hari ini membentuk siklus lima harian yang dikenal sebagai Pancawara . Kata panca berarti lima, sedangkan wara berarti hari. Jadi Pancawara adalah sistem pekan lima hari yang berjalan terus menerus berdampingan dengan pekan tujuh hari biasa. Pada masa lalu pasar di desa-desa Jawa tidak dibuka setiap hari seperti sekarang. Aktivitas jual beli hanya berlangsung pada hari pasaran tertentu. Diluar hari-hari itu lapangan pasar biasanya kosong tidak ada pedagang dan tidak ada pembeli, bahkan tidak ada transaksi sama sekali. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan tradisional. Para peneliti budaya melihatnya sebagai sistem ekonomi lokal yang sangat rasional. Antropolog ekonomi seperti Clifford Geertz dalam penelitiannya tentang pasar di Jawa meny...

Ketika Lelah Menguji Niat

Gambar
  Episode 5 – Ketika Lelah Menguji Niat Hari itu Amin Zaid pulang sekolah dengan langkah yang  lebih lambat dari biasanya. Tasnya terasa berat, bukan hanya oleh buku, tapi oleh tubuh yang lelah. Pelajaran siang tadi cukup panjang, panas, dan menuntut fokus. Namun seperti biasa ia menuju rumah hanya sebentar  mengganti baju, lalu mengambil arit dan karung. Kambing-kambing sudah menunggu. Sore itu angin tidak banyak membantu. Rumput di tanggul kali lebih jarang. Amin Zaid harus melangkah lebih jauhz menebas lebih pelan, mengumpulkan sedikit demi sedikit. Tangannya  pegal. Bahunya terasa pun kaku. Disatu titik ia berhenti. Ia duduk di atas tanah, memandangi karung yang belum juga penuh rumput. Dalam hatinya muncul bisikan kecil, “Cukup segini saja. Besok kan masih ada.” Bisikan itu terasa ringan. Menggoda. Namun ingatannya melayang pada kisah Rasululloh Muhammad SAW yang sering ia dengar dari guru ngajinya—tentang bekerja bukan karena ingin supaya dilihat orang, tapi ka...

Puasa: Ibadah Kuno yang Baru Dipahami Sains Modern

Gambar
  Puasa: Ibadah Kuno yang Baru Dipahami Sains Modern Oleh ,: Sutoyo ________________ Sejak ribuan tahun lalu manusia telah mengenal puasa. Hampir semua tradisi besar di dunia mempraktikkannya—baik dalam Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, maupun Buddha. Dalam tradisi keagamaan puasa dipahami sebagai latihan spiritual untuk   menahan diri, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun menariknya sains modern mulai menemukan bahwa praktik kuno ini ternyata menyimpan mekanisme biologis yang sangat kompleks di dalam tubuh manusia. Beberapa dekade terakhir ini para ilmuwan dari bidang kedokteran, biologi sel, dan metabolisme mulai meneliti secara serius apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika manusia berpuasa. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan: puasa memicu berbagai proses adaptasi biologis yang justru berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh. Salah satu perubahan paling mendasar adalah peralihan sumber energi tubuh . Ketika seseorang berhenti makan selama b...

Kesesuaian Kebutuhan Tanaman Semusim dengan Pola Ketersediaan Nutrisi Pupuk Organik dan Kimia

Gambar
  Kesesuaian Kebutuhan Tanaman Semusim dengan Pola Ketersediaan Nutrisi Pupuk Organik dan Kimia Oleh : Sutoyo (praktisi dan pemerhati pertanian berkelanjutan) _________________ Tanaman semusim seperti padi, jagung, kedelai, atau sayuran tumbuh dalam siklus yang relatif singkat, tetapi mengikuti pola kebutuhan nutrisi yang jelas sepanjang fase pertumbuhannya . Pada fase awal setelah tanaml kebutuhan hara atau nutrisi masih  relatif rendah karena sistem perakaran belum berkembang sempurna. Memasuki fase vegetatif aktif kebutuhan nutrisi meningkat pesat seiring dengan pembentukan daun dan batang. Pada fase generatif kebutuhan tersebut mencapai tingkat tinggi sebelum akhirnya menurun menjelang panen. Pola kebutuhan ini sebenarnya menjadi kunci dalam menentukan strategi pemupukan yang efektif. Namun dalam praktik di lapangan pemupukan sering dilakukan lebih berdasarkan pada kebiasaan atau jadwal teknis, bukan berdasarkan atas  kesesuaian antara kebutuhan tanaman dan ketersed...

Ketika Rumput Tak Sepenuh Harapan

Gambar
  Episode 4 – Ketika Rumput Tak Sepenuh Harapan Malam telah benar-benar turun ketika Amin Zaid menutup pintu kandang. Lampu minyak kecil di sudut halaman menyala redup, menerangi karung rumput yang isinya tak sepenuh biasanya.Ia berdiri sejenak. Menimbang. Menghitung dengan mata dan perasaan. Rumput hari ini memang tidak banyak. Bukan karena malas, tapi karena sepanjang sore ia hanya sempat ngarit di satu sisi tanggul. Waktu tidak panjang. Sekolah lebih lama dari biasanya. Ibunya mendekat tanpa banyak tanya. Ia tahu rutinitas anaknya: pulang sekolah, berganti baju, lalu menggembala kambing sekalian ngarit.  Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya—hanya tatapan yang menguatkan. Amin Zaid membuka karung itu. Dengan hati-hati ia membagi rumput. Tidak boros, tidak juga menahan berlebihan. Setiap kambing mendapat jatah, meski tidak banyak. Di dalam hatinya, ia teringat kisah Rasululloh Muhammad SAW yang sering diceritakan guru ngajinya—tentang menggembala kambing bukan hanya so...

Senja dan Hati yang Diuji

Gambar
Episode 3 – Senja dan Hati yang Diuji Senja mulai turun ketika Amin Zaid menuntun kambing-kambingnya untuk pulang. Matahari sudah mulai mendekati ufuk barat, cahayanya kuning kemerahan dan lembut. Panas terik siang tadi telah pergi digantikan dengan semilir angin sore yang pelan menyentuh kulit. Karung berisi rumput menggantung di pundaknya. Beratnya masih terasa, tapi tidak lagi memberatkan langkah. Di kejauhan, suara adzan magrib seperti sedang bersiap keluar dari menara masjid. Di jalan setapak diatas tanggul kali, beberapa teman seusianya lewat sambil tertawa. Mereka baru saja selesai bermain. Ketika melihat Amin Zaid bersama kambing-kambingnya, salah satu dari mereka berseru, “Min, kok belum pulang juga? Bau kambing tuh!” Tawa kecil menyusul. Tidak keras. Tapi cukup untuk mengusik. Langkah Amin Zaid melambat. Bukan karena lelah, tapi karena hatinya tersentuh. Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan bahwa kambing-kambing ini adalah amanah. Bahwa tidak semua anak punya waktu bermain se...

Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali

Gambar
 Episode 2 –Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali Matahari mulai condong kearah  barat. Panasnya masih terasa, tapi tidak lagi setajam ketika siang hari tadi. Amin Zaid berjalan menuntun kambing-kambingnya menyusuri jalan setapak menuju tanggul kali, karung goni tersampir di pundak dan sabit kecil digenggamnya dengan erat. Air sungai tampak mengalir tenang. Pantulan cahaya matahari bergerak pelan di permukaannya. Amin Zaid membayangkan  bahkan merasakan bahwa aliran air sungai itu seperti menggambarkan  kehidupan yang tidak selalu lurus, tetapi terus berjalan. Rumput disekitar tanggul tidak semuanya hijau. Ada yang sudah menguning, ada pula yang tinggal batang. Kambing-kambingnya mengembik pelan, seolah gelisah menunggu. Amin Zaid berhenti sejenak. Ia teringat cerita guru ngajinya tentang Rasululloh Muhammad SAW yang menggembala kambing dengan sabar, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengeluh meski panas menyengat. “Kalau Nabi saja berjalan sejauh itu...