Postingan

Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah

Gambar
  Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah (Pelajaran dari Leluhur) Oleh : Sutoyo _________________ Berikut artikel 400–600 kata, bernuansa ilmiah-populer, budaya Jawa, dan mengalir. Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah: Pelajaran dari Leluhur Di hamparan hijau persawahan Jawa, pemandangan petani yang membungkuk di antara rumpun padi muda adalah sesuatu yang akrab. Aktivitas itu dalam bahasa Jawa disebut matun —menyiangi gulma atau rumput liar yang tumbuh di sela tanaman padi. Sekilas tampak sederhana: rumput dicabut, padi dibiarkan tumbuh. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan pengetahuan ekologis, etos kerja, sekaligus filosofi hidup orang Jawa. Secara agronomis, matun adalah proses penting dalam budidaya padi. Gulma bersaing dengan padi dalam memperoleh air, cahaya, dan unsur hara. Jika dibiarkan, gulma akan menurunkan produktivitas, mengundang hama, serta mengganggu sirkulasi air di pematang. Dengan menyiangi secara manual, petani sebenarnya sedang menjalankan prins...

Jangan Tanya Kenapa

Gambar
  Jangan Tanya Kenapa Oleh : Sutoyo _________________ Kucing di atas keranjang kecil itu seolah sedang berkata tanpa suara: jangan tanya alasan, cukup terima kenyataan. Di situlah keunikan kucing—ia tidak sibuk menjelaskan, ia hanya hadir, tenang, dan percaya diri menempati ruang yang menurut logika kita “tidak masuk akal”. Keranjang plastik hijau di atas galon mungkin tampak sempit, tetapi bagi kucing, selama terasa nyaman dan aman, itulah singgasananya. Sifat kucing memang penuh paradoks. Ia mandiri, tetapi juga dekat dengan manusia. Ia terlihat santai, tetapi seluruh indranya selalu siaga. Dalam diamnya, ada kewaspadaan; dalam tidurnya yang panjang, ada efisiensi energi yang luar biasa. Kucing mengajarkan satu hal penting: tidak semua gerak harus gaduh, tidak semua kehadiran harus heboh. Kadang cukup duduk hening, dan dunia tetap berjalan. Posisi “aneh” seperti di atas keranjang bukan kebetulan. Kucing cenderung memilih tempat tinggi atau sempit untuk mendapatkan rasa aman da...

Mengapa Sampah Tak Pernah Selesai

Gambar
  Mengapa Sampah Tak Pernah Selesai Saat Anggaran Lebih Sibuk Mengurus yang Sudah Terlanjur Dibuang Oleh : Sutoyo _________________ Kita sering bertanya: mengapa persoalan sampah tak kunjung selesai, padahal truk sudah beroperasi, TPA sudah dibangun, dan petugas bekerja setiap hari? Jawabannya ternyata tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada cara kita membagi perhatian dan anggaran antara hulu dan hilir. Dalam bahasa sederhana, hulu adalah saat sampah belum lahir: desain produk, perilaku konsumsi, pemilahan di rumah, serta keberanian untuk mengatakan, “Aku tidak butuh plastik ini.” Sementara hilir adalah ketika sampah sudah lahir dan menumpuk: diangkut, ditimbun, dibakar, diolah, diproses, dipusingkan. Di sinilah ironi terjadi: anggaran kita lebih banyak diberikan kepada sampah yang sudah lahir , bukan kepada upaya mencegahnya lahir. Secara praktik, anggaran sering berat sebelah. Hilir menyedot biaya untuk truk, BBM, alat berat, TPA, operasional harian—semuanya pa...

Saatnya Alam Menuntut Balas?

Gambar
Saatnya Alam Menuntut Balas? Oleh : Sutoyo _________________ Belum selesai kita bergulat dengan muntahan Semeru dan status siaga Merapi yang terus menghantui lerengnya, Asia Tenggara kembali diguncang bencana dahsyat. Di utara Sumatra, banjir besar dan longsor menyapu pemukiman; ribuan orang harus mengungsi, ratusan kehilangan nyawa. Pada saat yang hampir bersamaan, Malaysia dan Thailand selatan porak-poranda oleh gelombang banjir yang dipicu rangkaian siklon yang saling berinteraksi. Di balik angka-angka itu semua, ada satu pesan yang sulit diabaikan: alam sedang menagih utang — utang yang kita timbun sendiri melalui kerakusan dan eksploitasi tanpa batas. Benar, cuaca ekstrem menjadi pemicu awal. Suhu laut yang memanas akibat perubahan iklim membentuk kluster badai langka, menghantam kawasan ini hampir bersamaan. Namun cuaca hanyalah korek api; bahan bakarnya adalah kerusakan ekologis yang sudah lama dibiarkan, bahkan dilegalkan. Di Sumatra, akar persoalan jauh lebih tua dari bad...

Estuaria: Simfoni Air Tawar dan Air Asin dalam Satu Nafas

Gambar
E stuaria: Simfoni Air Tawar dan Air Asin dalam Satu Nafas Oleh : Sutoyo __________________ Di ujung perjalanan panjang sungai, ada ruang hening yang sarat dinamika: estuaria. Di sinilah air tawar yang menuruni pegunungan bertemu dengan air asin dari samudra luas. Pertemuan itu tidak sekadar fisik, tetapi juga simbolik. Estuaria merekam cerita tentang perubahan, kompromi, dan kemampuan hidup untuk menyesuaikan diri. Ia adalah simfoni, karena setiap unsur—air, sedimen, organisme, dan angin—memainkan perannya dalam harmoni yang tak pernah berhenti. Secara ilmiah, estuaria adalah wilayah transisi, zona peralihan antara sistem sungai dan laut. Salinitasnya tidak stabil; kadang cenderung asin saat pasang, kadang lebih tawar saat debit sungai menguat. Lapisan air dapat terstratifikasi: yang asin cenderung berada di bawah, yang tawar di atas, membentuk tarian arus yang kompleks. Di sini, proses fisik—erosi, sedimentasi, dan pasang surut—berpadu membentuk lanskap yang terus berubah. Peta est...

“Nilam: Aroma yang Mengikat Waktu, Ilmu, dan Ingatan Manusia”

Gambar
Nilam: Aroma yang Mengikat Waktu, Ilmu, dan Ingatan Manusia Oleh : Sutoyo _________________ Di tengah riuhnya industri modern, di antara kilau botol parfum mahal dan iklan kosmetik yang gemerlap, ada satu tanaman sederhana yang tumbuh di pinggir kampung—nilam. Daunnya tak memamerkan warna yang mencolok, batangnya pun biasa saja. Namun, dari kesederhanaan itulah lahir salah satu minyak atsiri paling berpengaruh di dunia: minyak nilam, atau patchouli oil. Ilmu pengetahuan menyebutnya Pogostemon cablin , tetapi kehidupan sehari-hari mengenalnya sebagai aroma yang hangat, lembap, dan misterius—seperti tanah setelah hujan. Secara ilmiah, keistimewaan nilam terletak pada kandungan senyawa patchoulol dan kelompok seskuiterpen lainnya. Senyawa inilah yang membuat minyak nilam tahan lama, tidak mudah menguap, dan mampu “mengikat” aroma lain. Dalam dunia parfum, nilam bukan sekadar tambahan; ia adalah penyangga, dasar yang membuat wangi lain bertahan dan tidak cepat lenyap. Dengan kata lain,...

Ketika Janda Bolong Turun Tahta

Gambar
Ketika Janda Bolong Turun Tahta: Nilai yang Kita Ciptakan Sendiri Oleh : Sutoyo __________________ Beberapa tahun lalu tanaman dengan daun berlubang ini diperlakukan bak permata. Pot kecilnya bisa dihargai setara gaji bulanan orang banyak. Istilah “tanaman sultan” lahir, konten media sosial bertebaran, dan halaman rumah tiba-tiba berubah menjadi galeri tropis. Kini, tanaman yang sama tumbuh santai di pagar, merambat di talang air, bahkan kadang dibiarkan tanpa pot. Apa yang sebenarnya berubah—tanamannya, atau cara kita memandangnya? Fenomena ini sebetulnya lebih dekat ke wilayah psikologi kolektif ketimbang dunia botani. Nilai muncul bukan karena daun itu berlubang, hijau, atau variegata. Nilai muncul karena kita sepakat ia bernilai . Ketika perhatian publik menyorotnya, permintaan naik, kelangkaan terasa, lalu harga melambung. Saat perhatian beralih, yang “langka” tiba-tiba menjadi biasa. Tanaman tetaplah tanaman; yang bergerak adalah persepsi kita. Di sisi lain, hukum ekonomi ber...