Mengapa Sampah Tak Pernah Selesai
Mengapa Sampah Tak Pernah Selesai
Saat Anggaran Lebih Sibuk Mengurus yang Sudah Terlanjur Dibuang
Oleh : Sutoyo
Kita sering bertanya: mengapa persoalan sampah tak kunjung selesai, padahal truk sudah beroperasi, TPA sudah dibangun, dan petugas bekerja setiap hari? Jawabannya ternyata tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada cara kita membagi perhatian dan anggaran antara hulu dan hilir.
Dalam bahasa sederhana, hulu adalah saat sampah belum lahir: desain produk, perilaku konsumsi, pemilahan di rumah, serta keberanian untuk mengatakan, “Aku tidak butuh plastik ini.” Sementara hilir adalah ketika sampah sudah lahir dan menumpuk: diangkut, ditimbun, dibakar, diolah, diproses, dipusingkan. Di sinilah ironi terjadi: anggaran kita lebih banyak diberikan kepada sampah yang sudah lahir, bukan kepada upaya mencegahnya lahir.
Secara praktik, anggaran sering berat sebelah. Hilir menyedot biaya untuk truk, BBM, alat berat, TPA, operasional harian—semuanya padat modal. Sementara hulu hanya memperoleh sedikit: edukasi, pembatasan plastik sekali pakai, bank sampah, riset desain ramah lingkungan. Akibatnya, kita seperti orang yang menimba air dari perahu bocor tanpa pernah menutup bocornya. Kita sibuk mengangkut, tetapi tidak mengurangi sumber timbulan.
Di sini letak filosofinya. Sampah bukan hanya benda; ia adalah cermin peradaban. Cara kita menghasilkan sampah menunjukkan cara kita memaknai hidup: konsumsi cepat, pakai-sekali-buang, kecepatan mengalahkan kebijaksanaan. Ketika anggaran lebih besar dialokasikan untuk “mengangkut dan membuang”, daripada “mendidik dan mencegah”, itu artinya kita memilih hidup yang reaktif, bukan reflektif. Kita lebih senang membereskan akibat daripada memperbaiki sebab.
Secara ilmiah, logikanya sederhana: setiap kilogram sampah yang dicegah di hulu berarti kilogram biaya yang dihemat di hilir. Pengurangan timbulan dari sumber memperpanjang umur TPA, menurunkan biaya angkutan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menekan pencemaran tanah dan air lindi. Namun, selama rasio anggaran masih didominasi hilir, kita akan terus berputar dalam lingkaran setan: TPA penuh → bangun TPA baru → penuh lagi → ribut lagi.
Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas penanaman pohon, tetapi juga refleksi kebijakan anggaran. Kita perlu keberanian politik untuk membalik peta: tidak hanya membangun lebih banyak tempat pembuangan, tetapi lebih banyak tempat pembelajaran. Tidak hanya membeli alat berat, tetapi juga menanam kesadaran berat: bahwa bumi tidak punya keranjang sampah cadangan di sudut tata surya.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan soal teknologi semata, melainkan soal pilihan peradaban. Selama porsi anggaran masih lebih senang merawat sampah yang sudah terlanjur lahir daripada mencegah kelahirannya, persoalan ini mungkin tidak akan benar-benar selesai. Kita akan terus hidup bersama gunungan plastik sebagai monumen diam atas satu kalimat sederhana yang belum kita jalankan dengan sungguh-sungguh:
mengurangi selalu lebih bijak daripada mengangkut....Wallohualam bishowab
__________________

Komentar
Posting Komentar