Jangan Tanya Kenapa

 


Jangan Tanya Kenapa

Oleh : Sutoyo

_________________

Kucing di atas keranjang kecil itu seolah sedang berkata tanpa suara: jangan tanya alasan, cukup terima kenyataan. Di situlah keunikan kucing—ia tidak sibuk menjelaskan, ia hanya hadir, tenang, dan percaya diri menempati ruang yang menurut logika kita “tidak masuk akal”. Keranjang plastik hijau di atas galon mungkin tampak sempit, tetapi bagi kucing, selama terasa nyaman dan aman, itulah singgasananya.

Sifat kucing memang penuh paradoks. Ia mandiri, tetapi juga dekat dengan manusia. Ia terlihat santai, tetapi seluruh indranya selalu siaga. Dalam diamnya, ada kewaspadaan; dalam tidurnya yang panjang, ada efisiensi energi yang luar biasa. Kucing mengajarkan satu hal penting: tidak semua gerak harus gaduh, tidak semua kehadiran harus heboh. Kadang cukup duduk hening, dan dunia tetap berjalan.

Posisi “aneh” seperti di atas keranjang bukan kebetulan. Kucing cenderung memilih tempat tinggi atau sempit untuk mendapatkan rasa aman dan sudut pandang yang strategis. Di situ ia bisa mengamati lingkungan sambil merasa terlindung. Ini bukan sekadar lucu, tetapi naluri: perpaduan antara rasa ingin tahu yang besar dan kebutuhan akan kontrol atas ruang sekitarnya.

Di balik tatapan bulat yang lembut itu, ada karakter kuat: percaya diri. Kucing tidak menunggu validasi. Ia tidak bertanya, “Apakah ini pantas? Apakah aku terlihat aneh?” Ia hanya mengambil tempat dan menjadikannya miliknya. Barangkali, di sinilah pelajaran halus untuk manusia: berhenti terlalu sering meminta izin untuk menjadi diri sendiri.

Kucing juga mengajarkan seni menikmati momen. Duduk di keranjang, diterangi lampu temaram, ia tampak sepenuhnya hadir di saat ini—tidak dibebani masa lalu, tidak cemas oleh masa depan. Hanya ada kehangatan, kenyamanan, dan kehadiran sederhana yang utuh.

Maka ketika kita melihat kucing yang “terlalu santai” di tempat yang “tidak lazim”, mungkin bukan dia yang aneh. Mungkin justru kita yang terlalu rumit. Kucing sudah lama menemukan jawabannya: di mana pun aku merasa cocok, di situlah tempatku. Jangan tanya kenapa....wallohualam bishowab

__________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum