Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah

 


Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah

(Pelajaran dari Leluhur)

Oleh : Sutoyo

_________________

Berikut artikel 400–600 kata, bernuansa ilmiah-populer, budaya Jawa, dan mengalir.


Matun, Gotong Royong, dan Ekologi Sawah: Pelajaran dari Leluhur

Di hamparan hijau persawahan Jawa, pemandangan petani yang membungkuk di antara rumpun padi muda adalah sesuatu yang akrab. Aktivitas itu dalam bahasa Jawa disebut matun—menyiangi gulma atau rumput liar yang tumbuh di sela tanaman padi. Sekilas tampak sederhana: rumput dicabut, padi dibiarkan tumbuh. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan pengetahuan ekologis, etos kerja, sekaligus filosofi hidup orang Jawa.

Secara agronomis, matun adalah proses penting dalam budidaya padi. Gulma bersaing dengan padi dalam memperoleh air, cahaya, dan unsur hara. Jika dibiarkan, gulma akan menurunkan produktivitas, mengundang hama, serta mengganggu sirkulasi air di pematang. Dengan menyiangi secara manual, petani sebenarnya sedang menjalankan prinsip dasar ekologi: menjaga keseimbangan antarorganisme agar tanaman utama tumbuh optimal tanpa tekanan kompetitor. Ini adalah praktik pertanian berkelanjutan sebelum istilah “sustainable agriculture” populer dalam literatur ilmiah modern.

Namun matun tidak hanya menyangkut persoalan tanaman. Di banyak desa Jawa, matun sering dilakukan bersama—saudara, tetangga, bahkan seluruh warga bergotong royong dalam sistem sambatan. Di sinilah nilai sosial bekerja. Gotong royong bukan sekadar strategi menghemat tenaga, melainkan cara merawat jejaring sosial. Di pematang sawah, percakapan mengalir, kabar dibagi, tawa merekah di antara kerja fisik yang melelahkan. Matun menjadi ruang perjumpaan, tempat masyarakat membangun rasa memiliki terhadap tanah dan satu sama lain.

Filosofi Jawa juga bisa dibaca dari gerak matun. Rumput yang dicabut melambangkan sifat-sifat yang mengganggu pertumbuhan batin: serakah, malas, dan sikap merusak harmoni. Padi yang dirawat adalah simbol urip—kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Orang Jawa meyakini, mengolah sawah bukan hanya mengolah tanah, tetapi juga mengolah diri. Tubuh bekerja, hati diajak tertib. Di titik ini, matun menjadi praktik spiritual yang sederhana namun membumi.

Ada pula pelajaran ekologis yang penting untuk zaman sekarang. Di tengah arus mekanisasi dan penggunaan herbisida kimia, matun manual mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam sebaiknya tidak selalu menghadirkan kekerasan. Rumput tidak dibinasakan dengan racun, melainkan dicabut dengan tangan. Sungai di tepi sawah tidak tercemar bahan kimia. Serangga, cacing tanah, dan organisme lain tetap hidup menjaga struktur ekosistem sawah. Leluhur Jawa seolah berkata: bumi bukan objek eksploitasi, melainkan mitra hidup.

Ketika dunia modern berbicara tentang krisis pangan dan kerusakan lingkungan, tradisi matun menawarkan refleksi: bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga etika, kebersahajaan, dan kearifan lokal. Di antara hijau sawah, suara gemericik sungai, dan punggung-punggung yang membungkuk, kita belajar bahwa merawat alam sama artinya dengan merawat masa depan.

__________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum