Ketika Janda Bolong Turun Tahta

Ketika Janda Bolong Turun Tahta: Nilai yang Kita Ciptakan Sendiri


Oleh : Sutoyo

__________________

Beberapa tahun lalu tanaman dengan daun berlubang ini diperlakukan bak permata. Pot kecilnya bisa dihargai setara gaji bulanan orang banyak. Istilah “tanaman sultan” lahir, konten media sosial bertebaran, dan halaman rumah tiba-tiba berubah menjadi galeri tropis. Kini, tanaman yang sama tumbuh santai di pagar, merambat di talang air, bahkan kadang dibiarkan tanpa pot. Apa yang sebenarnya berubah—tanamannya, atau cara kita memandangnya?

Fenomena ini sebetulnya lebih dekat ke wilayah psikologi kolektif ketimbang dunia botani. Nilai muncul bukan karena daun itu berlubang, hijau, atau variegata. Nilai muncul karena kita sepakat ia bernilai. Ketika perhatian publik menyorotnya, permintaan naik, kelangkaan terasa, lalu harga melambung. Saat perhatian beralih, yang “langka” tiba-tiba menjadi biasa. Tanaman tetaplah tanaman; yang bergerak adalah persepsi kita.

Di sisi lain, hukum ekonomi berbicara sederhana dan jujur:
ketika banyak orang menginginkan, harganya naik;
ketika banyak orang memperbanyak, harganya turun.
Para pembudidaya menyambut antusias: stek, kultur jaringan, pembiakan massal. Apa yang dulu disebut “langka” akhirnya berlimpah, bahkan berserakan. Kelangkaan runtuh oleh teknologi perbanyakan.

Namun ada pelajaran yang lebih dalam. Tanaman yang dulu dielus penuh kasih, kini terkadang dilupakan. Padahal ia tidak pernah berhenti melakukan tugasnya: berfotosintesis, menyejukkan pandangan, membersihkan udara, menemani sunyi teras rumah. Nilainya sebagai makhluk hidup tak pernah berubah; yang berubah hanyalah harga di kepala manusia.

Boom tanaman hias hanyalah satu bab dari siklus panjang: batu akik, bonsai, ikan koi, kripto, bahkan tren gaya hidup. Semuanya mengikuti pola yang sama: terpesona → tergila-gila → jenuh → biasa kembali. Kita melihat bahwa manusia sering mengejar bukan kebutuhan, melainkan cerita yang menempel pada sesuatu. Kita membeli simbol: status, keanggunan, keanggotaan tak terlihat di dalam kerumunan.

Tanaman ini, dengan tenang, seakan berbisik:
“Tak perlu ramai untuk menjadi bermakna.”
Ia tetap hijau meski tak lagi mahal. Ia tetap tumbuh meski tak lagi dipuja. Dari sana kita belajar bahwa mungkin yang perlu diturunkan dari tahta bukan tanamannya, melainkan ego kita terhadap nilai semu.

Pada akhirnya, janda bolong mengajarkan satu hal sederhana:
yang berlubang bukan cuma daunnya—kadang, ada lubang dalam cara kita memberi nilai pada hidup.....wallohualam bishowab

__________________


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum