Saatnya Alam Menuntut Balas?
Saatnya Alam Menuntut Balas?
Oleh : Sutoyo
_________________
Belum selesai kita bergulat dengan muntahan Semeru dan status siaga Merapi yang terus menghantui lerengnya, Asia Tenggara kembali diguncang bencana dahsyat. Di utara Sumatra, banjir besar dan longsor menyapu pemukiman; ribuan orang harus mengungsi, ratusan kehilangan nyawa. Pada saat yang hampir bersamaan, Malaysia dan Thailand selatan porak-poranda oleh gelombang banjir yang dipicu rangkaian siklon yang saling berinteraksi. Di balik angka-angka itu semua, ada satu pesan yang sulit diabaikan: alam sedang menagih utang — utang yang kita timbun sendiri melalui kerakusan dan eksploitasi tanpa batas.
Benar, cuaca ekstrem menjadi pemicu awal. Suhu laut yang memanas akibat perubahan iklim membentuk kluster badai langka, menghantam kawasan ini hampir bersamaan. Namun cuaca hanyalah korek api; bahan bakarnya adalah kerusakan ekologis yang sudah lama dibiarkan, bahkan dilegalkan.
Di Sumatra, akar persoalan jauh lebih tua dari badai. Lahan gambut—ekosistem yang sejatinya bekerja seperti spons raksasa—telah lama dibelah kanal dan dikeringkan demi ekspansi perkebunan dan hutan tanaman industri. Dalam keadaan utuh, gambut menyerap air berkali-kali lipat dari beratnya. Tetapi ketika kanal-kanal dibuka, gambut kehilangan daya simpan air. Lahan yang seharusnya menahan limpasan justru memantulkannya kembali ke permukaan, mengalir deras ke sungai yang kapasitasnya sudah menurun oleh sedimentasi.
Di banyak wilayah Aceh dan Sumatera Utara, pola yang sama terulang. Hutan yang dahulu menjadi penyangga air berubah menjadi areal tambang dan perkebunan. Jalur aliran air terpotong, daerah aliran sungai menyempit, dan kemampuan sungai menampung debit besar semakin kecil. Maka ketika hujan ekstrem datang, air tak sekadar naik — ia menerjang, membawa lumpur, batang pohon, dan sisa dari apa yang selama ini kita sebut “pembangunan”.
Cerita di Malaysia dan Thailand selatan tidak jauh berbeda. Degradasi hutan hulu dan pembangunan intensif di kawasan resapan mempersempit ruang hidup air. Cuaca ekstrem memang memicu banjir, tetapi kerusakan ekologislah yang mengubahnya menjadi bencana besar.
Di saat yang sama, penanganan bencana juga tidak mudah. Infrastruktur rusak, akses ke wilayah terisolasi terputus, distribusi bantuan tersendat, dan status darurat sering terlambat menyusul besarnya dampak. Di tengah kesibukan mengevakuasi, kita dipaksa bercermin: mengapa setiap curah hujan ekstrem kini hampir selalu berarti bencana?
Maka pertanyaannya: apakah ini sekadar “bencana alam”? Jawabannya: tidak sepenuhnya. Ini adalah bencana ekologis—perpaduan antara iklim yang makin tak menentu dan kebijakan yang terlalu lama membiarkan alam diperlakukan sebagai komoditas. Ketika izin diberikan tanpa kajian ekologis memadai, ketika kanal-kanal dibuka untuk mempercepat keuntungan, ketika hutan dikorbankan demi ekspansi, saat itu sesungguhnya bab-bab tragedi sudah mulai ditulis.
Alam tidak marah, apalagi dendam, dalam pengertian metafisis. Ia hanya bekerja mengikuti hukumnya sendiri. Jika hutan dirusak, gambut dikeringkan, sungai dipersempit, dan gunung dibebani aktivitas manusia, maka energi alam akan mencari keseimbangannya kembali. Sayangnya, jalannya sering melewati rumah kita, ladang kita, jalan kita, dan hidup kita.
Kalau kita sungguh ingin berhenti menjadi korban, kita harus berhenti menjadi pelaku. Audit kanal-kanal perusahaan. Hentikan izin di gambut dan DAS kritis. Pulihkan hutan. Kembalikan fungsi ekologis yang dikorbankan demi laba jangka pendek. Bencana ini bukan peringatan pertama — dan tidak akan menjadi yang terakhir — kecuali kita mengubah cara memperlakukan bumi.
Alam tidak sedang menuntut balas. Ia hanya menagih kembali apa yang telah kita rusakkan. Dan tagihan itu, dari Sumatra hingga Thailand selatan, datang dalam bentuk air bah....wallohualam bishowab
_________________

Komentar
Posting Komentar