Postingan

Banjir Alarm Keras untuk Ketahanan Pangan Indonesia

Gambar
  Kawasan pemukiman yang terdampak banjir akibat hujan lebat di Padang, Sumatera Barat, 8 Maret 2024. (Antara Foto/Iggoy el Fitra/ via REUTERS) Banjir Alarm Keras untuk Ketahanan Pangan Indonesia Oleh : Sutoyo ___________________ Gelombang banjir besar yang melanda enam negara Asia termasuk Thailand, Indonesia, Sri Lanka, hingga beberapa wilayah Asia Selatan bukan sekadar berita bencana. Lebih dari 1.250 korban jiwa, ribuan rumah hanyut, dan puluhan ribu hektare lahan pertanian rusak merupakan gambaran betapa ekstremnya cuaca beberapa tahun terakhir. Siklon, topan, dan tekanan udara yang tak menentu membentuk pola baru yang jauh lebih ganas daripada dekade sebelumnya. Bencana ini mengirim pesan tegas: iklim sedang berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi. Dan yang paling perlu diwaspadai bukan hanya kerusakan fisik atau putusnya akses, tetapi pukulan langsung terhadap ketahanan pangan kawasan Asia, termasuk Indonesia. Banjir kali ini bukan lagi dapat dikataka...

Tahu Bulat dan Data yang Digoreng Dadakan

Gambar
Tahu Bulat dan Data yang Digoreng Dadakan “Tahu bulat digoreng dadakan!” Seruan itu selalu terdengar meyakinkan. Cepat, hangat, dan seolah menjawab kebutuhan saat itu juga. Masalahnya logika tahu bulat ini pelan-pelan merembes ke dunia yang seharusnya tidak bisa serba dadakan yaitu urusan data. Dibanyak kantor data kerap diperlakukan seperti jajanan keliling. Diminta mendadak, harus cepat, dan idealnya tetap renyah ketika disajikan ke atasan. Soal proses? Nanti saja. Yang penting angka ada dulu. Permintaan data dadakan biasanya datang tanpa basa-basi. Kadang sore hari, kadang menjelang libur, lengkap dengan kalimat pamungkas: “Besok pagi sudah saya tunggu, ya.” Sejak saat itu, akal sehat mulai diuji. Sumber belum lengkap, metode belum jelas, tapi tabel harus segera lahir. Disinilah bias pelan-pelan masuk tanpa permisi. Ketika waktu sempit, verifikasi berubah jadi perkiraan. Data yang bolong ditambal asumsi. Angka yang belum matang digoreng dengan narasi agar tampak layak saji. Ha...

Kopi Estafet di Tepian Bogowonto

Gambar
  Kopi Estafet di Tepian Bogowonto Oleh : Sutoyo ___________ Kami duduk-duduk di tempat sederhana di tepian Sungai Bogowonto, ditemani secangkir kopi yang perlahan mulai mendingin. Air sungai pun terus mengalir, tidak pernah berhenti, tidak pula tergesa. Ia membawa cerita dari hulu ke hilir bertemakan tentang waktu, tentang kesabaran, tentang keberlanjutan. Dihadapan aliran itulah kami belajar bahwa hidup tidak bekerja dengan lompatan melainkan dengan kesinambungan. Kopi di meja kecil itu bukan sekadar minuman. Ia adalah jeda dan ruang temu antar dua usia yang berbeda. Dua generasi duduk setara, tanpa saling menegaskan siapa yang lebih dulu atau lebih tahu. Tidak ada perdebatan dan  juga tidak ada keinginan untuk saling mendahului. Yang satu membawa pengalaman panjang, yang lain membawa kegelisahan masa depan. Dan di antara keduanya, estafet kehidupan berpindah dengan tenang, nyaris tanpa aba-aba. Generasi yang lebih tua tidak sibuk menjelaskan. Mereka memberi pelajaran lewat ...

Belajar Pahit dari Kopi

Gambar
Belajar Pahit dari Kopi Oleh : Sutoyo ______________ Warung kopi itu berdiri di pinggiran kota, di simpang jalan yang tak penting bagi siapa pun selain mereka yang singgah disitu. Dari pagi hingga malam, tempat itu menjadi ruang istirahat orang-orang sambil ngopi, merokok, ngrumus togel, dan menunda pulang ke rumah yang mungkin tak menawarkan banyak harapan. Tampak seorang perempuan paruh baya duduk di pojok. Wajahnya tenang, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan banyak hal. Didepannya segelas kopi hitam mengepul pelan. Ia merokok tanpa tergesa, membiarkan waktu berjalan apa adanya. Dimeja sebelah beberapa lelaki berbisik tentang mimpi semalam mendapatkan ikan besar, jalan berlumpur, angka yang katanya hampir pasti. Didekat pintu, seorang ibu menawarkan beras dalam plastik bening. Sepertijya beras bansos yang kemarin dibagikan serentak. Dijual bukan karena tak butuh makan, melainkan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak mungkin uang sekolah, listrik, obat atau yang lain...

Semi-organik: narasi penyesatan atas nama transisi

Gambar
Semi-organik: narasi penyesatan atas nama transisi  Oleh : Sutoyo _____________ Dalam standar internasional pertanian organik tidak mengenal istilah “semi”. Organik didefinisikan sebagai sistem produksi yang menolak input sintetis dan mengandalkan proses ekologi untuk memulihkan kesehatan tanah, keanekaragaman hayati, dan siklus hara alami (IFOAM, 2005; FAO, 2018). Ketika istilah semi-organik digunakan maka yang terjadi bukan sekadar variasi teknis, melainkan pengaburan makna dari organik itu sendiri. Pemulihan tanah secara ilmiah sangat bergantung pada aktivitas dan keragaman mikroba tanah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pupuk mineral dan pestisida sintetis, bahkan pada dosis rendah sekalipun tetap memberikan tekanan ekologis pada mikroorganisme tanah. Review Geisseler dan Scow (2014), menunjukkan bahwa pemupukan nitrogen mineral secara konsisten akan mengubah struktur komunitas mikroba dan menekan fungsi biologis tertentu. Tinjauan lain menegaskan bahwa input sintetis meme...

Sentuhlah Matamu dengan Lembutnya Bulu Ayam

Gambar
Sentuhlah Matamu dengan Lembutnya Bulu Ayam Oleh : Sutoyo ______________ Purworejo, 10 Desember 2025__Dalam perjalanan batin ada sebuah pesan halus: “Sentuhlah matamu dengan lembutnya bulu ayam.”  Kalimat ini tampaknya sederhana namun dibaliknya tersimpan sebuah isyarat tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan mata batinnya sebagai sumber pandangan, penilaian, dan arah hidupnya. Mata yang dimaksud disini bukanlah organ fisik. Ia adalah tempat kita membaca dunia dengan rasa. Melalui mata batin itulah seseorang menilai dirinya, menilai orang lain, bahkan menafsirkan takdir. Ketika mata batin keruh maka dunia terlihat kacau,  ketika ia keras, segala hal terasa sebagai ancaman, ketika ia penuh ego, apa pun tampak sebagai medan kompetisi. Karena itulah mata batin perlu disentuh, dirawat, dan dilembutkan. Disinilah simbol “bulu ayam” itu hadir. Bulu ayam itu ringan, halus dan tidak memaksa. Ia menyentuh tanpa meninggalkan luka. Ia hadir tanpa meninggalkan bekas tekanan...

Semua Orang Memuji Kupu-Kupu

Gambar
Semua Orang Memuji Kupu-Kupu… Tapi Siapa yang Mau Mengakui Fase Ulatnya ? Oleh : Sutoyo _______________ Purworejo, 3 Desember 2025__ Semua orang tahu kupu-kupu itu indah. Sayapnya penuh warna-warni gerakannya lembut, dan kehadirannya selalu membawa rasa damai. Bahkan banyak orang menjadikannya simbol perubahan, harapan, dan keanggunan. Namun jarang sekali ada yang mau mengingat-ingat bahwa keindahan itu lahir dari seekor ulat. Makhluk kecil yang sering dianggap menjijikkan, merusak, dan tak layak dekat dengan manusia. Di antara dua fase itulah ada ironi yang besar dan sekaligus menjadi sebuah pelajaran yang dalam. Kebanyakan kita hidup di dunia sangat menyukai hasil, tetapi jarang sekali yang menghargai proses. Semua orang memuji “kupu-kupu” dalam diri seseorang ketika dia sudah mapan, tenang, sabar, dan penuh dengan warna. Namun hampir tidak ada yang mau mengakui atau memaklumi “fase ulat” yaitu masa ketika hidupnya masih berantakan, banyak salah, sering ditegur, atau terjebak dalam k...