Tahu Bulat dan Data yang Digoreng Dadakan
Tahu Bulat dan Data yang Digoreng Dadakan
“Tahu bulat digoreng dadakan!”
Seruan itu selalu terdengar meyakinkan. Cepat, hangat, dan seolah menjawab kebutuhan saat itu juga. Masalahnya logika tahu bulat ini pelan-pelan merembes ke dunia yang seharusnya tidak bisa serba dadakan yaitu urusan data.
Dibanyak kantor data kerap diperlakukan seperti jajanan keliling. Diminta mendadak, harus cepat, dan idealnya tetap renyah ketika disajikan ke atasan. Soal proses? Nanti saja. Yang penting angka ada dulu.
Permintaan data dadakan biasanya datang tanpa basa-basi. Kadang sore hari, kadang menjelang libur, lengkap dengan kalimat pamungkas: “Besok pagi sudah saya tunggu, ya.” Sejak saat itu, akal sehat mulai diuji. Sumber belum lengkap, metode belum jelas, tapi tabel harus segera lahir.
Disinilah bias pelan-pelan masuk tanpa permisi. Ketika waktu sempit, verifikasi berubah jadi perkiraan. Data yang bolong ditambal asumsi. Angka yang belum matang digoreng dengan narasi agar tampak layak saji. Hasilnya terlihat rapi, padahal fondasinya rapuh.
Ironisnya data semacam ini sering lolos tanpa banyak tanya. Bukan karena paling akurat, tapi karena paling cepat tersedia. Dalam dunia birokrasi, kecepatan kadang lebih dihargai daripada ketepatan. Asal ada angka, urusan seolah selesai.
Masalahnya data bukan tahu bulat. Ia tidak cukup hanya garing di luar. Data butuh waktu, butuh proses, dan sering kali butuh keberanian untuk bilang: “Belum bisa.” Tapi kalimat itu jarang terdengar, karena lebih berisiko daripada menyetor angka yang setengah matang.
Yang lebih membagongkan, data dadakan ini bisa berumur panjang. Ia disalin, dikutip, dipresentasikan, lalu dijadikan dasar keputusan. Ketika belakangan terbukti keliru, yang disalahkan sering bukan prosesnya, melainkan orang yang “kurang teliti”. Padahal sejak awal data itu memang digoreng terburu-buru.
Bukan berarti semua harus serba lambat. Yang perlu diubah adalah cara pandang. Tidak semua hal bisa diperlakukan seperti tahu bulat. Ada urusan yang memang butuh jeda, riset, dan ketelitian.
Tahu bulat enak dimakan selagi hangat. Tapi keputusan publik? Ia seharusnya lahir dari data yang matang, bukan sekadar cepat, tapi tepat....wallohualam bishowab.
______________

Komentar
Posting Komentar