Semua Orang Memuji Kupu-Kupu


Semua Orang Memuji Kupu-Kupu… Tapi Siapa yang Mau Mengakui Fase Ulatnya?

Oleh : Sutoyo

_______________

Purworejo, 3 Desember 2025__Semua orang tahu kupu-kupu itu indah. Sayapnya penuh warna-warni gerakannya lembut, dan kehadirannya selalu membawa rasa damai. Bahkan banyak orang menjadikannya simbol perubahan, harapan, dan keanggunan. Namun jarang sekali ada yang mau mengingat-ingat bahwa keindahan itu lahir dari seekor ulat. Makhluk kecil yang sering dianggap menjijikkan, merusak, dan tak layak dekat dengan manusia. Di antara dua fase itulah ada ironi yang besar dan sekaligus menjadi sebuah pelajaran yang dalam.

Kebanyakan kita hidup di dunia sangat menyukai hasil, tetapi jarang sekali yang menghargai proses. Semua orang memuji “kupu-kupu” dalam diri seseorang ketika dia sudah mapan, tenang, sabar, dan penuh dengan warna. Namun hampir tidak ada yang mau mengakui atau memaklumi “fase ulat” yaitu masa ketika hidupnya masih berantakan, banyak salah, sering ditegur, atau terjebak dalam keadaan yang tampak buruk. Padahal justru fase itulah yang paling menentukan apakah seseorang akan tetap berjalan, jatuh, atau berubah menjadi versi terbaiknya.

Sesungguhnya ulat menjadi hama bukan karena ia jahat, tetapi karena memang begitulah ia harus bertahan hidup. Ia harus makan banyak, bergerak lambat, dan tampak tidak nyaman di mata manusia. Tetapi tanpa melewati fase itu, ia tak punya energi untuk berubah. Begitu juga dengan kita manusia. Fase-fase tidak enak mungkin ketika masa jatuh bangun, masa gagal, masa bingung, masa diremehkan itu bukanlah kehinaan, tetapi bagian dari skenario agar kita kuat. Allah menciptakan setiap tahapan dengan takaran hikmah-Nya.

Ironisnya manusia sering hanya mau melihatnya ketika sudah menjadi kupu-kupu. Kita ini dihargainya disaat sudah rapi, bukan ketika masih berjuang. Kita ini dipuji disaat sudah sabar, bukan ketika masih belajar menahan diri. Kita ini dianggap baik, tetapi malu mengakui bahwa kita dulu pun pernah keliru, pernah sulit diatur, pernah menjadi “ulat” dalam versi diri kita masing-masing. Padahal dalam perjalanan itulah yang akan membentuk kedewasaan.

Kita juga sering menilai orang lain dari fase sementara, bukan dari potensi yang sedang tumbuh. Seseorang yang masih kacau dianggap tak akan berubah. Orang yang sedang berjuang pun dianggap tak punya masa depan. Padahal bisa jadi seperti halnya ulat, ia sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang jauh lebih indah dari yang terlihat sekarang. Kita hanya melihat daun yang habis dimakan, tetapi tidak melihat sayap yang kelak akan mekar.

Maka jika hari ini kita sedang berada di fase ulat yakni fase yang tidak dipuji, tidak nyaman, atau bahkan dilecehkan maka ingatlah bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu. Tidak ada satupun kupu-kupu yang lahir tanpa melalui fase ulat. Tidak ada keindahan tanpa kesabaran. Tidak ada kedewasaan tanpa luka dan perubahan yang terkadang menyakitkan.

Dan jika hari ini kita melihat orang lain masih berada dalam fase ulatnya, bersikaplah lebih lembut. Karena siapa tahu, kelak ia akan menjadi kupu-kupu yang lebih indah daripada kita. Dunia hanya melihat hasil, tapi Allah melihat perjalanan.

Pada akhirnya, kupu-kupu mengajarkan kita satu hal  yang sederhana bahwa keindahan itu bukan hadiah bagi mereka yang selalu baik, tapi bagi mereka yang bersedia berubah.

______________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum