Belajar Pahit dari Kopi
Belajar Pahit dari Kopi
Oleh : Sutoyo
______________
Warung kopi itu berdiri di pinggiran kota, di simpang jalan yang tak penting bagi siapa pun selain mereka yang singgah disitu. Dari pagi hingga malam, tempat itu menjadi ruang istirahat orang-orang sambil ngopi, merokok, ngrumus togel, dan menunda pulang ke rumah yang mungkin tak menawarkan banyak harapan.
Tampak seorang perempuan paruh baya duduk di pojok. Wajahnya tenang, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan banyak hal. Didepannya segelas kopi hitam mengepul pelan. Ia merokok tanpa tergesa, membiarkan waktu berjalan apa adanya.
Dimeja sebelah beberapa lelaki berbisik tentang mimpi semalam mendapatkan ikan besar, jalan berlumpur, angka yang katanya hampir pasti. Didekat pintu, seorang ibu menawarkan beras dalam plastik bening. Sepertijya beras bansos yang kemarin dibagikan serentak. Dijual bukan karena tak butuh makan, melainkan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak mungkin uang sekolah, listrik, obat atau yang lain. Tak ada yang mencibir, warung itu sudah paham, setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan hidup.
Saat abu rokoknya memanjang, perempuan itu mengetukkannya ke dalam gelas kopi. Abu jatuh dan mengapung. Beberapa pasang mata melirik sebentar, lalu kembali pada urusannya. Hidup ini sudah terlalu sering mencampur yang seharusnya bersih dengan yang terpaksa diterima.
Ia mematikan rokok di bibir gelas, mengaduk kopi yang kini keruh. Sendok berdenting lirih, tenggelam oleh suara orang-orang yang masih percaya angka hari ini lebih ramah dari kemarin. Kopi itu diminumnya sampai habis. Tak ada sisa. Tak ada keluhan. Seperti beras bantuan yang berpindah tangan, seperti harapan yang digantungkan pada angka-angka, semuanya dijalani bukan untuk benar atau salah, melainkan agar tetap bertahan.
Melhat semua itu, tak ada yang benar-benar bisa disombongkan. Kopi pahit, beras bantuan, dan harapan kecil yang digantungkan pada angka-angka mengingatkan satu hal bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling beruntung, melainkan siapa yang masih mampu bersyukur atas apa pun yang Allah anugerahkan...wallohualam bishowab.
__________

Komentar
Posting Komentar