Banjir Alarm Keras untuk Ketahanan Pangan Indonesia

 

Kawasan pemukiman yang terdampak banjir akibat hujan lebat di Padang, Sumatera Barat, 8 Maret 2024. (Antara Foto/Iggoy el Fitra/ via REUTERS)

Banjir Alarm Keras untuk Ketahanan Pangan Indonesia

Oleh : Sutoyo

___________________

Gelombang banjir besar yang melanda enam negara Asia termasuk Thailand, Indonesia, Sri Lanka, hingga beberapa wilayah Asia Selatan bukan sekadar berita bencana. Lebih dari 1.250 korban jiwa, ribuan rumah hanyut, dan puluhan ribu hektare lahan pertanian rusak merupakan gambaran betapa ekstremnya cuaca beberapa tahun terakhir. Siklon, topan, dan tekanan udara yang tak menentu membentuk pola baru yang jauh lebih ganas daripada dekade sebelumnya.

Bencana ini mengirim pesan tegas: iklim sedang berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi. Dan yang paling perlu diwaspadai bukan hanya kerusakan fisik atau putusnya akses, tetapi pukulan langsung terhadap ketahanan pangan kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Banjir kali ini bukan lagi dapat dikatakan sebagai peristiwa lokal tetapi sudah menjadi indikator bahwa stabilitas iklim kawasan sedang memasuki fase yang jauh lebih ekstrem. Laporan Associated Press (AP News) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir intensitas banjir di Asia meningkat tajam akibat pemanasan laut dan pola atmosfer yang tidak stabil. Temuan ini sejalan dengan laporan IPCC AR6 yang menegaskan bahwa Asia kini mengalami “peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian hujan ekstrem.”

Kondisi ini jelas memberikan tekanan langsung pada sektor pangan. FAO dalam Global Report on Food Crises (2024), menyebutkan bahwa cuaca ekstrem khususnya banjir telah menjadi salah satu pemicu terbesar kerawanan pangan akut di Asia. Ketika banjir melanda negara produsen beras utama seperti Thailand, Pakistan, dan India, dampak ekonominya tidak berhenti di batas negara tetapi ia menyebar ke seluruh pasar pangan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Indonesia sendiri berada pada posisi yang cukup rentan sebab BMKG dalam rilis resminya tahun 2024, mencatat bahwa pola hujan Indonesia kini makin tidak menentu, dengan peningkatan kejadian hujan ekstrem yang berdampak pada pergeseran kalender tanam. Petani tidak lagi bisa mengandalkan pola musim seperti satu dekade lalu.

Sementara itu Bank Dunia dalam Climate Risk Profile Indonesia (2025), menegaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap “konkuren hazard” yakni bencana yang terjadi bersamaan atau beruntun seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas. Ketika negara tetangga mengalami banjir besar dan produksi beras turun maka Indonesia menghadapi dua pukulan sekaligus: pasokan impor berkurang, sementara produksi dalam negeri ikut terganggu.

Penelitian dari Universitas Bangka Belitung (Jurnal Ilmu Administrasi, 2023), menunjukkan bahwa banjir dapat menyebabkan kerugian sosial-ekonomi besar bagi petani padi mulai dari penurunan hasil panen, kerusakan lahan, hingga biaya pemulihan yang tidak sedikit. Ini menunjukkan bahwa risiko pada tingkat lokal dapat berujung pada masalah nasional bila terjadi secara simultan. 

IPCC menegaskan tiga tantangan besar bagi negara berkembang seperti Indonesia:

  1. Produksi menurun akibat kejadian ekstrem berulang
    IPCC AR6 menyebut bahwa monsun Asia kini “lebih sulit diprediksi,” yang berakibat langsung pada risiko gagal panen.

  2. Rantai pasok rentan terganggu
    Negara Asia saling bergantung dalam perdagangan pangan. ADB (2024) memperingatkan bahwa guncangan di satu negara dapat memicu lonjakan harga regional.

  3. Adaptasi belum merata di tingkat petani
    Banyak petani Indonesia masih mengandalkan pola tradisional, sementara iklim sudah bergerak lebih cepat dari pengetahuan lokal.

Jika banjir terus terjadi dibanyak negara Asia pada waktu yang berdekatan, dan Indonesia sendiri mengalami cuaca ekstrem yang sama, maka ketahanan pangan nasional bisa berada pada risiko tekanan ganda: impor sulit, panen lokal terganggu.

Banjir mematikan di Asia hari ini adalah peringatan keras. FAO menegaskan bahwa negara yang tidak menyesuaikan sistem pangan dengan perubahan iklim akan menghadapi krisis lebih cepat dari yang dibayangkan. Indonesia tidak boleh menunggu krisis terjadi baru bergerak.

Infrastruktur air harus diperkuat, sistem peringatan dini diperluas, varietas tahan banjir harus diperbanyak, dan distribusi pangan harus diperkuat dari pusat hingga desa. Karena pada akhirnya, seperti diingatkan IPCC, ketahanan pangan bukan hanya tentang stok, tetapi tentang kemampuan sebuah negara bertahan saat alam berubah drastis....wallohualam bishowab

_____________________


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum