Sentuhlah Matamu dengan Lembutnya Bulu Ayam
Sentuhlah Matamu dengan Lembutnya Bulu Ayam
Purworejo, 10 Desember 2025__Dalam perjalanan batin ada sebuah pesan halus: “Sentuhlah matamu dengan lembutnya bulu ayam.” Kalimat ini tampaknya sederhana namun dibaliknya tersimpan sebuah isyarat tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan mata batinnya sebagai sumber pandangan, penilaian, dan arah hidupnya.
Mata yang dimaksud disini bukanlah organ fisik. Ia adalah tempat kita membaca dunia dengan rasa. Melalui mata batin itulah seseorang menilai dirinya, menilai orang lain, bahkan menafsirkan takdir. Ketika mata batin keruh maka dunia terlihat kacau, ketika ia keras, segala hal terasa sebagai ancaman, ketika ia penuh ego, apa pun tampak sebagai medan kompetisi. Karena itulah mata batin perlu disentuh, dirawat, dan dilembutkan.
Disinilah simbol “bulu ayam” itu hadir. Bulu ayam itu ringan, halus dan tidak memaksa. Ia menyentuh tanpa meninggalkan luka. Ia hadir tanpa meninggalkan bekas tekanan. Dalam bahasa hakekat, bulu ayam adalah sifat rahmah dan kelembutan Ilahi yang meluruhkan ke-aku-an. Yang keras tidak akan pernah bisa menembus yang keras. Tetapi kelembutan selalu punya cara tersendiri untuk masuk seperti air yang mencari celah sekecil apa pun untuk menyentuh tanah.
Menyentuh mata dengan bulu ayam berarti melembutkan cara kita memandang hidup dan kehidupan. Selama ini manusia sering menekan dirinya sendiri misalnya memaksa diri harus sempurna, menghakimi diri sendiri, iri bahkan dengki pada takdir orang lain, atau keras pada kesalahan-kesalahan kecil. Belum lagi pandangan kita kepada orang lain sering tajam, cepat menuduh atau cepat menilai. Padahal semakin keras kita memandang, semakin buta mata hati kita dibuatnya.
Kelembutan adalah jalan masuknya cahaya. Sebuah hati yang menegang tak kan dapat menerima apa pun, seperti genggaman yang terlalu erat tidak dapat memegang air. Demikian pula dengan mata batin yang keras. Ia tak mampu menangkap sinyal-sinyal halus yang dititipkan Tuhan dalam peristiwa sehari-hari.
Oleh karennya dengan menyentuh mata batin secara lembut, kita belajar melihat tanpa nafsu, membaca tanpa curiga, menerima tanpa memberontak. Kita belajar menundukkan ego tanpa paksaan, seperti halnya bulu ayam yang mengajarkan bahwa sesuatu yang paling halus justru sering paling menyembuhkan. Dari kelembutan itu akan tumbuh kejernihan. Dari kejernihan lahirlah rasa syukur. Dan dari syukur muncul ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.
Pada akhirnya pesan itu mengajak kita untuk merawat pandangan batin kita bukan dengan kekerasan, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kehalusan rasa. Dunia luar boleh penuh keributan, tetapi mata batin yang disentuh kelembutan akan melihatnya sebagai bagian dari tarian takdir yang harus dijalani apa adanya.
Kadang yang paling ringan justru memikul makna yang paling berat. Dan kadang yang paling halus justru membuka pintu yang tak pernah dapat dibuka oleh kekuatan. Begitulah hakekatnya yang lembut selalu lebih dekat kepada kebenaran daripada yang keras.... Wallohualam bishowab.
______________
.jpg)
Komentar
Posting Komentar