Poel dalam Pandangan Kehidupan: Menjadi Matang Tanpa Banyak Menggigit

 

Poel dalam Pandangan Kehidupan: Menjadi Matang Tanpa Banyak Menggigit

Oleh : Sutoyo
___________

Poel atau gigi yang mulai ompong sering dipandang sebagai tanda menurunnya usia dan kekuatan fisik. Tidak sedikit orang merasa minder ketika  satu per satu gigi mulai tanggal. Padahal dibalik itu semua tersimpan filosofi kehidupan yang sangat dalam.

Saat manusia masih muda, gigi lengkap, kuat, dan tajam. Hampir semua makanan bisa digigit tanpa pikir panjang. Nafsu makan besar, tenaga melimpah, keinginan pun sering tak terbendung. Dalam usia muda, manusia cenderung ingin mencoba semuanya, mengejar semuanya, bahkan kadang ingin menang dalam segala hal atau rakus tanpa batas.

Namun seiring dengan bertambahnya usia oleh Alloh perlahan dikurangi  “alat menggigit” itu. Gigi mulai goyah, tanggal, dan tidak lagi sekuat dulu. Seolah ada pesan halus bahwa hidup tidak selamanya tentang melahap dan menguasai.

Poel mengajarkan pengendalian diri.

Makanan yang keras mulai dihindari. Yang terlalu manis dikurangi. Porsi makan menjadi lebih terukur. Tanpa sadar, manusia dilatih hidup lebih bijak karena tubuh sudah tidak muda lagi. Organ dalam perlu dijaga, tenaga tidak lagi sama, dan kesehatan menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Tetapi filosofi poel tidak berhenti pada urusan fisik.

Dalam kehidupan sosial, poel juga bisa dimaknai sebagai proses pendewasaan jiwa. Ketika muda, mulut sering tajam. Mudah membantah, mudah menyindir, mudah menyakiti. Tetapi saat usia semakin matang, seharusnya manusia mulai belajar bahwa tidak semua hal perlu “digigit”.

Kadang diam lebih bijaksana.
Kadang mengalah lebih mulia.
Kadang memaafkan lebih menenangkan.

Menariknya, dalam tradisi kurban dikenal istilah hewan yang sudah “poel” sebagai tanda telah cukup umur dan layak dijadikan hewan kurban. Ini menunjukkan bahwa poel bukan lambang kelemahan, melainkan tanda kematangan.

Begitu pula dengan manusia.

Semakin bertambah usia, semestinya semakin matang cara berpikirnya, semakin lembut tutur katanya, dan semakin luas rasa pengertiannya. Jika masa muda identik dengan ambisi, maka masa poel seharusnya identik dengan kebijaksanaan.

Karena hidup pada akhirnya bukan tentang seberapa kuat kita menggigit dunia, melainkan seberapa mampu kita menjaga hati agar tidak melukai orang lain.

Dan mungkin, ompong adalah cara sayang untuk Alloh mengurangi keganasan manusia, agar disisa usia yang ada, manusia lebih banyak bersyukur, lebih banyak menenangkan, dan lebih dekat kepada-Nya....wallohualam bishowab.

_________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum