Mengembalikan Marwah HKTI di Tengah Kegelisahan Petani
Mengembalikan Marwah HKTI di Tengah Kegelisahan Petani
Ditengah mahalnya biaya produksi, ketidakpastian cuaca, hingga lemahnya posisi tawar hasil panen, petani sesungguhnya tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga membutuhkan organisasi yang benar-benar hadir dan memperjuangkan suara mereka. Dititik itulah marwah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia atau HKTI kembali dipertanyakan: masihkah menjadi rumah besar bagi petani, atau sekedar nama besar yang perlahan menjauh dari denyut kehidupan kaum tani?
Hari ini petani sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga-harga hasil panen sering jatuh saat musim panen raya, pupuk kadang sulit diperoleh, biaya produksi terus meningkat, sementara perubahan iklim membuat musim semakin sulit ditebak. Disisi lain banyak generasi muda mulai meninggalkan dunia pertanian karena merasa sektor ini tidak lagi menjanjikan masa depan yang layak.
Dalam kondisi seperti itu HKTI seharusnya hadir bukan hanya saat bermusyawarah, pelantikan, atau rapat kerja. Organisasi tani harus benar-benar hidup ditengah persoalan nyata. Ia harus mampu menjadi jembatan antara petani dengan pemerintah, antara kebutuhan lapangan dengan kebijakan, serta antara harapan petani dengan masa depan pertanian Indonesia.
Kedekatan dengan pemerintah tentu penting agar perjuangan petani memiliki akses dan jalan komunikasi yang baik. Namun kedekatan itu jangan sampai membuat organisasi ini kehilangan keberanian untuk menyampaikan suara petani. Ketika ada kebijakan yang memberatkan, HKTI harus tetap mampu berbicara dengan santun namun tegas. Sebab petani membutuhkan pembela, bukan sekadar penonton yang ikut ramai dibelakang kekuasaan.
Lebih dari itu HKTI juga harus menjadi ruang pemberdayaan. Organisasi ini perlu hadir melalui pendampingan nyata: memperkuat kelembagaan kelompok tani, membuka akses pasar, mendorong hilirisasi produk pertanian, mengenalkan teknologi yang tepat guna, hingga menumbuhkan semangat pertanian regeneratif dan keterlibatan petani muda.
Momentum bersatunya kembali dualisme kepengurusan di tingkat pusat sebenarnya menjadi peluang besar untuk mengembalikan marwah organisasi. Energi jangan lagi habis untuk konflik internal atau perebutan pengaruh. Sudah saatnya fokus diarahkan kepada sawah yang membutuhkan solusi, kepada petani yang membutuhkan pendampingan, dan kepada desa-desa yang ingin tetap hidup dari sektor pertanian.
Pada akhirnya organisasi tani akan dihormati bukan karena megahnya struktur atau ramainya seremoni, melainkan karena manfaat yang benar-benar dirasakan oleh petani. HKTI akan tetap besar apabila denyut nadinya tetap menyatu dengan denyut kehidupan rakyat tani.
Karena marwah organisasi sejatinya tidak lahir dari podium, melainkan tumbuh dari lumpur sawah, keringat petani, dan keberanian untuk tetap berdiri bersama mereka di masa-masa sulit.
__________________

Komentar
Posting Komentar