Kelelahan Informasi di Dunia Pertanian: Ketika Grup WA Menggantikan Ruang Belajar
Kelelahan Informasi di Dunia Pertanian: Ketika Grup WA Menggantikan Ruang Belajar
Oleh : Sutoyo
______________
Dulu persoalan utama petani adalah keterbatasan informasi. Hari ini, masalahnya berubah 180 derajat petani justru tenggelam dalam limpahan informasi. Setiap hari grup WhatsApp pertanian dipenuhi:
- edaran,
- instruksi,
- video pendek,
- tautan berita,
- himbauan,
- laporan kegiatan,
- hingga pesan berantai yang datang tanpa jeda.
Informasi bergerak sangat cepat. Tetapi pemahaman tidak selalu ikut bergerak. Dititik inilah dunia pertanian mulai mengalami sesuatu yang jarang dibicarakan: information fatigue atau kelelahan informasi.
Istilah ini pertama kali banyak dibahas oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970), ketika manusia mulai mengalami tekanan yang hebat akibat dari perubahan dan arus informasi yang terlalu cepat. Fenomena itu kini terasa nyata di dunia pertanian digital Indonesia.
Satu pesan belum selesai dipahami, pesan lain sudah masuk. Satu persoalan di sawah belum selesai dibahas, grup sudah pindah ke isu berikutnya. Akhirnya banyak informasi hanya berhenti sebagai notifikasi: dibaca sekilas, discroll cepat, lalu hilang. Padahal pengetahuan pertanian tidak tumbuh dari kecepatan menerima pesan, tetapi dari proses memahami, mendiskusikan, mencoba, gagal, lalu memperbaiki.
Ironisnya, era digital justru sering membuat komunikasi pertanian kembali menjadi satu arah.
- Pemerintah berbicara.
- Penyuluh meneruskan.
- Petani menerima.
Penelitian komunikasi pembangunan pertanian menunjukkan bahwa model komunikasi satu arah memiliki keterbatasan karena petani hanya diposisikan sebagai penerima pesan, bukan subjek pembelajaran. Dalam jangka panjang, pola seperti ini membuat partisipasi petani melemah dan akibatnya proses belajar menjadi dangkal.
Disinilah menariknya membandingkan situasi sekarang dengan Kelompencapir di masa lalu. Banyak orang mengingat Kelompencapir hanya sebagai program komunikasi diera Orde Baru. Namun dibalik segala kekurangannya, program itu memiliki satu kekuatan penting yakni ruang dialog.Petani berkumpul, mendengar, bertanya, berdebat. dan menceritakan pengalaman gagal panen. Lalu saling belajar dari pengalaman nyata.Informasi tidak berhenti sebagai “kiriman”, tetapi diolah menjadi pengetahuan sosial.
Sementara diera grup WhatsApp hari ini, komunikasi sering berubah menjadi budaya “forward”. PPL yang dulu hadir sebagai pendamping lapangan, perlahan terseret menjadi admin grup: mengirim informasi, meneruskan instruksi, mengingatkan laporan, dan memastikan pesan sudah terbaca.
Bahkan penelitian tentang literasi digital penyuluh menunjukkan bahwa derasnya arus informasi digital membuat penyuluh sendiri harus memiliki kemampuan memilah informasi yang valid, relevan, dan sesuai kebutuhan petani. Artinya, bukan hanya petani yang kelelahan. Penyuluh pun mulai mengalami tekanan yang sama.
Situasi menjadi semakin rumit karena media digital memiliki logika berbeda dengan proses belajar pertanian. Algoritma media sosial menyukai:
- informasi cepat,
- judul sensasional,
- video singkat,
- hasil instan,
- dan klaim sederhana.
Padahal pertanian adalah dunia yang kompleks.
Tidak semua pupuk cocok disetiap tanah/lahan. Tidak semua teknologi berhasil disemua musim. Tidak semua video viral dapat diterapkan disetiap sawah. Akibatnya, ruang digital pertanian sering dipenuhi oleh informasi yang dangkal tetapi terasa meyakinkan.
Di sisi lain, penelitian tentang pemanfaatan WhatsApp dalam penyuluhan menunjukkan media digital sebenarnya bisa menjadi ruang belajar yang efektif apabila digunakan secara dialogis dan berbasis kebutuhan nyata bagi petani. Grup WA dapat memperkuat diskusi, pertukaran pengalaman, hingga pembelajaran horizontal antarpetani.
Jadi masalah utamanya bukan pada teknologinya. Tetapi masalah muncul ketika komunikasi digital hanya dipakai sebagai saluran distribusi informasi, bukan ruang pembelajaran. Karena banjir informasi/penderasan informasi tanpa pendampingan pada akhirnya hanya akan melahirkan kebisingan belaka. Dan kebisingan yang berlangsung terus-menerus akan melahirkan kelelahan.
Petani menjadi malas membaca tulisan yang panjang kali lebar. Grup menjadi pasif. Informasi yang penting bisa jadi malah tenggelam. Diskusi berubah menjadi formalitas. Lalu perlahan semua orang hanya hadir sebagai angka dalam grup, bukan sebagai manusia yang benar-benar belajar.
Kita mungkin sedang memasuki zaman ketika pertanian tidak lagi kekurangan informasi. Yang justru hilang adalah:
- perhatian,
- kedalaman,
- dan ruang berpikir bersama.
Karena pengetahuan sejati tidak lahir dari banyaknya pesan yang masuk ke telepon genggam, tetapi dari kemampuan manusia memahami makna di balik informasi itu.
Mungkin sudah waktunya dunia penyuluhan berhenti sekadar membanjiri petani dengan informasi. Yang lebih penting adalah mengembalikan ruh komunikasi pertanian: mendengar, berdialog, dan belajar bersama.
Sebab teknologi boleh semakin canggih, tetapi petani tetap manusia, bukan mesin penerima notifikasi......wallohualam bishowab.
________________
.jpg)
Komentar
Posting Komentar