HKTI dan Tantangan Mengubah Aset Mangkrak Menjadi Mesin Ekonomi



HKTI dan Tantangan Mengubah Aset Mangkrak Menjadi Mesin Ekonomi

Oleh : Sutoyo
________________

Pertanyaan Wakil Bupati Purworejo tentang bagaimana cara menaikkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) sesungguhnya bukan sekedar pertanyaan fiskal, tetapi pertanyaan tentang arah pembangunan daerah. Sebab PAD tidak lahir dari ruang kosong. PAD tumbuh justru ketika ekonomi daerah itu hidup, usaha rakyat bergerak, dan aset daerah mampu menghasilkan nilai tambah.

Ditengah kegelisahan itu, publik tentu bertanya: mengapa masih banyak aset daerah yang belum dikelola secara optimal, bahkan cenderung mangkrak? Ada kandang sapi di Sumberejo dan Gunung Tugel yang belum benar-benar menjadi pusat ekonomi peternakan. Ada pula gedung resi gudang di Kutoarjo yang seharusnya bisa menjadi simpul perdagangan dan logistik pertanian, namun belum menunjukkan denyut ekonomi yang kuat.

Persoalannya sering kali bukan pada kondisi bangunannya. Bangunan bisa saja berdiri megah. Tetapi apabila tanpa adanya ekosistem usaha, tanpa adanya operator yang profesional, tanpa ada pasar yang jelas, dan tanpa keberpihakan pada ekonomi rakyat, maka pada akhirnya aset-aset hanya akan menjadi monumen proyek.

Disinilah seharusnya HKTI mengambil posisi yang strategis. HKTI jangan hanya hadir saat seremoni pertanian atau menjadi penonton ketika muncul persoalan. HKTI perlu tampil sebagai mitra pemikiran pemerintah daerah sekaligus penghubung antara kepentingan petani, dunia usaha, dan kebijakan publik.

HKTI dapat mendorong perubahan cara pandang bahwa aset pertanian dan peternakan jangan diperlakukan sekedar bangunan fisik, tetapi sebagai mesin ekonomi yang harus hidup. Kandang sapi misalnya, tidak cukup hanya menjadi tempat ternak. Ia harus terhubung dengan pengadaan bibit, pakan, pengolahan limbah, kemitraan pasar, hingga pelatihan peternak-peternak muda. Begitu pula dengan resi gudang, jangan hanya menjadi gedung penyimpanan, tetapi harus dapat berkembang menjadi pusat logistik, perdagangan komoditas, rumah kemas, bahkan distribusi pangan.

Purworejo sebenarnya memiliki kekuatan besar disektor pertanian. Namun selama ini sebagian besar hasil pertanian masih dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah justru dinikmati oleh daerah lain. Inilah sebabnya hilirisasi menjadi penting. Ketika gabah hanya dijual sebagai gabah, maka keuntungan petani kecil dan PAD pun terbatas. Tetapi ketika ada pengolahan, branding, distribusi, dan perdagangan, maka perputaran ekonomi akan meningkat.

Karena itu menaikkan PAD semestinya tidak semata-mata dipahami sebagai menaikkan pajak atau retribusi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menghidupkan ekonomi produktif masyarakat. Ketika petani untung, UMKM tumbuh, perdagangan bergerak, dan aset daerah produktif, maka PAD akan naik dengan sendirinya.

HKTI Purworejo memiliki peluang untuk mengambil peran itu: menjadi penggerak gagasan, pendamping masyarakat, sekaligus mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal. Sebab tantangan terbesar hari ini bukan lagi sekedar membangun fasilitas, melainkan bagaimana menghidupkan yang sudah terbangun agar benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.....wallohualam bishowab.

_________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum