Ngopi Dulu, Dunia Nanti
Ngopi Dulu, Dunia Nanti
Oleh : Sutoyo
______________
Karena pagi itu butuh tenang, bukan tegang. Pagi tidak selalu harus dimulai dengan terburu-buru.
Ada yang memilih duduk sebentar, menatap hitamnya kopi di dalam gelas, sambil membiarkan dunia menunggu. Bukan karena malas, tetapi karena sadar bahwa tidak semua hal harus dikejar sejak mata baru terbuka. Teradang yang dibutuhkan hanya satu "0ketenangan".
Di meja warung kopi yang sederhana, pagi justru terasa lebih jujur. Tidak ada tuntutan untuk tampil hebat, tidak ada tekanan untuk segera berlari. Hanya ada secangkir kopi, mungkin sebatang rokok, dan waktu yang berjalan pelan. Disitulah hidup seperti ditarik sedikit dengan rem, dikasih ruang untuk bernapas.
Aneh memang. Dari tempat sesederhana itu, obrolan bisa meluas kemana-mana. Dari harga cabai, naik ke politik negara. Dari cerita tetangga, melompat ke urusan dunia. Seolah-olah meja kecil itu adalah panggung besar tempat siapa saja bebas berbicara tanpa harus punya jabatan. Tidak harus sarjana, tidak perlu gelar panjang. Cukup duduk, dengar, lalu ikut nimbrung.
Dan yang lebih menarik disini orang-orang seringkali lebih jujur. Tanpa skrip, tanpa pencitraan. Mengalir begitu saja apa adanya. Mungkin karena mereka tahu bahw yang dihadapi bukan layar, tetapi sesama manusia yang juga sedang mencari jeda.
Kopi di tangan bukan sekadar minuman. Ia jadi semacam penanda: bahwa pagi ini tidak harus keras. Bahwa hidup tidak selalu soal kejar-kejaran. Ada momen dimana kita boleh berhenti sebentar, menyusun ulang pikiran, sebelum kembali menghadapi riuhnya dunia.
Sebab dunia, cepat atau lambat, pasti datang juga. Dengan segala urusannya, tuntutannya, dan kadang keribetannya. Tetapi orang yang sudah “menyapa pagi” dengan tenang, biasanya lebih siap. Tidak mudah panik dan tidak gampang terseret.
Maka mungkin benar adany bahwa bukan dunia yang harus kita kejar sejak awal hari, tetapi diri kita sendirilah yang perlu disiapkan lebih dahulu.
Dan kalau secangkir kopi bisa membantu menenangkan itu semua, kenapa harus buru-buru?
Ngopi dulu.
Dunia nanti.
_________________

Komentar
Posting Komentar