Kenapa Orang Lebih Percaya Cerita daripada Berita?

Kenapa Orang Lebih Percaya Cerita daripada Berita?


Oleh : Sutoyo

_________________

Coba perhatikan keseharian kita. Di grup WhatsApp berapa banyak informasi yang kita terima setiap hari? Mulai dari kabar kesehatan, isu politik, sampai dengan cerita “katanya ada kejadian di kampung sebelah”. Anehnya, tidak semua itu berasal dari sumber yang jelas, tetapi tetap saja cepat dipercaya dan dibagikan.

Disinilah kita sedang hidup disatu fenomena besar: pergeseran dari sehuah berita ke sebuah cerita.

Berita seharusnya berdiri di atas fakta. Ia menjawab pertanyaan dasar: apa yang terjadi, kapan, di mana, dan bagaimana. Namun diera sekarang, berita seringkali kalah cepat dan kalah menarik dibanding dengan cerita. Kenapa? Karena cerita tidak hanya memberi tahu—ia menyentuh.

Cerita bekerja lewat emosi. Ia bisa membuat kita marah, takut, atau haru hanya dalam hitungan detik. Bandingkan dengan berita yang cenderung datar dan kaku. Di platform seperti TikTok atau Facebook, konten yang emosional jauh lebih mudah viral daripada yang sekadar informatif.

Masalahnya ketika emosi sudah berbicara maka logika sering kali mundur ke belakang.

Memang tidak semua cerita itu salah. Bahkan, cerita adalah cara paling kuat untuk menyampaikan kebenaran. Kisah perjuangan, pengalaman hidup, atau inspirasi—semua itu bisa membuka mata dan hati kita. Tetapi disisi lain  cerita juga bisa menjadi kendaraan yang sangat efektif untuk menyebarkan hoaks.

Hoaks jarang datang dalam bentuk data. Ia datang dalam bentuk cerita yang meyakinkan.

“Teman saya mengalami…” “Katanya ini sudah terbukti…” “Ada kejadian nyata di suatu tempat…”

Kalimat-kalimat seperti itu terasa dekat dan nyata, padahal belum tentu benar. Karena terasa “masuk akal” dan “menyentuh”, kita sering langsung percaya—bahkan tanpa sadar ikut pula menyebarkannya.

Inilah titik bahayanya: bukan pada ceritanya, tapi pada hilangnya verifikasi.

Kita hidup dizaman dimana setiap orang bisa menjadi penyampai informasi. Tetapi sayangnya, tidak semua orang menjadi penyaring kebenaran. Akibatnya yang viral belum tentu yang benar—yang menyentuh belum tentu yang fakta.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Sederhana, tapi tidak mudah: menahan diri.

Saat menerima sebuah cerita yang terasa “wah”, jangan langsung percaya. Tanyakan pada diri sendiri: dari mana sumbernya? Bisa dibuktikan atau tidak? Ini fakta atau hanya opini yang dibungkus rapi?

Kesadaran kecil seperti ini adalah benteng utama kita ditengah derasnya arus informasi.

Pada akhirny kita tidak bisa menolak cerita—karena manusia memang hidup dari cerita. Tapi kita bisa memilih: menjadi orang yang sekadar terbawa cerita, atau yang tetap berpijak pada kebenaran.

Karena di akhir zaman ini, yang paling berbahaya bukanlah kurangnya informasi—melainkan terlalu mudahnya kita percaya pada apa yang terasa benar, tanpa memastikan apakah itu benar adanya ......wallohualam bishowab.

__________________


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum