Jangan Salahkan PPL dan POPT

 


Jangan Salahkan PPL dan POPT


Oleh : Sutoyo

___________

Pelatihan demi pelatihan sudah dilakukan. Dari cara membuat pupuk organik, meramu agens hayati, sampai dengan praktik pertanian ramah lingkungan—semuanya pernah diajarkan. Tidak hanya sekali dua kali, tapi sudah berjalan bertahun-tahun. Dibalik semua itu, ada PPL dan POPT yang senantiasa setia mendampingi untuk datang ke sawah, berdiskusi di pematang, bahkan ikut memikirkan solusi saat petani menghadapi masalah. Namun kenyataan di lapangan sering berkata lain. Banyak petani tetap kembali ke pupuk kimia dan pestisida sintetis.

Dititik inilah pertanyaan yang sering muncul adalah “Berarti penyuluhnya gagal?”. Jawaban itu terdengar spontan, tapi sayangnya terlalu dangkal.Sebab kalau kita mau sedikit lebih jujur melihat ke dalam, persoalannya tidak berhenti di lahan. 

Petani tidak hanya berhadapan dengan tanah dan tanaman, tetapi juga dengan harga, pasar, dan kebutuhan hidup yang tidak dapat ditunda. Ketika hasil pertanian organik tidak dihargai lebih baik, ketika dijual tetap disamakan dengan produk biasa, maka pilihan petani menjadi sangat rasional: kembali ke cara yang paling aman secara ekonomi. Disinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Kita terlalu sibuk memperbaiki cara bertani, tapi abai untuk memperbaiki sistem yang mengelilinginya.

PPL dan POPT sudah menjalankan tugas dan perannya dengan benar. Mereka menanam pengetahuan, membangun kesadaran, dan membuka jalan. Tetapi jalan itu sering berujung buntu, bukan karena mereka yang salah arah, melainkan karena tidak ada kelanjutan di hilirnya. Tidak ada jaminan harga, tidak ada pasar yang benar-benar siap, dan tidak pula ada perlindungan bagi petani yang berani beralih.

Apa yang terjadi kemudian adalah seperti ironi yang berulang. Disatu sisi, pertanian ramah lingkungan terus didorong melalui pelatihan. Disisi yang lain sistem yang ada justru masih memberi kenyamanan pada pola yang lama. Pupuk kimia tetap mudah diakses, hasilnya lebih cepat terlihat, dan yang paling penting bagi petani lebih pasti secara ekonomi.

Dalam situasi yang seperti itu, bertahan di jalur organik bukan hanya soal idealisme, tapi soal keberanian mengambil risiko. Dan tidak semua petani punya ruang untuk mengambil risiko itu. Maka ketika mereka kembali ke pola lama, itu bukan berarti mereka tidak belajar. Bukan juga karena penyuluh gagal mengajar. Itu adalah keputusan yang lahir dari realitas yang mereka hadapi setiap hari.

Karena itu menyalahkan PPL dan POPT bukan hanya tidak adil, tapi juga menyesatkan. Mereka bekerja di garis depan, sering dengan segala keterbatasan, di tengah sistem yang belum sepenuhnya berpihak. Oleh karena itu yang perlu kita benahi bukan semangat penyuluhnya, melainkan ekosistemnya. Selama harga tidak membedakan, pasar tidak memberikan ruang, dan risiko ditanggung sendiri oleh petani, maka perubahan yang diharapkan akan selalu tertahan di tengah jalan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti mencari kambing hitam, dan mulai berani mengakui bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada sekedar soal teknis di lapangan. Sebab pada akhirnya, yang gagal bukan orang-orang yang mengajarkan perubahan melainkan sistem yang belum memberi alasan kuat bagi perubahan itu untuk bertahan....wallohualam bishowab.

___________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum