Dipangkas Bukan untuk Kehilangan, Tapi untuk Menjadi Lebih Berkualitas
Dipangkas Bukan untuk Kehilangan, Tapi untuk Menjadi Lebih Berkualitas
Oļeh : Sutoyo
________________
Sebuah pohon mangga berdiri tenang setelah dipangkas. Cabang-cabangnya yang dulu rimbun kini telang hilang menyisakan bentuk yang lebih sederhana. Sekilas ia tampak seperti kehilangan sesuatu yang penting. Namun siapa sangka dari bekas potongan itulah justru muncul tunas-tunas baru yang ebih segar, lebih terarah, dan lebih hidup. Disitulah pelajaran sederhana tapi dalam tersembunyi.
Didalam kehidupan kita sering memandang “dipangkas” sebagai suatu kehilangan. Kehilangan kesempatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kenyamanan, bahkan mungkin kehilangan orang-orang yang pernah dekat. Kita mengira semua yang hilang adalah kemunduran. Padahal bisa jadi itu adalah proses seleksi alam kehidupan dan cara Tuhan merapikan apa yang terlalu rimbun namun tidak lagi produktif.
Seperti sebuah pohon yang tidak pernah dipruning, hidup yang dibiarkan tanpa evaluasi cenderung tumbuh liar. Banyak cabang tetapi tidak semua berbuah. Energi tersebar ke mana-mana tanpa fokus, tanpa arah. Hasilnya bukan kualitas, melainkan sekadar kepadatan.
Sebaliknya ketika “pemangkasan” terjadi ada rasa tidak nyaman. Ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa asing. Tetapi justru diruang itulah pertumbuhan baru menemukan tempatnya. Tunas-tunas yang muncul bukan sekadar pengganti, melainkan perbaikan sehingga lebih kuat, lebih sehat, dan lebih siap menghasilkan.
Proses ini memang tidak selalu mudah diterima. Butuh kedewasaan untuk memahami bahwa tidak semua yang hilang adalah kerugian. Terkadang itu adalah investasi. Teradang itu adalah cara hidup memaksa kita berhenti sejenak, menata ulang arah, dan memperbaiki kualitas diri.
Pohon mangga itu tidak protes saat dipangkas. Ia pun tidak menolak kehilangan cabangnya. Ia hanya fokus pada satu hal yaitu bertumbuh kembali, dengan cara yang lebih baik. Dan mungkin itu yang sering kita lupakan.
Bahwa hidup bukan tentang mempertahankan semua yang kita miliki, tetapi tentang berani melepaskan yang tidak lagi memberi nilai. Bahwa menjadi lebih berkualitas sering kali menuntut kita untuk rela “dipangkas” dari ego, dari kebiasaan buruk, dari zona nyaman yang diam-diam menghambat pertumbuhan.
Karena pada akhirnya, seperti pohon itu, kita tidak sedang kehilangan. Kita sedang dibentuk....wallohu alam bishowab.
__________________

Komentar
Posting Komentar