Tawaran yang Tidak Jujur
Episode 7 – Tawaran yang Tidak Jujur
Oleh : Sutoyo
__________________
Sore itu Amin Zaid sedang menggiring kambing-kambingnya pulang melewati jalan kecil di pinggir sawah. Matahari sudah mulai condong ke barat dan angin sore berhembus pelan membawa aroma khas tanah dan rumput.
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1003660411887452"
crossorigin="anonymous"></script>
Kambing-kambingnya berjalan beriringan di depannya. Karung rumput tergantung di bahunya, sementara sabitnya terselip di pinggang.
Ketika ia melewati sebuah tikungan jalan seorang lelaki dewasa yang tidak ia kenal berdiri di bawah pohon asem besar. Lelaki itu memperhatikan kambing-kambing Amin Zaid dengan tatapan yang sulit ditebak.
“Min… kambingmu bagus-bagus,” kata lelaki itu sambil mendekat.
Amin Zaid berhenti sebentar. Ia mengangguk sopan.
“Iya, Pak. Ini kambing titipan orang untuk digembala.”
Lelaki itu tersenyum tipis. Ia berjalan mengelilingi salah satu kambing yang paling gemuk.
“Kalau begitu, bagaimana kalau yang satu ini kamu jual saja ke saya?”
Sontak Amin Zaid terkejut.
“Maaf tidak bisa Pak. Ini bukan milik saya.”
Lelaki itu menurunkan suaranya, seolah membisikkan rahasia.
“Tidak apa-apa… pemiliknya kan tidak tahu...bilang saja kambingnya hilang atau dimakan serigala... Saya bayar sekarang ya.”
Ia lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan menunjukkannya.
“Lumayan untuk anak sepertimu.”
Amin Zaid diam sejenak. Matanya melihat uang itu. Jumlahnya cukup banyak untuk ukuran anak seusianya.
Namun di dalam hatinya muncul perasaan tidak nyaman.
Ia teringat kembali kisah yang sering ia dengar tentang Rasululloh Muhammad SAW—tentang sebuah kejujuran yang membuat beliau dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.
Amin Zaid lalu menggeleng pelan.
“Sekali lagi maaf, Pak. Saya tidak mau menjual.”
Lelaki itu pun mengangkat alisnya sambil berkata lebih lembut
“Kenapa? Toh tidak ada orang yang tahu.”
Amin Zaid menatap kambing-kambingnya sebentar, lalu menjawab dengan tenang,
“Mungkin orang tidak tahu…
tapi Allah Maha tahu.”
Beberapa detik kemudiannsuasana menjadi sunyi.
Lelaki itu terdiam. Wajahnya berubah sedikit. Ia lalu memasukkan kembali uangnya ke dalam saku.
“Hm… baiklah,” katanya singkat.
Amin Zaid tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya melanjutkan menuntun kambing-kambingnya berjalan kembali menuju rumah.
Langit sore semakin merah. Angin bertiup pelan di jalan desa.
Di dalam hati Amin Zaid ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Hari ini ia belajar satu hal penting bahwa
Kejujuran kadang diuji ketika kesempatan untuk berbuat salah justru datang dengan mudah.
(Bersambung)
_________________

Komentar
Posting Komentar