Senja dan Hati yang Diuji



Episode 3 – Senja dan Hati yang Diuji


Senja mulai turun ketika Amin Zaid menuntun kambing-kambingnya untuk pulang. Matahari sudah mulai mendekati ufuk barat, cahayanya kuning kemerahan dan lembut. Panas terik siang tadi telah pergi digantikan dengan semilir angin sore yang pelan menyentuh kulit.

Karung berisi rumput menggantung di pundaknya. Beratnya masih terasa, tapi tidak lagi memberatkan langkah. Di kejauhan, suara adzan magrib seperti sedang bersiap keluar dari menara masjid.

Di jalan setapak diatas tanggul kali, beberapa teman seusianya lewat sambil tertawa. Mereka baru saja selesai bermain. Ketika melihat Amin Zaid bersama kambing-kambingnya, salah satu dari mereka berseru,

“Min, kok belum pulang juga? Bau kambing tuh!”

Tawa kecil menyusul. Tidak keras. Tapi cukup untuk mengusik.

Langkah Amin Zaid melambat. Bukan karena lelah, tapi karena hatinya tersentuh. Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan bahwa kambing-kambing ini adalah amanah. Bahwa tidak semua anak punya waktu bermain sepanjang sore.

Namun ucapannya tertahan.

Di kepalanya terngiang cerita guru ngajinya tentang Rasululloh Muhammad SAW—tentang bagaimana beliau menahan diri meski dicela dan dibuly memilih diam demi menjaga akhlak.

“Ada diam yang lebih kuat dari seribu kata,” kata sang guru suatu malam.

Amin Zaid pum menarik napas perlahan.

Ia memilih melangkah lagi. Angin sore menyapu wajahnya. Hatinya ikut mendingin.

Sesampainya di tepi saluran irigasi, ia berhenti sebentar. Ia membasuh tangan dan wajahnya. Air irigasi terasa sejuk. Amarah kecil yang tadi sempat muncul ikut hanyut.

“Ya Allah,” doanya lirih,

“jagalah hatiku agar tidak keras.”

Adzan magrib akhirnya terdengar memecah senja. Amin Zaid menuntun kambing-kambingnya pulang. Langkahnya tenang. Ejekan tadi pun tertinggal jauh di belakang.

Hari itu ia belajar satu hal bahwa tidak semua luka perlu dibalas, sebagian cukup diserahkan kepada Allah.

Sabar & pengendalian diri

Akhlak diuji bukan saat lapang, tapi saat hati tersentuh.


(Bersambung)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum