Puasa: Ibadah Kuno yang Baru Dipahami Sains Modern
Puasa: Ibadah Kuno yang Baru Dipahami Sains Modern
Oleh ,: Sutoyo
________________
Sejak ribuan tahun lalu manusia telah mengenal puasa. Hampir semua tradisi besar di dunia mempraktikkannya—baik dalam Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, maupun Buddha. Dalam tradisi keagamaan puasa dipahami sebagai latihan spiritual untuk menahan diri, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun menariknya sains modern mulai menemukan bahwa praktik kuno ini ternyata menyimpan mekanisme biologis yang sangat kompleks di dalam tubuh manusia.
Beberapa dekade terakhir ini para ilmuwan dari bidang kedokteran, biologi sel, dan metabolisme mulai meneliti secara serius apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika manusia berpuasa. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan: puasa memicu berbagai proses adaptasi biologis yang justru berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh.
Salah satu perubahan paling mendasar adalah peralihan sumber energi tubuh. Ketika seseorang berhenti makan selama beberapa jam, maka tubuh akan terlebih dahulu menggunakan cadangan glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen di hati. Setelah cadangan ini menurun, tubuh mulai beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi melalui proses yang disebut sebagai metabolic switching. Penjelasan mengenai mekanisme ini dijelaskan secara luas oleh ahli gerontologi dari Mark P. Mattson dalam berbagai penelitian tentang puasa dan metabolisme yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah termasuk The New England Journal of Medicine.
Peralihan metabolisme ini menyebabkan tubuh menghasilkan molekul energi alternatif yang disebut keton, yang tidak hanya digunakan oleh otot tetapi juga oleh otak. Menurut penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada tahun 2019, produksi keton selama puasa dapat meningkatkan efisiensi energi sel dan membantu melindungi jaringan saraf.
Lebih jauh lagi puasa juga dapat memicu proses biologis yang dikenal sebagai autophagy, yaitu mekanisme di mana sel membersihkan dan mendaur ulang komponen yang rusak. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “memakan diri sendiri,” namun dalam konteks biologi ia merujuk pada proses peremajaan sel. Pentingnya autophagy dalam kesehatan manusia dibuktikan oleh penelitian Yoshinori Ohsumi yang meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine 2016 atas penemuannya mengenai mekanisme tersebut.
Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kondisi kekurangan energi—seperti saat puasa—dapat merangsang autophagy sehingga sel-sel tubuh lebih efektif membuang protein yang rusak dan komponen yang tidak lagi berfungsi.
Puasa juga memiliki dampak penting terhadap metabolisme gula dan hormon insulin. Ketika seseorang makan terus-menerus sepanjang hari maka kadar insulin dalam tubuh cenderung tinggi. Puasa memberi kesempatan bagi tubuh untuk menurunkan kadar insulin tersebut sehingga sel-sel menjadi lebih sensitif terhadap hormon ini. Menurut laporan penelitian yang dipublikasikan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, pola puasa tertentu dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan risiko Type 2 Diabetes pada sebagian individu.
Manfaat lain yang juga sering dikaji adalah kaitan antara puasa dengan kesehatan jantung. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah, kadar kolesterol LDL, serta peradangan kronis. Laporan penelitian dari American Heart Association menyebutkan bahwa pola makan berbasis waktu (time-restricted feeding) yang menyerupai puasa dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan metabolik dan jantung.
Selain itu puasa juga dapat memengaruhi sistem hormonal tubuh. Dalam kondisi puasa kadar human growth hormone (HGH) dapat meningkat untuk membantu mempertahankan massa otot sekaligus memanfaatkan cadangan lemak sebagai energi. Mekanisme ini menjelaskan mengapa tubuh tetap mampu mempertahankan fungsi fisiologis meskipun asupan makanan berkurang untuk sementara waktu.
Selanjutnya fari sudut pandang fisiologi, puasa juga memberikan fase istirahat metabolik bagi sistem pencernaan. Organ-organ seperti hati, pankreas, dan saluran pencernaan tidak terus-menerus bekerja mencerna makanan. Selama periode tersebut tubuh dapat memfokuskan energi pada proses pemeliharaan dan perbaikan jaringan.
Menariknya semua temuan ilmiah ini muncul jauh setelah praktik puasa berkembang dalam tradisi spiritual manusia. Agama telah mengajarkan puasa selama ribuan tahun, sementara sains baru mulai menguraikan mekanisme biologisnya dalam beberapa dekade terakhir. Dalam konteks ini puasa menjadi contoh menarik bagaimana praktik budaya dan spiritual kuno ternyata memiliki dasar fisiologis yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern.
Namun para ilmuwan juga mengingatkan bahwa puasa bukanlah solusi universal bagi semua orang. Kondisi kesehatan, usia, dan kebutuhan metabolik masing-masing individu tetap harus diperhatikan. Beberapa kelompok seperti penderita penyakit tertentu, ibu hamil, atau orang dengan gangguan metabolisme memerlukan pertimbangan medis sebelum menjalankan pola puasa tertentu.
Pada akhirnya, puasa memperlihatkan sebuah ironi ilmiah yang menarik: praktik yang dulu dianggap sekadar ritual spiritual ternyata memiliki efek biologis yang kompleks dan bermanfaat bagi tubuh manusia. Apa yang dahulu diwariskan oleh tradisi, kini mulai dipahami oleh laboratorium.
Dengan kata lain, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah dialog panjang antara spiritualitas manusia dan biologi tubuh, sebuah praktik kuno yang pelan-pelan sedang dibaca ulang oleh sains modern.
_________________

Komentar
Posting Komentar