“Poso Karepmo, Ora Poso Yo Karemu”
“Poso Karepmo, Ora Poso Yo Karemu”
Kalimat Santai Orang Jawa yang Diam-Diam Menampar Kesadaran Kita Saat Ramadan
Oleh : Sutoyo
_________________
Ramadan selalu datang dengan suasana yang khas. Masjid lebih ramai dari biasanya, suara tadarus juga terdengar dari berbagai penjuru, dan warung makan siang hari tiba-tiba menjadi lebih sepi. Namun ditengah suasana seperti itu ada satu kalimat sederhana yang sering terdengar di kampung-kampung Jawa:
“Poso karepmo, ora poso yo karemu.”
Kalimat itu terdengar santai bahkan seperti candaan saja. Artinya pun sederhana: “Puasa terserah kamu, tidak puasa juga terserah kamu.”
Namun jangan salah dibalik kalimat yang terdengar ringan itu tersembunyi tamparan kesadaran yang cukup keras. Ia seperti senyum tipis yang menyimpan pesan mendalam tentang iman, tanggung jawab, dan kejujuran manusia terhadap dirinya sendiri.
Teguran Halus Khas Orang Jawa
Budaya Jawa memiliki cara yang unik didalam menegur. Tidak frontal, tidak keras, tetapi halus dan penuh dengan sindiran bermakna.
Alih-alih berkata, “Kamu wajib puasa!” dengan nada tinggi, orang tua di kampung sering justru berkata:
“Poso karepmo, ora poso yo karemu.”
Sepintas terdengar seperti membiarkan. Tetapi sebenarnya ini adalah cara elegan untuk menyentil tanpa mempermalukan.
Dalam filosofi Jawa, teguran yang terlalu keras justru bisa membuat orang menutup diri. Sebaliknya sindiran halus sering kali membuat seseorang merenung lebih dalam. Kalimat itu seolah berkata tanpa menghakimi. Silakan kamu memilih. Tapi ingat, pilihan itu mencerminkan siapa dirimu.
Ibadah Bukan Sekadar Rutinitas Sosial
Puasa sering kali dipandang sebagai ibadah rutinitas tahunan saja. Banyak orang menjalaninya karena lingkungan sekitar juga melakukannya.
Namun sejatinya puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus. Ia adalah latihan spiritual untuk mengendalikan diri, menajamkan empati, dan mendekatkan hati kepada Tuhan.
Jika seseorang berpuasa hanya karena takut dipandang buruk oleh tetangga atau sekadar mengikuti arus sosial, maka puasa itu dipastikan akan kehilangan ruhnya.
Di titik inilah kalimat “poso karepmo, ora poso yo karemu” terasa seperti cermin yang memantulkan pertanyaan kepada diri sendiri:
Apakah kita berpuasa karena kesadaran iman, atau hanya karena tekanan sosial?
Kebebasan yang Selalu Datang Bersama Konsekuensi
Manusia memang diberikan kebebasan untuk memilih. Mau menjalankan kewajiban atau mengabaikannya, semua itu adalah keputusan pribadi.
Namun kebebasan tidak pernah benar-benar gratis.
Setiap pilihan selalu membawa konsekuensi, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam dimensi spiritual yang lebih dalam.
Kalimat sederhana dari kampung itu sebenarnya mengandung pengingat yang penting bahwa tanggung jawab iman tidak dapat diserahkan kepada orang lain. Ia selalu kembali kepada diri kita sendiri.
Cermin Kejujuran Iman
Dalam keramaian Ramadan ada satu hal yang sering terlupakan yakni kejujuran iman. Seseorang bisa saja terlihat sangat religius di depan orang lain. Tetapi dalam kesendirian, hanya dirinya dan Tuhanlah yang benar-benar tahu kualitas ibadahnya.
Kalimat “poso karepmo, ora poso yo karemu” seperti membuka ruang refleksi yang jujur:
Apakah kita beribadah karena Tuhan?
Atau karena ingin terlihat baik di mata manusia?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya sering kali tidak mudah.
Kearifan Kampung yang Sering Diremehkan
Sering kali kita juga menganggap ungkapan-ungkapan sederhana dari kampung sebagai kata-kata biasa. Padahal didalamnya tersimpan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup yang panjang.
Kalimat itu adalah contoh bagaimana masyarakat Jawa mendidik tanpa memaksa, menegur tanpa menghakimi, dan mengingatkan tanpa mempermalukan. Dizaman sekarang ini ketika orang begitu mudahnya saling menghakimi di media sosial, cara seperti ini terasa semakin langka.
Sebuah Kalimat yang Mengajak Berkaca
Pada akhirnya, kalimat “poso karepmo, ora poso yo karemu” bukan sekadar ucapan santai.
Ia adalah ajakan untuk berkaca pada diri sendiri.
Karena dalam urusan iman, tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan kita. Tidak ada orang lain yang bisa memikul tanggung jawab spiritual kita.
Puasa boleh terlihat sebagai ritual bersama, tetapi pada akhirnya ia tetap menjadi dialog sunyi antara manusia dengan Tuhannya.
Dan mungkin disitulah letak pelajaran terbesarnya:
Ibadah yang paling bernilai bukanlah yang dipaksakan oleh lingkungan, melainkan yang tumbuh dari kesadaran hati. ....wallohualam bishowab🌙
__________________
.jpg)
Komentar
Posting Komentar