Ketika Satu Kambing Tidak Kembali

 Episode 6 – Ketika Satu Kambing Tidak Kembali


Sore mulai turun perlahan. Langit yang tadi terang kini berubah menjadi jingga keemasan. Amin Zaid berdiri di tengah padang sambil memperhatikan kambing-kambingnya yang mulai berkumpul.

Seperti biasa, sebelum pulang ia selalu menghitung kambing satu per satu.

“Satu… dua… tiga… empat…”

Ia berhenti.. Alisnya berkerut. Amin Zaid menghitung lagi.

“Satu… dua… tiga… empat…”

Dadanya tiba-tiba terasa tidak enak Seharusnya lima. Ia berdiri lebih tegak, memandang ke seluruh padang. Angin sore berhembus melewati rumput kering, tapi tidak ada tanda-tanda kambing yang hilang.

“Aduh… ke mana satu lagi?”

Ia segera berjalan menyusuri area tempat kambing tadi makan. Matanya menyapu setiap semak, setiap cekungan tanah. Namun kambing itu tidak terlihat.

Langkah Amin Zaid semakin cepat. Ia mulai memanggil pelan.

“Embek… embek…”

Tetap tidak ada jawaban.

Matahari makin rendah. Bayangan pepohonan mulai memanjang. Hatinya mulai gelisah. Jika kambing itu benar-benar hilang, ia tahu ini adalah tanggung jawabnya.

Ia berhenti sejenak, menenangkan napasnya.

Didalam hatinya ia teringat kisah yang sering ia dengar tentang Rasululloh Muhammad SAW, yang juga pernah menggembala kambing saat muda. Gembala yang baik, kata gurunya, tidak pulang sebelum semua yang dijaga kembali dengan selamat.

Amin Zaid mengepalkan tangannya.

“Tidak boleh pulang sebelum ketemu,” katanya pada dirinya sendiri.

Ia lalu mengikat sementara kambing-kambing yang lain di dekat pohon kecil, agar tidak ikut berpencar. Setelah itu ia berjalan lebih jauh ke arah padang yang sedikit berbatu.

Langkahnya cepat, matanya waspada, telinganya mendengarkan setiap suara kecil.

Tiba-tiba…

Dari balik semak terdengar suara pelan.

“Embek…”

Amin Zaid langsung menoleh.

Di balik semak itu, seekor kambing kecil tampak terjebak di antara ranting dan batu. Kakinya tersangkut sehingga tidak bisa keluar.

“Astaghfirullah… di sini rupanya!”

Amin Zaid segera mendekat, menyingkirkan ranting-ranting yang menghalangi. Dengan hati-hati ia membebaskan kaki kambing itu.

Kambing itu berdiri kembali dan mengibaskan tubuhnya.

Amin Zaid menghela napas panjang. Rasa lega memenuhi dadanya. Ia menepuk pelan punggung kambing itu.

“Jangan jauh-jauh lagi, ya.”

Langit kini mulai berubah lebih gelap. Amin Zaid menggiring semua kambingnya pulang.

Langkahnya masih lelah, tapi hatinya terasa ringan.

Hari ini ia belajar satu hal penting. Bahwa tanggung jawab bukan hanya menjaga yang mudah dijaga, tetapi juga mencari yang hilang sampai ditemukan.

Orang yang amanah tidak meninggalkan tanggung jawabnya, bahkan ketika itu membuatnya harus berjalan lebih jauh.


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum