Ketika Rumput Tak Sepenuh Harapan

 Episode 4 – Ketika Rumput Tak Sepenuh Harapan


Malam telah benar-benar turun ketika Amin Zaid menutup pintu kandang. Lampu minyak kecil di sudut halaman menyala redup, menerangi karung rumput yang isinya tak sepenuh biasanya.Ia berdiri sejenak. Menimbang. Menghitung dengan mata dan perasaan. Rumput hari ini memang tidak banyak. Bukan karena malas, tapi karena sepanjang sore ia hanya sempat ngarit di satu sisi tanggul. Waktu tidak panjang. Sekolah lebih lama dari biasanya.

Ibunya mendekat tanpa banyak tanya. Ia tahu rutinitas anaknya: pulang sekolah, berganti baju, lalu menggembala kambing sekalian ngarit.  Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya—hanya tatapan yang menguatkan.

Amin Zaid membuka karung itu. Dengan hati-hati ia membagi rumput. Tidak boros, tidak juga menahan berlebihan. Setiap kambing mendapat jatah, meski tidak banyak.

Di dalam hatinya, ia teringat kisah Rasululloh Muhammad SAW yang sering diceritakan guru ngajinya—tentang menggembala kambing bukan hanya soal tenaga, tapi soal amanah dan kesabaran.

“Allah melihat usaha,” begitu pesan yang selalu ia ingat,

“bukan seberapa penuh hasilnya.”

Amin Zaid lalu duduk di samping kandang. Ia menengadahkan tangan.

“Ya Allah, aku sudah berusaha semampuku hari ini. Jika ini belum cukup, jadikan aku anak yang tetap jujur dan bertanggung jawab.”

Angin malam bergerak pelan. Kambing-kambing mulai tenang. Suara kunyahan terdengar perlahan, teratur, seolah mengiyakan doa kecil itu.

Amin Zaid tersenyum. Ia paham, hari ini ia tidak1 belajar tentang kelimpahan, tapi tentang menerima keterbatasan tanpa mengeluh.

Besok, sepulang sekolah, ia akan berusaha lagi. Bukan karena terpaksa, tapi karena amanah memang tidak mengenal kata cukup sekali.

Ikhtiar dalam keterbatasan & tanggung jawab. Dan bekerja setelah sekolah adalah bagian dari kesungguhan, bukan kekurangan.


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum