Ketika Lelah Menguji Niat

 


Episode 5 – Ketika Lelah Menguji Niat


Hari itu Amin Zaid pulang sekolah dengan langkah yang  lebih lambat dari biasanya. Tasnya terasa berat, bukan hanya oleh buku, tapi oleh tubuh yang lelah. Pelajaran siang tadi cukup panjang, panas, dan menuntut fokus.

Namun seperti biasa ia menuju rumah hanya sebentar  mengganti baju, lalu mengambil arit dan karung. Kambing-kambing sudah menunggu.

Sore itu angin tidak banyak membantu. Rumput di tanggul kali lebih jarang. Amin Zaid harus melangkah lebih jauhz menebas lebih pelan, mengumpulkan sedikit demi sedikit. Tangannya  pegal. Bahunya terasa pun kaku.

Disatu titik ia berhenti.

Ia duduk di atas tanah, memandangi karung yang belum juga penuh rumput. Dalam hatinya muncul bisikan kecil,

“Cukup segini saja. Besok kan masih ada.”

Bisikan itu terasa ringan. Menggoda.

Namun ingatannya melayang pada kisah Rasululloh Muhammad SAW yang sering ia dengar dari guru ngajinya—tentang bekerja bukan karena ingin supaya dilihat orang, tapi karena Allah mengetahui niat terdalam.

“Allah tidak menilai seberapa berat pekerjaanmu,” kata sang guru,

“tapi seberapa jujur niatmu saat lelah.”

Amin Zaid menunduk. Ia menggenggam aritnya kembali.

Ia berdiri.

Bukan dengan semangat yang meledak-ledak, tapi dengan kesadaran. Ia tahu tubuhnya lelah, tapi ia juga tahu amanah tidak berhenti karena lelah. Ia melanjutkan ngarit, pelan tapi pasti.

Karung itu akhirnya tidak penuh. Tapi cukup. Cukup untuk hari ini.

Saat itu ia melihat kambing-kambingnya tampak tenang. Amin Zaid menatap mereka sambil tersenyum tipis. Ia sadar, hari ini ia belajar sesuatu yang tidak tertulis di buku sekolah mana pun.

Bahwa niat sering diuji bukan oleh kesulitan besar,melainkan oleh rasa ingin berhenti lebih cepat.

Dan sore itu, Amin Zaid pulang dengan tubuh letih, tapi hati yang menjaga niat di saat lelah

Berhenti boleh, menyerah jangan.


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum