Jejak Pejuang Pangan
Jejak Pejuang Pangan
Oleh : Sutoyo
________________
Kabut pagi tampak masih menggantung di lereng pegunungan ketika langkah-langkah para petani mulai menapaki pematang sawah. Di lhadapan mereka terbentang petak-petak sawah terasering yang berundak mengikuti kontur gunung, seperti tangga panjang yang dibuat oleh manusia untuk menaklukkan lereng alam yang curam.
Dari kejauhan pemandangan itu terlihat begitu indahnya. Air mengalir perlahan dari petakan paling atas menuju petakan di bawahnya, memantulkan langit yang mulai terang. Tidak sedikit orang datang ke tempat seperti ini hanya untuk menikmati panorama, mengabadikannya kedalam koleksi foto pribadinya, lalu pulang dengan kesan bahwa sawah terasering adalah salah satu keindahan alam yang menenangkan.
Namun bagi para petani yang setiap hari berjalan di pematangnya, sawah bertingkat itu bukan sekadar lanskap yang indah.
Disana tersimpan jejak para pejuang pangan.
Disetiap musim tanam dimulai dengan kerja yang tidak ringan. Bibit padi harus dibawa naik melalui jalan setapak yang sempit. Pupuk dipikul melewati pematang yang licin oleh lumpur. Alat-alat pertanian tidak bisa dengan mudah dibawa dengan kendaraan, karena medan sawah terasering hampir sepenuhnya bergantung pada langkah kaki manusia.
Memang benar sistem terasering memiliki satu keunggulan dimana air relatif lebih mudah diatur. Dari petakan paling atas air mengalir mengikuti gravitasi menuju petakan di bawahnya. Sistem sederhana yang diwariskan turun-temurun itu memungkinkan sawah di lereng gunung tetap dapat ditanami padi.
Namun diluar soal air, hampir semua hal menjadi lebih tidak mudah.
Mobilitas logistik dari masa pra-tanam hingga masa panen menuntut tenaga yang berlipat. Setiap undakan sawah berarti langkah tambahan. Setiap pematang adalah jalur kerja yang harus dilalui berkali-kali.
Disebuah gubuk kecil yang berdiri di tepi pematang, Hari Prabowo seorang Penyuluh Pertanian Lapangan memandangi hamparan sawah itu dengan saksama. Dari tempatnya berdiri, ia melihat para petani yang sedang menanam padi dan memastikan musim tanam berjalan pada waktu yang tepat.
Ditempat seperti ini ilmu pertanian tidak berhenti pada teori saja. Ia harus berpijak pada realitas medan, pada tenaga manusia, pada cara-cara yang paling mungkin untuk dilakukan agar para petani tetap dapat bertani di lereng yang tidak selalu ramah.
Ketika musim panen tiba, perjuangan itu belum selesai.
Karung-karung padi harus dipanggul turun melewati undakan yang panjang. Tidak ada mesin besar yang mampu menjangkau setiap petakan. Tidak ada kendaraan yang dapat mendekat ke semua sudut sawah. Yang ada hanyalah langkah kaki yang terus bergerak, memikul hasil kerja berbulan-bulan.
Disitulah jejak para petani dan penyuluh tertinggal.
Jejak kaki di pematang sempit.
Jejak langkah yang naik turun lereng gunung.
Jejak kerja keras yang sering tidak terlihat oleh orang-orang yang menikmati nasi di meja makan mereka.
Sawah terasering memang indah dipandang. Tetapi dibalik keindahan itu tersimpan pula cerita tentang manusia yang tidak pernah berhenti berusaha agar tanah tetap memberi kehidupan.
Para petani dan penyuluh itu mungkin tidak pernah secara resmi disebut sebagai pahlawan.
Namun setiap musim tanam, mereka melakukan sesuatu yang sangat penting bagi banyak orang.
Mereka menjaga agar pangan tetap ada.
Dan disetiap undakan sawah yang mereka lalui tersimpan satu kisah yang sederhana namun sangat berarti.
jejak para pejuang pangan yang bekerja diam-diam demi kehidupan banyak orang. 🌾
_________________

Komentar
Posting Komentar