Profesionalitas di Era Kinerja Berbasis Citra

 


Profesionalitas di Era Kinerja Berbasis Citra

Oleh : Sutoyo

_________________

Beberapa tahun terakhir ini ukuran kinerja aparatur publik mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Selain capaian program dan administrasi, aktivitas komunikasi terutama di ruang digital menjadi bagian yang semakin diperhatikan. Publikasi kegiatan, narasi keberhasilan, dan kehadiran di media sosial kini kerap diposisikan sebagai indikator tambahan kinerja.

Memang pada satu sisi komunikasi publik itu penting. Negara perlu hadir menjelaskan program, dan membangun kepercayaan masyarakat. Namun, persoalan muncul ketika orientasi pada citra mulai lebih dominan dibandingkan dengan substansi kerja itu sendiri. Ketika yang dinilai bukan lagi kedalaman proses dan dampak yang nyata, melainkan seberapa sering tampil dan seberapa positif narasi disajikan.

Kinerja berbasis citra memiliki kecenderungan menyederhanakan realitas lapangan yang sebenarnya cukup kompleks. Tantangan, keterbatasan, dan kegagalan yang sejatinya penting sebagai bahan evaluasi sering kali tidak mendapatkan  ruang yang cukup. Dalam situasi seperti ini, kejujuran profesional berpotensi berhadapan dengan tuntutan untuk selalu menampilkan kesan berhasil dan ini sangat berbahaya.

Profesionalitas aparatur publik pada dasarnya bertumpu pada integritas, akurasi data, dan tanggung jawab pada kepentingan masyarakat. Profesional bukan hanya pelaksana program, tetapi juga penghubung antara kebijakan dan realitas lapangan. Peran ini menuntut keberanian menyampaikan fakta apa adanya, termasuk fakta yang belum ideal sekalipun.

Jika tekanan kinerja lebih menekankan citra, orientasi kerja perlahan dipastikan akan bergeser. Waktu dan energi terserap untuk dokumentasi dan pencitraan, sementara ruang refleksi dan perbaikan substantif menjadi terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko melahirkan ilusi keberhasilan tampak aktif, tetapi minim dengan pembelajaran.

Kondisi yang patut diwaspadai ini bukanlah komunikasi publik itu sendiri, melainkan ketika komunikasi kehilangan fungsi kritisnya. Publikasi seharusnya menjadi sarana transparansi, bukan sekadar etalase. Narasi seharusnya membantu masyarakat memahami proses, bukan malah menutupinya.

Profesionalitas tetap mungkin dijaga di tengah tuntutan komunikasi, selama institusi mampu menempatkan citra sebagai alat, bukan tujuan. Ukuran kinerja perlu memberi ruang pada kejujuran laporan, evaluasi terbuka, dan perbaikan berkelanjutan. Tanpa adanya itu  maka profesionalitas berisiko menjadi jargon administratif yang hanya diucapkan, tetapi sulit dipraktikkan.

Pada akhirnya kepercayaan publik tidak dibangun dari citra yang selalu sempurna, melainkan dari kerja yang jujur dan konsisten. Disitulah profesionalitas akan menemukan maknanya yang paling mendasar.....wallohualam bishowab.

_________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum