Padi Rebah

Padi Rebah

 Antara Angin Muson dan Cara Kita Bertani


Oleh : Sutoyo (pemerhati dan peduli petani dan pertanian)

_________________

Setiap menjelang musim panen padi MT1 cerita yang sama kembali berulang. Hari ini hujan turun seharian dari malem hingga siang. Padi yang sudah mulai  menguning dan panen di depan mata, tetapi hujan belum juga mau kompromi. Angin muson masih bertiup, sawah tergenang, dan tanaman padi satu per satu mulai tak tahan rebahan. Sampai pada titik ini cuaca sering dijadikan terdakwa utama. Padahal  jika ditelaah dengan lebih jujur, padi rebah tidaklah semata-mata soal angin, melainkan juga soal bagaiamana cara kita memperlakukan tanaman.

Faktor eksternal itu memang fakta dan tak terbantahkan. Angin muson yang datang pada penghujung musim hujan di Indonesia membawa hujan lebat dan hembusan angin yang tak mungkin ditahan oleh petani. Tidak ada teknologi murah yang mampu menahan angin di hamparan sawah terbuka. Maka ketika kita menuduh dan menyalahkan musim sejatinya tidak akan menyelesaikan apa pun.

Muson akan datang tepat waktu atau terlambat, kuat atau lemah, tanpa peduli dengan kalender tanam kita. Justru karena faktor eksternal tidak bisa dikendalikan maka perhatian seharusnya diarahkan ke faktor internal yakni ruang dimana petani masih punya kuasa penuh. Disinilah letak persoalan yang kerap luput dari pembicaraan: teknik budidaya yang secara tidak sadar membuat tanaman rapuh menghadapi tekanan alam. 

Ambil contoh jarak tanam. Sawah yang ditanami terlalu rapat memang tampak menjanjikan secara visual—hijau, rimbun, dan “penuh”. Namun secara fisik, pola ini membentuk dinding tanaman yang akan menahan atau melawan angin. Ketika hembusan muson datang tekanan angin tidak hanya mengalir, melainkan menghantam. Batang padi yang tinggi dan kurus menjadi titik lemah, dan rebah pun tak terelakkan lagi. Sebaliknya jarak tanam yang proporsional (jajar legowo) akan memberikan ruang bagi angin untuk lewat, mengurangi tekanan langsung, dan membuat tanaman berdiri sebagai sistem, bukan sebagai tembok.

Pemupukan adalah soal lain yang tak kalah krusial. Obsesi pada warna hijau sering mendorong pemakaian nitrogen berlebihan. Tanaman memang tumbuh cepat dan tinggi, tetapi kekuatannya tidak sebanding. Jaringan batang lunak, perakaran dangkal, dan elastisitas rendah. Dalam kondisi tanah jenuh air dan angin kencang, tanaman seperti ini hanya menunggu waktu untuk roboh. Pemupukan seimbang—terutama dengan pendekatan organik—bekerja sebaliknya. Pertumbuhan berlangsung lebih lambat, tetapi struktur tanaman terbentuk lebih kokoh. Batang tidak hanya kuat, tetapi juga lentur; tidak melawan angin, melainkan mengikuti lalu kembali tegak. Di titik ini menjadi jelas bahwa tanaman padi rebah bukan sekadar akibat cuaca buruk, melainkan hasil dari ketidaksiapan tanaman menghadapi cuaca yang memang selalu berubah.

Angin muson tidak bisa dicegah tetapi dampaknya bisa diredam. Bukan dengan menggeser musim tanam secara serampangan, yang justru dapat merusak pola tanam lanjutan, melainkan dengan membangun tanaman yang secara alami siap menghadapi tekanan. Maka pertanyaannya bukan lagi “mengapa angin datang saat panen”, melainkan “apakah tanaman kita cukup kuat saat angin itu datang?”.

Selama pertanian masih mengejar tampilan subur tanpa keseimbangan, rebah akan terus menjadi cerita tahunan. Namun ketika teknik budidaya diarahkan pada kekuatan, elastisitas, dan harmoni dengan alam, padi rebah tidak lagi menjadi nasib, melainkan risiko yang bisa dikendalikan....Wallohualam bishowab.

_________________

Pituruh, 26 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum