Indonesia Emas tahun 2045



Indonesia Emas tahun 2045 
Apa yang paling tepat disiapkan ?  mengisi perut atau mengisi kepala.

Oleh : Sutoyo
_________________

Perdebatan antara program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Gratis hingga kuliah bukan sekadar soal anggaran, melainkan soal visi tentang masa depan bangsa. Negara sedang memilih: apakah ingin membangun generasi yang sekadar bertahan hidup, atau generasi yang mampu bersaing dan memimpin dikancah dunia.

Ok MBG lahir dari niat baik agar anak tidak lapar sehingga bisa belajar. Dan tidak ada satupun yang menyangkal pentingnya gizi. Namun masalah muncul ketika kebijakan ini diposisikan sebagai poros utama pembangunan SDM. Dititik itulah negara mulai keliru membaca tantangan zaman. Kompetisi global tidak berlangsung di dapur umum, melainkan di ruang kelas, laboratorium, pusat riset, dan arena inovasi.

Memberi makan adalah tindakan perlindungan. Tetapi perlindungan bukanlah kemajuan. MBG bersifat konsumtif: ia habis hari ini, diulang besok, dan selesai di situ. Dampaknya penting, tetapi teramat pendek. Ia menjaga anak tetap hidup, bukan mengubah struktur ketimpangan yang membatasi masa depannya. Lebih problematis lagi, MBG yang seragam memberi hal yang sama kepada mereka yang tidak berada pada posisi yang sama contoh adil secara administratif, tetapi lemah secara keadilan substantif.

Sebaliknya  Sekolah Gratis hingga kuliah adalah kebijakan struktural. Ia bekerja pada akar persoalan: ketimpangan atas kesempatan. Pendidikan gratis bukan sekadar layanan, melainkan tangga sosial. Ia memungkinkan anak dari keluarga petani, buruh, dan nelayan naik kelas bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara martabat. Disinilah keadilan negara benar-benar hadir bukan dengan membagi rata, tetapi dengan memihak yang tertinggal.

Argumen klasik bahwa “anak lapar tidak bisa belajar” memang benar, tetapi setengah benar. Anak yang tidak bisa kuliah karena miskin juga tidak akan pernah masuk arena kompetisi global. Dunia tidak bertanya apakah generasi kita sudah makan gratis; dunia bertanya apakah mereka bisa berpikir kritis, mencipta teknologi, dan memimpin perubahan. Olimpiade sains, riset, dan inovasi tidak dimenangkan oleh menu makan siang, melainkan oleh isi kepala. Risiko terbesar dari dominasi MBG adalah salah fokus kebijakan. Energi negara terserap pada logistik dan distribusi, sementara kualitas guru, akses perguruan tinggi, vokasi, dan riset tertinggal. 

Kita mungkin mencetak generasi yang lebih kenyang, tetapi tetap menjadi penonton di negeri sendiri. Bangsa yang sibuk mengurus perut, tetapi lupa membangun pikiran.

Mengisi perut menjaga bangsa tetap hidup. Mengisi kepala menentukan apakah bangsa itu dihormati atau tersisihkan dalam persaingan global. MBG mungkin relevan sebagai kebijakan korektif di wilayah rawan gizi. Tetapi Sekolah Gratis hingga kuliah adalah investasi keadilan dan kesempatan sebagai syarat mutlak Indonesia Emas 2045.

Bangsa besar tidak diukur dari seberapa rapi antrean makannya, melainkan dari seberapa siap generasinya bertarung dan menang di panggung dunia....wallohualam bishowab.
__________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum