Amin Zaid: Jejak Kecil Meneladani Nabi

Amin Zaid: Jejak Kecil Meneladani Nabi


Oleh : Sutoyo


Setiap anak pasti memiliki tokoh idola. Sebagian mengagumi pahlawan dalam cerita, sebagian lagi tokoh yang mereka lihat di layar ponsel. Dan pada umumnya tokoh idolanya banyak dipengaruhi oleh zamannya. Namun ternyata tidak bagi begitu  Amin Zaid, sosok idolanya itu tidak pernah ia jumpai secara langsung. Ia hanya mengenalnya lewat kisa—kisah yang ia dengar dari guru ngajinya di langgar kecil dekat rumahnya. Ya tentang masa kecil Rasululloh Muhammad SAW. Tentang kejujuran beliau, kesabaran beliau, dan tentang masa kecil ketika beliau menggembala kambing.

Guru ngajinya sering berkata, bahwa pekerjaan itu bukanlah sekadar mencari nafkah atau makan, melainkan sekolah akhlak tempat dimana  untuk belajar sabar, amanah, dan tawakal.

Cerita-cerita itu tidak berhenti di telinga Amin Zaid. Ia membawanya pulang. Ia menyimpannya di dalam hati. Dan tanpa ia sadari, kisah itu pelan-pelan membentuk cara ia memandang hidup.

Ia tidak bermimpi menjadi tokoh besar apalagi gambaran tokoh dizaman sekarang di kepalanya jauh dari yang ia dengar dari guru ngajinya.  Ia hanya ingin menjadi anak yang tidak jauh dari keteladanan Nabinya. Dan dari situlah kisah Amin Zaid bermula.

Episode 1 – Jalan yang Pernah Dilalui Nabi

Bel sekolah berbunyi tanda jam sekolah telah usai. Anak-anak berlarian keluar gerbang dengan wajah yang sumringah. Sebagian langsung menuju lapangan untuk bermain bola, sebagian lagi berkumpul merencanakan permainan sore nanti. Namun Amin Zaid kecil  memilih langkah ke arah yang berbeda.

Ia langsung berjalan pulang dengan langkah yang tenang. Di kepalanya terngiang suara guru ngajinya yang semalam bercerita tentang Nabi kecil yang menggembala kambing di tanah gersang. Tentang bagaimana pekerjaan itu mengajarkan kesabaran dan tanggung jawab.

Sesampainya di rumah Amin Zaid meletakkan tas sekolahnya dan berganti baju sehari-hari. Tak lama kemudian ia mengambil sabit kecil yang biasa dipakai untuk ngarit. Kambing-kambingnya di belakang rumah bawah pohon randu  mengembik pelan, seolah mengenali siapa yang datang.

Ia menuntun mereka keluar desa, melewati pematang sawah dan jalan setapak yang sudah sangat ia hafal. Matahari masih tinggi. Panas mulai terasa. Keringat pun membasahi pelipisnya. Ia teringat satu kalimat dari cerita guru ngajinya:

“Rasululloh pernah berjalan lebih jauh dipadang tandus, di bawah matahari yang lebih terik.”

Amin Zaid menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu,” batinnya, “aku tidak sedang sendirian.”

Di tengah perjalanan, ia berhenti sejenak dan menengadah ke langit. Tak ada awan yang menaungi. Langit terlihat biasa saja. Tapi ia tetap berdoa.

“Ya Allah, kuatkan aku menjaga amanah ini.”

Doa itu sederhana. Namun terasa hangat di dadanya.

Ia melanjutkan langkah. Tidak ada yang  memperhatikan. Tidak ada yang memuji. Tapi sore itu, Amin Zaid merasa telah berjalan di jalan yang benar—jalan yang pernah dilalui oleh Nabinya, oleh idolanya.

Dan sejak hari itu, ia pun mulai belajar meneladani Rasululloh tidak selalu dengan kata-kata besar, kadang cukup dengan setia pada tanggung jawab kecil.

(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum