Patroli Ketahanan Pangan di Desa Cepedak

 

Patroli Ketahanan Pangan di Desa Cepedak 

Respons Cepat, Pertanian Berkelanjutan, dan Komitmen Menjaga Kelestarian Alam

Oleh : Sutoyo

____________________

Bruno, 25 November 2025 Upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus kelestarian lingkungan kembali menjadi fokus BPP Bruno. Selasa pagi 25 November Tim Patroli Ketahanan Pangan BPP Bruno bergerak cepat menuju areal pertanaman jagung di Desa Cepedak setelah menerima laporan dari Ketua Kelompok Tani Loh Jinawi, Nursalim, mengenai adanya gejala awal serangan ulat pada tanaman jagung varietas BISI 18 seluas 5 hektare. Lahan ini merupakan bagian dari Program Ketahanan Pangan Mandiri Desa yang dibiayai melalui Dana Desa, dan saat ini tanaman memasuki usia kritis sekitar 21 hari setelah tanam.

Tim lapangan yang terdiri dari Koordinator BPP Bruno Duwi Hartoto, S.ST, Penyuluh Pertanian Lapangan Hari Prabowo, S.TP, serta Petugas POPT Sugiyo bergegas langsung merapat dan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan jenis hama, tingkat serangan, dan potensi penyebaran.

“Kami memang sudah berkomitmen untuk tidak boleh menunda-nunda sebab ketahanan pangan desa adalah tanggung jawab bersama, dan setiap laporan petani harus ditindaklanjuti segera. Respons cepat seperti ini penting agar masalah kecil tidak berkembang menjadi kerugian besar,” tegas Duwi Hartoto.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangan ulat belum melampaui ambang kendali. Oleh karena itu, Petugas POPT Sugiyo merekomendasikan untuk tindakan awal ini harus berbasis pengendalian hama terpadu (PHT), khususnya melalui penggunaan pestisida nabati.

“Intensitas serangan masih rendah sehingga langkah terbaik adalah menggunakan pestisida nabati. Ini merupakan bagian dari prinsip pengendalian hama terpadu, yakni mengendalikan hama dengan cara tanpa merusak keseimbangan ekosistem,” jelas Sugiyo.

Ia menjelaskan bahwa PHT mendorong penggunaan cara-cara yang ramah lingkungan yang memberikan kesempatan kepada musuh alami seperti kepik, laba-laba, semut rangrang, dan parasitoid tetap hidup sehingga mampu menahan populasi hama secara alami.
“Kalau kita langsung menyemprotkan pestisida kimia padahal belum perlu maka musuh alami akan ikut menjadi korban bahkan dapat saja malah musnah. Dan pada akhirnya petani sendirilah yang akan menanggung kerugian. Jadi Pertanian berkelanjutan dimulai dari keputusan kecil seperti hari ini” tegas Sugiyo.

PPL Desa Cepedak, Hari Prabowo, S.TP, menyampaikan bahwa program ketahanan pangan berbasis Dana Desa harus dijalankan dengan semangat keberlanjutan. “Program ini bukan hanya menanam jagung tetapi membangun kesadaran bersama bahwa produksi pangan haruslah selaras dengan kelestarian alam. Prinsip-prinsip PHT membuat petani lebih mandiri dan tidak tergantung pestisida kimia,” ujarnya. Selanjutnya Prabowo menambahkan bahwa monitoring rutin sangat penting, terutama pada fase pertumbuhan daun ketika tanaman rentan terhadap serangan hama pengunyah.

Sementara ketua Kelompok Tani Loh Jinawi, Nursalim, menyampaikan apresiasinya atas respon yang begitu cepat dari BPP Bruno. “Terus terang kami merasa sangat terbantu, sungguh kami tidak menyangka begitu saya melapor, tim BPP langsung datang ke lokasi bahkan lebih cepat dari pada kami sendiri. Petani membutuhkan pendampingan seperti ini, yang tidak hanya memberi instruksi tapi juga menjelaskan alasan teknisnya,” ungkap Nursalim. Ia pun mendukung pendekatan PHT karena dianggap lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Patroli ketahanan pangan di desa Cepedak bukan sekadar agenda rutin, tetapi wujud nyata kolaborasi antara petani, penyuluh, POPT, dan pemerintah desa dalam membangun pertanian yang berkelanjutan. Penggunaan pestisida nabati, menjaga populasi predator alami, serta penerapan pengendalian hama terpadu menjadi langkah strategis untuk memastikan produksi pangan tetap tinggi tanpa merusak ekosistem alam.

Langkah-langkah yang sederhana namun tepat ini menunjukkan bahwa Program Ketahanan Pangan Mandiri Desa Cepedak tidak hanya fokus pada hasil panen, tetapi juga ikut menjaga kelestarian lingkungan. Ketahanan pangan dan kelestarian alam bukanlah dua hal yang bertentangan, keduanya justru bisa berjalan bersama ketika petani, penyuluh, dan pemerintah desa memiliki komitmen yang sama. Hasilnya: pangan tercukupi, alam tetap terjaga, dan petani semakin berdaya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum