Hutan Terbakar, Konten Terkabar

Ketika persaingan mencari perhatian berisiko membuat alam menjadi korban.

Oleh : Sutoyo

Di negeri yang saat ini mencari pekerjaan semakin tidak mudah, menjadi konten kreator tampak seperti salah satu jalan keluar. Tidak perlu mengirim puluhan surat lamaran, tidak harus menunggu panggilan wawancara, dan siapa tahu satu video bisa mendatangkan rezeki yang selama ini susah dicari. Modalnya kadang tidak perlu banyak cukup dengan ponsel, koneksi internet, sedikit kreativitas, dan keberanian tampil di depan kamera. Kalau beruntung maka video yang diunggah bisa ditonton ribuan orang bahkan kalau lebih beruntung lagi bisa mencapai jutaan.

Permasalahnya ketika semua orang berlomba merebut perhatian maka sesuatu yang biasa terkadang terasa tidak lagi cukup. Oleh karena itu konten haruslah unik, harus mengejutkan dan harus berbeda. Malahan jika perlu  harus membuat orang berhenti menggulir layar dan bertanya, “Ini orang sedang ngapain, sih?”. Disinilah persoalannya bermula. Ketika perhatian menjadi sebuah komoditas maka bisa jadi kewarasan kadang harus berkompetisi dengan kebutuhan untuk viral.

Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa menjadi konten kreator itu pekerjaan yang buruk. Banyak orang memperoleh penghasilan secara halal melalui kreativitas digital. Ada yang mengedukasi masyarakat, mempromosikan produk UMKM, memperkenalkan potensi desa, bahkan menyuarakan persoalan lingkungan yang selama ini luput dari perhatian. Namun seperti halnya dengan pekerjaan yang  lain, dunia konten juga mengenal godaan. Ketika persaingan semakin ketat maka ada risiko sebagian orang merasa perlu melakukan sesuatu yang lebih ekstrem agar tidak tenggelam di antara jutaan unggahan lainnya. Celakanya, jika yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi pribadi, melainkan keselamatan lingkungan, persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Suatu sore itu saya tidak sengaja bertemu seorang teman yang bekerja di Dinas Kehutanan Provinsi. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Obrolan yang semula santai akhirnya menjadi cukup panjang.

Ada satu hal yang membuat saya tertarik: ia bercerita bahwa belakangan ini merasa kelelahan memantau kebakaran hutan dan lahan di berbagai tempat. Kemarau yang panjang dan minimnya kiriman hujan membuat keadaan semakin tidak mudah. Api dapat muncul di satu lokasi, sementara petugas masih harus mengawasi di lokasi lainnya.

Ketika saya bertanya tentang apa saja sebenarnya penyebab kebakaran, jawabannya cukup mengejutkan. Selain penyebab klasik seperti petani atau pekebun yang membakar sampah lalu meninggalkannya sebelum api benar-benar padam, serta orang yang membuang puntung rokok sembarangan, ia menyebut dugaan modus lain: ulah oknum konten kreator dan pemburu binatang.

Tentu saja cerita itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa modus tersebut telah meluas atau menjadi penyebab utama kebakaran. Dugaan tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan di lapangan. Namun andaikan dugaan itu benar terjadi dalam kasus tertentu, maka kita patut bertanya: untuk apa seseorang sengaja menyalakan api di kawasan hutan yang sedang kering dan rentan terbakar? Apakah demi mendapatkan gambar yang dramatis? Apakah untuk mengusir binatang dari persembunyiannya? Atau ada motif lain yang belum kita ketahui?

Apa pun jawabannya menyalakan api secara sengaja di kawasan rawan kebakaran bukanlah perkara yang sepele. Api tidak mengenal batas skenario. Ia tidak peduli apakah seseorang sedang membuat video, berburu, atau sekadar ingin menghasilkan sesuatu yang dianggap menarik. Api hanya membutuhkan bahan bakar, oksigen, dan kondisi yang mendukung. Setelah itu ia bisa bergerak jauh melampaui rencana orang yang menyalakannya. Hutan pun bukan studio yang bisa dibersihkan setelah proses pengambilan gambar selesai.

Kita hidup didalam zaman ketika hampir semua hal dapat  berpotensi menjadi sebuah konten. Orang sedang makan dapat menjadi konten, orang sedang menangis menjadi konten, pertengkaran menjadi konten, bahkan musibah pun bisa berubah menjadi tontonan yang diperebutkan. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang agak tidak nyaman: apakah kita masih bisa membedakan sesuatu yang layak dilakukan dengan sesuatu yang sekadar agar menarik untuk ditonton?

Bayangkan jika benar-benar  ada orang yang sengaja membuat api untuk mendapatkan gambar dramatis atau mengusir satwa agar lebih mudah diburu. Disana masalahnya bukan lagi soal kreativitas, melainkan soal batas moral. Hutan diperlakukan sebagai panggung, satwa diperlakukan sebagai objek, dan api diperlakukan sebagai alat. Sementara risiko terhadap lingkungan dianggap urusan belakangan. Padahal tidak semua yang menarik perhatian layak untuk dilakukan. Tidak semua yang mendatangkan penonton pantas dipertontonkan. Dan tidak semua yang berpotensi menghasilkan uang dapat dibenarkan.

Kita boleh mengakui bahwa mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah. Kita juga boleh memahami bahwa sebagian orang melihat dunia digital sebagai peluang untuk memperbaiki kehidupan ekonomi. Tetapi kesulitan mencari nafkah tidak otomatis membuat segala cara menjadi masuk akal.

Kalau demi memperoleh perhatian seseorang harus merusak sesuatu yang menjadi milik bersama, barangkali yang perlu diperiksa bukan cuma strategi kontennya, melainkan juga cara berpikirnya. Jangan-jangan kita sedang membangun kebudayaan yang mengukur keberhasilan berdasarkan berapa banyak orang menonton, bukan berdasarkan apa manfaat yang diberikan. Padahal jumlah penonton tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas tindakan. Sesuatu bisa viral karena bermanfaat, tetapi bisa pula viral karena berbahaya, memalukan, atau menyakitkan orang lain. Algoritma mungkin tidak punya rasa malu. Namun manusia semestinya masih memilikinya.

Ada ironi yang sulit diabaikan ketika membayangkan petugas kehutanan harus memantau kebakaran di banyak tempat, sementara pada saat yang sama ada dugaan bahwa sebagian orang justru menciptakan risiko baru. Disatu sisi ada orang yang menghabiskan tenaga untuk mengendalikan api dan mencegah kerusakan semakin meluas. Sedangkan disisi yang lain jika dugaan itu benar-benar terbukti, ada orang yang tindakannya justru berpotensi menambah pekerjaan mereka. Yang satu berusaha menyelamatkan hutan, yang lain mungkin sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih kecil daripada hutan itu sendiri: perhatian, sensasi, atau keuntungan sesaat.

Tentu kita tidak boleh menyamaratakan semua konten kreator ataupun semua pemburu binatang. Banyak kreator bekerja dengan tanggung jawab, dan kegiatan berburu pun memiliki konteks serta aturan yang berbeda-beda. Kritik harus diarahkan pada tindakan yang membahayakan lingkungan, bukan pada profesi atau kelompok secara keseluruhan. Tetapi justru karena itu, dugaan tersebut perlu diselidiki secara serius. Jika memang ada unsur kesengajaan, motifnya harus diungkap dan tanggung jawabnya harus jelas. Sebab kebakaran hutan bukan hanya persoalan siapa yang pertama kali menyalakan api. Kita juga perlu memahami bagaimana api menyebar, siapa yang terdampak, dan bagaimana kerusakan bisa dicegah agar tidak terulang.

Satu tindakan yang ceroboh dapat membebani banyak orang. Satu tindakan yang sengaja dilakukan demi kepentingan pribadi bahkan bisa menimbulkan akibat yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan pelakunya. Oknum orang yang membuat konten mungkin memperoleh beberapa menit perhatian. Namun  petugas bisa menghabiskan berjam-jam, berhari-hari, bahkan lebih lama untuk menghadapi dampaknya. Belum lagi masyarakat di sekitar hutan, satwa yang kehilangan habitat, vegetasi yang terbakar, dan ekosistem yang tidak bisa pulih hanya dengan sekali hujan. Disinilah letak ketimpangannya: keuntungan dari sebuah sensasi mungkin dinikmati oleh segelintir orang, sedangkan ongkos kerusakannya harus ditanggung bersama.

Hutan memiliki cara kerja yang berbeda dengan media sosial. Ia tidak mengenal jumlah penonton, tanda suka, komentar, atau jumlah pengikut. Ia tidak membutuhkan pengakuan bahwa dirinya sedang bekerja. Pepohonan tumbuh, serasah terurai, organisme tanah menjalankan perannya, air meresap dan satwa mencari makan seraya berkembang biak. Semua berlangsung dalam hubungan ekologis yang rumit dan sering kali tanpa disadari oleh manusia.

Hutan tidak perlu membuat konten tentang jasanya menjaga kehidupan. Kita saja yang kadang baru menyadari pentingnya hutan ketika asap mulai mengganggu pernapasan, air semakin sulit diperoleh, atau api sudah mendekati permukiman. Ironisnya sesuatu yang bekerja diam-diam untuk menopang kehidupan bisa dihancurkan oleh tindakan yang dilakukan demi memperoleh perhatian sesaat.

Kita sering menyebut alam sebagai warisan untuk generasi mendatang. Namun warisan itu tidak akan banyak berarti jika hari ini kita memperlakukannya seperti properti yang boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi. Dan ketika kebakaran terjadi jangan sampai perhatian kita berhenti pada gambar kobaran api yang dramatis. Kita perlu bertanya siapa yang bertanggung jawab, bagaimana kejadian itu bisa berlangsung, dan apa yang harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

Kita membutuhkan penegakan aturan, pencegahan kebakaran, edukasi kepada masyarakat, dan pengawasan yang memadai. Jika ada orang yang sengaja membakar hutan demi konten atau untuk memudahkan perburuan, tindakan tersebut harus ditangani berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Kita juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua cara mencari uang pantas dibenarkan. Sebab yang namanya pekerjaan seharusnya menjadi jalan untuk menghidupi manusia, bukan alasan untuk merusak sumber kehidupan.

Pada akhirnya mungkin kita perlu mengingat satu hal sederhana bahwa ditengah sulitnya mencari pekerjaan dan kerasnya persaingan merebut perhatian, manusia memang dituntut kreatif. Tetapi kreativitas tidak semestinya membuat kita kehilangan pertimbangan. Tidak setiap api layak dinyalakan, tidak setiap sensasi pantas dikejar, dan tidak setiap kesempatan viral harus diambil. Sebab ketika hutan terbakar, yang kehilangan rumah bukan hanya manusia. Satwa kehilangan habitat, tanah kehilangan pelindungnya, dan ekosistem kehilangan sebagian dari keseimbangannya. Sementara itu sebuah konten mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diunggah. Hutan membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk tumbuh kembali.

Jadi jika memang ada yang sengaja bermain api demi mendapatkan perhatian, barangkali sudah waktunya kita bertanya: siapa sebenarnya yang sedang diburu apakah binatang di dalam hutan, atau perhatian manusia diluar sana? Jangan-jangan dalam perlombaan mengejar viralitas, kita justru sedang mempertontonkan sesuatu yang lebih menyedihkan daripada kebakaran itu sendiri: ketika manusia begitu sibuk mencari perhatian sampai lupa memperhatikan akibat perbuatannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengembalikan Marwah HKTI di Tengah Kegelisahan Petani

Semi-organik: narasi penyesatan atas nama transisi

Patroli Ketahanan Pangan di Desa Cepedak