PERTANIAN: BUKAN SEKADAR PRODUKSI, TAPI SOAL NASIB DAN ARAH PERADABAN



PERTANIAN: BUKAN SEKADAR PRODUKSI, TAPI SOAL NASIB DAN ARAH PERADABAN


Oleh: Sutoyo

____________

Pertanian terlalu sering dibicarakan dalam bahasa angka. Produksi naik atau turun, produktivitas per hektar, harga pasar, distribusi pupuk, hingga adopsi teknologi. Memang semua itu penting, tetapi ada satu hal yang kerap luput dari perhatian bahwa pertanian bukan sekadar soal hasil, melainkan soal nasib. Nasib petani, nasib lahan dan nasib masa depan pangan kita.

Ketika pertanian direduksi hanya menjadi urusan teknis, maka yang segera hilang adalah dimensi kemanusiaannya. Petani tidak lagi dipandang sebagai subjek utama, melainkan sekadar bagian dari rantai produksi. Mereka dituntut meningkatkan hasil, tetapi jarang ditanyakan apakah hidup mereka benar-benar membaik?

Kita seringkali bangga ketika produksi meningkat. Namun diam-diam jumlah petani terus menyusut. Anak-anak petani memilih jalan lain, menjauh dari sawah, karena tidak lagi melihat ada harapan disana. Ini bukan sekadar fenomena sosial, tetapi sinyal bahwa ada yang tidak beres dalam cara kita memandang dan mengelola pertanian.

Lebih jauh lagi, lahan pertanian dari hari kehari terus menerus tergerus. Sawah berubah menjadi perumahan, industri, dan infrastruktur. Dalam logika ekonomi jangka pendek, ini dianggap wajar. Tetapi dalam perspektif yang lebih luas, ini adalah kehilangan yang tidak lagi tergantikan. Lahan bukan sekadar aset, melainkan ruang hidup dan fondasi kedaulatan pangan.

Disisi lain teknologi datang membawa janji efisiensi. Digitalisasi, mekanisasi, hingga platform berbasis data digadang-gadang sebagai solusi. Namun tanpa arah yang jelas, teknologi justru berisiko memperdalam ketergantungan pada benih, pupuk, bahkan sistem yang dikendalikan oleh pihak luar.

Modernisasi tanpa kedaulatan hanya akan memindahkan kontrol dari tangan petani ke entitas lain. Dititik inilah kita perlu jujur bahwa pertanian adalah soal keberpihakan. Kebijakan yang diambil akan selalu menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal. Jika tidak berpihak pada petani kecil, maka pertanian hanya akan menjadi ladang keuntungan bagi segelintir pihak.

Pertanian juga membutuhkan visi yang melampaui proyek jangka pendek. Ia bukan sektor yang bisa diselesaikan dalam hitungan lima tahun. Ia menyangkut keberlanjutan lintas generasi, keseimbangan alam, dan arah peradaban. Tanpa visi yang jelas, kita hanya akan terus sibuk memadamkan masalah tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Pada akhirnya  pertanian adalah cermin dari pilihan kita sebagai bangsa. Apakah kita ingin berdaulat atas pangan sendiri, atau terus bergantung kepada sistem global yang rapuh? Apakah kita ingin petani berdiri sebagai pelaku utama, atau sekadar menjadi penonton di tanahnya sendiri?

Maka berbicara pertanian seharusnya tidak berhenti pada produksi, teknologi, dan pasar. Kita harus berani masuk lebih dalam lagi dengan membicarakan kebijakan, keadilan, keberlanjutan, dan masa depan. Karena dibalik setiap butir padi, ada cerita tentang siapa yang berjuang, siapa yang diabaikan, dan kemana bangsa ini akan melangkah....wallohualam bishowab🙏

_____________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum