*Bismillah Menulis untuk Tetap Waras*
Bismillah Menulis untuk Tetap Waras
_“Menulis adalah caraku menjaga kewarasan—tempat merapikan yang kusut, menahan yang nyaris runtuh, dan diam-diam melawan lupa.”_
Oleh : Sutoyo (Mantan THL)
___________
Dizaman ketika nilai sering diukur dari angka— _like, comment dan share—_ kewarasan justru menjadi barang yang pelan-pelan tergerus. Kita dipaksa untuk terlihat aktif, dipacu untuk terus tampil dan seolah keberadaannya hanya sah jika disaksikan oleh banyak orang. Ironisnya semakin sering kita “terlihat”, malah berasa semakin jauh kita dari diri sendiri.
Menulis bagiku adalah bentuk pembangkangan kecil. Ia tidak butuh panggung, tidak mengejar tepuk tangan. Ia justru lahir dari sunyi—dari ruang yang tak selalu nyaman, tetapi jujur. Disana aku tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri.
Sementara dunia sibuk memoles realitas, menulis justru menguliti. Ia tidak selalu indah, bahkan kadang berantakan. Tapi justru dari yang berantakan itulah, kita menemukan apa yang nyata—apa yang masih tersisa dari diri yang belum dikomodifikasi.
Ada tekanan halus yang kini terasa biasa bahwa menulis bukan lagi untuk memahami, tapi untuk tampil; bukan untuk jujur, tapi untuk disukai. Kata-kata dipilih bukan karena paling benar, tapi karena paling aman. Pikiran disederhanakan agar mudah dicerna oleh algoritma. Dan tanpa sadar, kita mulai kehilangan kedalaman.
Dititik itu menulis menjadi perlawanan. Menolak tunduk sepenuhnya pada logika angka. Menolak menjadikan diri sekadar menjadi konten kreator. Menulis menjadi cara untuk tetap berpikir, tetap merasa, tetap manusia. Karena kalau semua harus diukur, semua harus dinilai, lalu dimana ruang untuk sekadar menjadi?
Maka aku menulis. Bukan untuk ramai-ramai, tapi untuk tetap utuh. Bukan untuk terlihat, tapi agar tidak hilang ditelan oleh jaman.....jaman edan, wallohualam bishowab🙏
____________

Komentar
Posting Komentar