.Pedagang Mangga dan Mekanika Kuantum Kehidupan
Pedagang Mangga dan Mekanika Kuantum Kehidupan
Oleh : Sutoyo
_________________
Di sebuah sudut pasar desa, di bawah spanduk yang mulai memudar dan di tengah lalu lintas motor yang tidak pernah benar-benar berhenti, seorang pedagang mangga duduk tenang di kursi besinya. Di depannya, tumpukan mangga matang beraroma manis menunggu takdirnya. Sekilas ia tampak biasa, tetapi jika diperhatikan lebih lama, di situlah sesungguhnya mekanika kuantum kehidupan sedang berlangsung tanpa laboratorium.
Dalam fisika modern, partikel subatomik tidak pernah benar-benar “pasti” sebelum diukur. Mereka berada dalam keadaan superposisi: mungkin ada, mungkin tiada; mungkin di sini, mungkin di sana. Hal yang sama dialami pedagang mangga itu. Sejak pagi hingga petang, ia hidup dalam superposisi ekonomi: bisa laku keras, bisa rugi, bisa tidak dilirik, atau bisa diborong sampai habis. Semua kemungkinan itu hadir bersamaan, menggantung di udara pasar, sebelum seorang pembeli datang dan melakukan “pengukuran”.
Saat seorang ibu berhenti, menawar, menimbang, lalu membayar, di situlah gelombang probabilitas runtuh. Yang semula hanya potensi berubah menjadi kenyataan: satu kilogram mangga berpindah tangan, rezeki bertransformasi menjadi lembaran uang, dan pedagang tersenyum lega. Tanpa persamaan rumit, tanpa tabung percobaan, pasar desa menjadi kelas terbuka tempat teori dan realitas berpelukan.
Namun cerita tidak berhenti pada fisika. Secara filosofis, pedagang mangga adalah cermin kehidupan manusia. Kita semua hidup menunggu “pembeli” dalam bentuk kesempatan, jodoh, pekerjaan, atau keberhasilan. Tidak ada yang benar-benar tahu kepastian esok hari. Yang bisa dilakukan hanyalah satu: hadir, berjaga, bekerja, dan menata hidup sebaik mungkin. Selebihnya, semesta menjalankan algoritmenya sendiri.
Lalu-lalang motor yang buram dalam tangkapan foto adalah pengingat bahwa waktu berjalan terus. Sementara itu, pedagang mangga justru mengajarkan seni untuk tidak terburu-buru: kesabaran yang tidak pasif, tetapi aktif—hadir sepenuhnya, sadar, dan siap menyambut apa pun hasil pengukuran realitas nanti.
Pada akhirnya, mekanika kuantum bukan hanya persoalan persamaan dan partikel kecil. Ia juga merupakan puisi tentang ketidakpastian. Pasar tradisional pun bukan sekadar ruang jual beli, melainkan laboratorium kehidupan, tempat teori bertemu tawa, keringat, dan aroma buah matang.
Pedagang mangga itu mungkin tidak pernah membaca Schrödinger atau Heisenberg. Namun setiap hari ia hidup di tengah gelombang probabilitas, menunggu dengan tenang, dan tetap tersenyum. Mungkin, justru dialah yang paling memahami kuantum: bukan melalui angka, melainkan melalui hati.....wallohualam bishowab
__________________

Komentar
Posting Komentar