Meminggirkan Irigasi, Menggadaikan Ketahanan Pangan
Meminggirkan Irigasi, Menggadaikan Ketahanan Pangan
Oleh : Sutoyo
__________________
Kita sering berbicara tentang swasembada pangan, ketahanan pangan, bahkan kedaulatan pangan. Namun di lapangan, urat nadi pertanian—air—sering kali justru dipinggirkan. Irigasi yang seharusnya menjadi tulang punggung sistem pangan nasional, kini banyak menjelma hanya sebagai sisa ruang di sela-sela proyek infrastruktur lain.
Di berbagai daerah saluran irigasi terjepit di antara jalan raya, perumahan, dan berbagai bangunan baru. Debit air makin kecil, alirannya tersendat, dan fungsinya digantikan oleh pompa-pompa darurat yang bekerja sekadar agar sawah tetap hidup. Karakter alami irigasi gravitasi perlahan hilang, digantikan ketergantungan pada mesin dan listrik. Padahal irigasi yang bergantung pada pompa berarti biaya tinggi, risiko kerusakan besar, dan tidak inklusif bagi petani kecil.
Meminggirkan irigasi berarti meminggirkan petani. Tanpa kepastian air, produktivitas turun, biaya meningkat, dan risiko gagal panen membesar. Petani dipaksa berjudi dengan cuaca, sementara saluran air yang seharusnya menjadi jaring pengaman justru dibiarkan dangkal, tersumbat sedimen, dan tak terawat. Di sisi lain, kita masih menuntut mereka menghasilkan pangan murah untuk masyarakat luas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan kita belum sepenuhnya berpihak pada pangan. Jalan raya dilapisi berlapis-lapis aspal, tetapi banyak jaringan irigasi dibiarkan menyempit, terputus, atau sekadar “ikut nasib” di pinggir proyek. Kita lupa bahwa kemajuan transportasi tanpa jaminan air pertanian pada akhirnya akan mengangkut apa? Pangan impor?
Ketahanan pangan tidak lahir dari slogan, melainkan dari air yang mengalir sampai ke petak sawah paling kecil. Negara boleh membangun bendungan megah, tetapi tanpa jaringan irigasi tersier yang terawat hingga tingkat desa, air tidak pernah benar-benar sampai ke petani. Di sinilah letak persoalan: perhatian besar di hulu, abai di hilir.
Saat irigasi dipinggirkan, kita sesungguhnya sedang menggadaikan masa depan pangan. Krisis pangan tidak selalu datang dengan kelaparan yang dramatis; kadang ia hadir perlahan melalui penurunan produksi, kenaikan harga, dan mundurnya petani dari sawahnya. Dan semuanya sering bermula dari satu hal sederhana: air yang tak lagi mengalir dengan layak.
Sudah waktunya irigasi ditempatkan kembali sebagai prioritas nasional. Bukan hanya proyek betonisasi, tetapi pemulihan fungsi ekologisnya: normalisasi saluran, perawatan rutin, pembagian air adil, serta pelibatan petani sebagai pengelola utama. Pembangunan yang memuliakan aspal sambil menyingkirkan air pertanian pada dasarnya sedang menjauhkan kita dari kedaulatan pangan.
Air adalah kehidupan. Ketika irigasi kita dibiarkan terpinggirkan, maka yang sesungguhnya terancam bukan hanya sawah, melainkan masa depan pangan bangsa ini...wallohualam bishowab
___________________

Komentar
Posting Komentar