Hujan Itu Barokah, Tapi Mengapa Petani Selalu Diselamatkan dengan Bantuan, Bukan Dikuatkan dengan Kemandirian?
Hujan Itu Barokah, Tapi Mengapa Petani Selalu Diselamatkan dengan Bantuan, Bukan Dikuatkan dengan Kemandirian?
Oleh : Sutoyo
_________
Setiap kali hujan turun kita kembali diyakinkan bahwa hujan adalah barokah. Kalimat ini memang terdengar indah, menenangkan, dan terasa bijak. Namun dibanyak desa sentra pertanian hujan juga berarti kecemasan. Air yang turun terlalu deras bisa menggenangi sawah, merobohkan dan merusak tanaman padi bahkan menggagalkan panen yang sudah ditunggu berbulan-bulan.
Saat itulah cerita lama kembali berulang: petani merugi, panen gagal, lalu negara datang membawa bantuan benih, pupuk dan pangan. Semua terdengar baik dan memang sering kali menyelamatkan hari ini. Tapi diam-diam disitulah persoalan dimulai.
Hujan sebenarnya tidak pernah menjadi musuh petani sebab air adalah jantung pertanian dan tanpa hujan sawah akan mati. Masalah akan muncul ketika ruang hidup pertanian semakin rapuh. Lahan mulai menyempit, irigasi seadanya, daerah hulu rusak, dan sawah dibiarkan menghadapi cuaca ekstrem sendirian. Dalam kondisi seperti itu hujan yang seharusnya menghidupi justru menjadi ancaman yang serius. Namun alih-alih memperkuat fondasi pertanian seperti tanah, air, dan tata kelola yang benar, jawaban yang paling sering dipilih adalah bantuan.
Bantuan menjadi refleks, seolah setiap kegagalan panen adalah kejadian tak terelakkan yang cukup ditutup dengan paket program bantuan.
Pelan-pelan petani terbiasa diselamatkan tetapi tidak pernah benar-benar dikuatkan.
Diatas kertas bantuan disebut sebagai jalan menuju kemandirian. Tetapi di lapangan banyak bantuan justru berhenti di titik ketergantungan. Benih datang dari luar, pupuk ditentukan dari pusat, pola tanam diatur dari jauh. Petani tinggal mengikuti, tanpa ruang belajar untuk berdiri di atas pengetahuan dan sumber dayanya sendiri.
Ironisnya ketika bantuan terlambat atau tidak turun, petani yang paling terpukul. Bukan karena mereka malas atau tidak mampu, tapi karena sistem telah membiasakan mereka menjadi bergantung. Kemandirian yang sering disebut-sebut itu pada akhirnya hanya hidup di proposal dan seminar.
Hujan datang lagi di musim berikutnya. Sawah kembali rawan, risiko tetap sama dan siklus pun kembali berulang yakni gagal panen, bantuan turun, selesai. Jadi tidak ada jeda untuk bertanya mengapa petani selalu berada di posisi paling lemah dalam rantai ketahanan pangan. Tidak ada keberanian untuk menggeser fokus dari “berapa bantuan yang dibagikan” ke “seberapa kuat petani bertahan tanpa bantuan”.
Dititik inilah bantuan dan kemandirian justru tampak seperti dua hal yang saling bertabrakan. Bantuan yang terlalu dominan membuat kemandirian sulit bertumbuh. Petani tidak diberikan ruang untuk berdaulat atas lahannya sendiri, atas benihnya dan atas airnya.
Mereka dijaga agar tidak jatuh terlalu keras, tetapi juga tidak didorong untuk berdiri tegak. Padahal kemandirian petani bukan berarti tanpa negara. Kemandirian justru lahir ketika negara hadir dengan cara yang berbeda seperti melindungi lahan pertanian, menjaga hulu, membenahi irigasi, memastikan hujan bisa bekerja sebagai barokah, bukan sebaliknya menjadi ancaman. Bukan sekadar datang setelah panen gagal, tapi hadir sebelum kegagalan itu terjadi.
Selama bantuan terus menjadi jawaban utama maka hujan akan selalu berasa ambigu bagi petani. Ia dibutuhkan tetapi juga ditakuti. Dan selama kemandirian hanya jadi slogan, petani akan terus berada di posisi yang paling rapuh dalam sistem pangan yang katanya ingin kita perkuat.
Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Bantuan apa yang kurang?” Melainkan, “Sampai kapan petani dibiarkan hidup dari bantuan, bukan dari kemandiriannya sendiri?”
Karena ketahanan pangan sejatinya tidak lahir dari gudang bantuan,
melainkan dari petani yang mampu berdiri tegak—bahkan saat hujan turun paling deras....wallohualam bishowab.
_________

Komentar
Posting Komentar