Gemas Tapi Harus Waspada

Gemas Tapi Harus Waspada

Fakta Ayam Warna-Warni yang Jarang Dibahas

Oleh : Sutoyo

__________________

Ayam warna-warni yang dijajakan di pinggir jalan sering langsung mencuri perhatian. Tubuhnya dicat kuning, merah muda, ungu, atau biru cerah. Anak-anak spontan tertarik, ingin menyentuh, memeluk, bahkan membelinya karena terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, di balik warna-warna cerah yang memanjakan mata, ada sejumlah fakta penting yang sering luput dari pembicaraan: soal kesehatan hewan, keamanan, sampai edukasi untuk anak.

Pertama, proses pewarnaan. Sebagian pedagang mewarnai anak ayam dengan pewarna sintetis pada bulu, bahkan ada yang dilakukan sejak usia sangat muda. Tujuannya sederhana: membuat ayam tampak unik agar cepat terjual. Padahal, pewarna tertentu dapat menimbulkan iritasi kulit, mengganggu pernapasan, atau meningkatkan stres pada hewan. Anak ayam pada dasarnya masih rentan, sistem kekebalan tubuhnya belum kuat, sehingga perlakuan tambahan seperti pewarnaan dapat memperbesar risiko kematian.

Kedua, aspek kesejahteraan hewan. Hewan bukan sekadar komoditas hiburan. Di balik tubuh mungil itu, ada makhluk hidup yang butuh makan teratur, kehangatan, ruang gerak, dan perawatan. Banyak anak ayam warna-warni dibeli hanya karena lucu, tanpa persiapan perawatan. Tidak sedikit akhirnya mati dalam beberapa hari. Di sinilah pentingnya edukasi bahwa mencintai hewan bukan berarti membelinya, tetapi merawatnya dengan benar.

Ketiga, makna edukasi bagi anak. Fenomena ayam warna-warni bisa menjadi pintu masuk untuk mengajarkan nilai empati. Anak-anak perlu memahami bahwa hewan bukan “mainan hidup”. Orang tua bisa mengajak berdialog: dari mana warna itu datang, nyaman atau tidak bagi hewan, dan apa tanggung jawab jika memeliharanya. Dengan begitu, ketertarikan visual berubah menjadi proses belajar tentang etika memperlakukan makhluk hidup.

Keempat, pilihan alternatif. Jika tujuan utamanya adalah mengenalkan anak pada hewan, banyak cara lain yang lebih ramah: mengunjungi peternakan edukatif, membaca buku tentang hewan, atau mengamati ayam dalam kondisi alaminya tanpa pewarna. Pendekatan ini membentuk kecintaan yang lebih ekologis dan menghargai kehidupan.

Pada akhirnya, ayam warna-warni memang tampak menggemaskan—tetapi kita juga perlu waspada. Di balik warna cerahnya tersimpan pertanyaan tentang kesehatan hewan, etika, dan tanggung jawab manusia. Fenomena ini seharusnya tidak hanya berhenti pada rasa lucu, tetapi berkembang menjadi kesadaran: mencintai hewan berarti menjaga martabat dan kesejahteraannya.

_________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum