Bentang Alam
Bentang Alam
Oleh : Sutoyo
_________________
Bentang alam selalu memiliki cara sendiri untuk berbicara kepada siapa pun yang memandangnya. Di hadapan hamparan sawah yang menghijau, jalan tanah yang memanjang, dan siluet dua gunung yang berdiri tenang di kejauhan, manusia seakan diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di sana, terlihat gagah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, sepasang raksasa yang seolah menjaga ruang-ruang pedesaan di bawahnya.
Jalan kecil yang memanjang di antara persawahan ini tampak sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya, tersimpan keindahan yang tulus. Di kanan dan kirinya tumbuh semak, rerumputan, dan tanaman liar, sementara sawah membentang sebagai bukti kerja keras para petani. Jalan itu seolah melambangkan perjalanan manusia: tidak selalu mulus, terkadang berlubang dan berkelok, tetapi tetap membawa kita maju menuju tujuan. Diujung pandangan, berdiri Sumbing dan Sindoro—kokoh, sabar, dan tak goyah oleh waktu.
Pagi yang cerah menghadirkan cahaya lembut yang menyapu lanskap. Kabut tipis yang menggantung di kaki gunung memberi sentuhan damai, seakan alam sedang berdoa dalam diam. Di sanalah harmoni antara bumi dan langit terlihat jelas: sawah yang merepresentasikan kehidupan sehari-hari, jalan yang menjadi simbol perjalanan, dan gunung kembar yang menggambarkan cita-cita yang tinggi serta impian yang selalu ingin dicapai.
Bentang alam seperti ini tidak hanya indah untuk dipandang, tetapi juga sarat makna. Sumbing dan Sindoro bukan sekadar objek wisata alam, melainkan penanda ruang hidup, penopang iklim, dan bagian dari identitas masyarakat di sekitarnya. Sawah di bawahnya menunjukkan keterikatan manusia desa pada tanah, air, dan musim; pada kerja bersama serta rasa gotong royong yang masih terjaga.
Ditengah arus modernisasi yang serba cepat, pemandangan seperti ini menjadi oase batin. Ia mengingatkan kita untuk pulang pada kesederhanaan, pada rasa syukur atas apa yang ada, dan pada kesadaran bahwa alam bukan hanya untuk difoto dan dikagumi, tetapi juga untuk dirawat. Kehadiran Sumbing dan Sindoro mengajarkan bahwa keteguhan dan keheningan seringkali lebih kuat daripada ributnya kata-kata.
Pada akhirnya, bentang alam adalah cermin. Di dalamnya, kita melihat hubungan manusia dengan bumi, dengan waktu, dan dengan dirinya sendiri. Keheningan sawah, jalan desa, serta siluet Sumbing dan Sindoro bukanlah keheningan kosong, melainkan keheningan yang penuh cerita—tentang perjalanan, harapan, dan kehidupan yang terus bergerak, setenang dan seindah pemandangan itu.....wallohualam bishowab.
_________________

Komentar
Posting Komentar