Duduk Bersama Petani di Pagi Purnabhakti
Duduk Bersama Petani di Pagi Purnabhakti
Pelajaran Tentang Keikhlasan
Oleh : Sutoyo
______________
Bruno, 2 Desember 2025__Purnabhakti sering dibayangkan oleh sebagian orang sebagai masa istirahat, masa menarik diri dari segala rutinitas, atau masa membersihkan meja dan mengembalikan kunci kantor. Namun bagi saya hari ke dua setelah melepas status sebagai penyuluh, Allah justru memberi hadiah sederhana namun sangat bermakna sebuah undangan duduk di pematang sawah bersama dengan para petani Kelompok Tani Sumber Rezeki, Desa Gowong.
Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Embun di pematang pun belum juga sepenuhnya hilang. Para petani sudah berkumpul, duduk berjajar sambil menatap petak sawah yang baru diolah. Tidak ada kursi, tidak ada protokoler, tidak ada batasan antara yang dulu dianggap “penyuluh” dan yang disebut “petani.” Yang ada hanya kebersamaan, sebagaimana sejak awal penyuluhan terlahir dari tanah yang sama, dari niat yang sama dan dari harapan yang sama.
Dihari kedua purnabhakti ini saya justru merasa Allah sedang mengingatkan satu hal bahwa pengabdian itu tidak pernah benar-benar pensiun. Yang berhenti adalah urusan administrasi, tetapi silaturahim, kepedulian, dan rasa sayang kepada petani tetap melekat. Bahkan mungkin justru lebih jernih karena tidak lagi terbebani dengan laporan, target, atau angka-angka aneh.
Duduk bersam di pematanf sawah itu seperti kembali ke sekolah kehidupan. Setiap obrolan ringan mulai dari kondisi air, cuaca yang sulit ditebak, hingga rencana tanam selalu mengandung pelajaran hidup. Saya menyadari bahwa para petani mengajarkan hal yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum tentang makna ketulusan bekerja, keikhlasan menerima hasil, dan kesabaran dalam proses.
Salah satu petani menepuk bahu saya sambil bergurau, “Pak, meskipun sudah purnabhakti, kursi panjenengan di pematang tetap ada.” Ucapan sederhana itu seperti menegaskan bahwa penghormatan kadang tidak datang dari seremoni perpisahan, tetapi dari seseorang yang tetap mengajak kita duduk bersama tanpa memandang status.
Saya teringat satu ayat bahwa siapa yang menanam kebaikan sebesar biji sawi pun, Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Mungkin selama ini saya bukan penyuluh terbaik, bukan pula yang paling pintar, namun Allah menunjukkan bahwa silaturahim yang dijaga dengan hati akan kembali sebagai bentuk penghargaan paling tulus.
Purnabhakti ternyata bukan soal berhenti bekerja. Ia adalah momen untuk melihat kembali jalan yang telah dilewati, untuk mensyukuri pertemuan-pertemuan, dan untuk belajar lagi tentang keikhlasan. Dan pagi ini di Sumber Rezeki itu menjadi pengingat kuat bahwa tugas boleh selesai, tetapi persaudaraan tetap hidup.
Semoga langkah yang sederhana ini dicatat Allah sebagai amal kebaikan, dan semoga saya tetap diberi kemampuan untuk terus belajar bukan lagi sebagai penyuluh, tetapi sebagai saudara yang selalu ingin dekat dengan petani.
______________

Komentar
Posting Komentar