Swasembada Boleh, Tapi Jumawa Jangan
Swasembada Boleh, Tapi Jumawa Jangan
Oleh: Sutoyo
______________
Pituruh, 23 November 2025 —
Di tengah euforia capaian produksi pangan nasional, kita semua dikejutkan oleh bencana erupsi Gunung Semeru yang meluluhlantakkan lahan pertanian dan permukiman. Vulkanolog Dr. Surono—lebih dikenal sebagai Mbah Rono—mengingatkan satu hal sederhana namun sangat dalam: banyak masyarakat memilih tinggal di zona yang secara alami subur, bahkan di jalur aliran lahar, karena tanahnya memanjakan. Namun, “kita itu sesungguhnya hidup menumpang, dan alam adalah tuan rumah yang memiliki aturan dengan banderol yang tak dapat ditawar,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa ketika ilmu dan teknologi telah menetapkan area tertentu sebagai Zona Merah, itu bukan sekadar larangan administratif. Itu adalah cara alam memberi batas. Kita yang menumpang tidak boleh bertindak seenaknya, apalagi menetap dan beraktivitas intensif di wilayah yang sudah jelas berisiko tinggi.
Lalu muncul pertanyaan penting:
apakah dunia pertanian juga memiliki ‘Zona Merah’ versi alam?
Bayangkan lahan pertanian sebagai bagian dari rumah besar milik alam. Ada aturan yang melarang kita melampaui batas: menanam tanpa jeda musim, membiarkan tanah bekerja tanpa istirahat, menaburkan pupuk kimia berlebihan, menyemprot pestisida tanpa memperhitungkan musuh alami, atau memompa air tanah seolah mengambil air minum di rumah orang lain tanpa memeriksa apakah cadangannya mencukupi.
Ketika batas-batas itu dilanggar, alam akan menagih dengan caranya sendiri. Tagihannya mungkin tidak seketika, tidak spektakuler seperti letusan gunung, tetapi daya rusaknya sama keras: tanah mengeras, mikroba tanah musnah, struktur tanah kolaps, hama menjadi kebal, air tanah menyusut, erosi merajalela. Semua itu terjadi perlahan, namun konsisten menghancurkan fondasi produksi pangan.
Peringatan serupa datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga itu mengingatkan bahwa perubahan iklim telah memicu ancaman krisis air dan gangguan produksi pangan—kondisi yang menuntut strategi adaptasi dan mitigasi jauh lebih kuat.
BMKG kini aktif mendorong sinergi data iklim dengan sektor pertanian karena variabilitas cuaca—musim hujan yang maju, anomali curah hujan, atau kemarau basah—berpotensi menyebabkan gagal tanam, pencucian hara, dan kekacauan kalender tanam. Beberapa sentra pangan sudah merasakan dampaknya.
Kolaborasi data BMKG–Kementan bukan sekadar formalitas birokrasi. Perubahan pola curah hujan, hujan ekstrem saat musim tanam, hingga kemarau basah telah tercatat merusak produksi di berbagai wilayah. Karena itu, BMKG mengintensifkan pendidikan iklim lapang agar petani mampu membaca tanda cuaca dan menyesuaikan budidaya mereka.
Adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Artinya bagi sektor pertanian:
swasembada tetap penting, tetapi keberlanjutan produksi harus berdiri di atas pondasi ekologi yang kuat.
Lahan subur di lereng gunung atau dataran aluvial memang bisa memberi panen melimpah. Namun jika diperlakukan seperti mesin tanpa jeda—intensifikasi tanpa konservasi, input kimia berlebihan, pemompaan air tanah tak terkendali—maka ketika cuaca ekstrem datang, semua keuntungan itu dapat hilang seketika.
Tagihan alam di sini bukan letusan dahsyat, melainkan degradasi tanah, gagal panen massal, krisis air, dan kelelahan ekosistem.
Kebanggaan atas angka produksi harus dibarengi kewaspadaan kebijakan: perencanaan berbasis data iklim, investasi penyimpanan air (panen air hujan, restorasi sungai), penguatan layanan peringatan dini, serta difusi praktik pertanian adaptif.
BMKG menegaskan bahwa sinergi data iklim dengan kebijakan pertanian dapat meningkatkan ketahanan dan mengurangi kerentanan terhadap anomali cuaca.
Pada akhirnya, pesan Mbah Rono relevan untuk semua. Keberhasilan produksi hari ini tak boleh membuat kita jumawa. Menjadi tuan di ladang bukan berarti menuntut tanpa sopan santun kepada alam.
Swasembada boleh dirayakan, tetapi bukan alasan untuk merasa menang atas alam. Ketika ilmu dan teknologi dipadukan dengan adab ekologis—menghormati batas-batas alam, merawat tanah, menjaga air, membaca tanda cuaca—maka swasembada yang dibangun akan lebih tahan terhadap guncangan iklim dan lebih adil bagi generasi mendatang.
Alam telah memberi kemurahan hati, tetapi persyaratannya tidak dapat ditawar. Ketika cuaca makin tak menentu, hanya pondasi yang bijak yang mampu bertahan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
______________

Komentar
Posting Komentar