Pemasaran Tembakau Tidak Bisa Lagi Mengandalkan Pola Lama
Pemasaran Tembakau Tidak Bisa Lagi Mengandalkan Pola Lama
Oleh :Sutoyo
______________
Bruno, 27 November 2025__Bimtek Pengembangan Pola Kemitraan Angkatan V di Hotel Grand Kolopaking, Kebumen memberikaan banyak kesadaran baru bagi petani tembakau, khususnya bahwa pola pemasaran yang selama ini digunakan sudah tidak lagi memadai. Pasar bergerak begitu cepat, standar mutu pun berubah, dan industri membutuhkan bahan baku yang lebih bersih dan lebih siap olah. Dititik inilah petani tidak bisa lagi bertahan dengan cara dan pola lama, karena risiko tertinggal akan semakin besar. Diibaratkan seperti nasib Ponsel Nokia yang runtuh bukan karena produknya jelek, tetapi karena tidak mau mendengar apa yang sebenarnya diminta oleh pasar.
Selama bertahun-tahun sebagian besar pemasaran tembakau berpusat pada pola lama yakni panen, mengeringkan sederhana, menunggu pengepul datang atau kalaupun dirajang dan dikeringkan menjadi tembakau siap konsumsi maka kualitasnya masih jauh dari keingian konsumen, sehingga terjadi hanya pasrah pada harga yang ditawarkan. Pola ini bukan karena petani enggan berubah, tetapi karena informasi pasar tidak pernah mengalir penuh sampai ke tingkat petani. Kita memproduksi apa yang kita anggap baik, namun belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri. Bimtek Angkatan V telah mengubah sudut pandang ini, pemasaran tidak boleh dimulai di akhir panen, melainkan sejak sebelum tanam dengan memahami standar yang diminta oleh pembeli.
Materi dari pabrikan menunjukkan bahwa industri kini tidak lagi membeli daun basah, melainkan tembakau kering siap olah dengan kebersihan, kerapian, dan konsistensi mutu tertentu. Artinya jelas bahwa pasar meminta kualitas yang terukur. Untuk mencapai hal ini maka tidak ada cara lain kecuali proses budidaya yang harus ditautkan dengan proses pasca panen yang benar dan dimulai dari pemetikan, pemeraman, sortasi, perajangan, pengeringan, hingga grading. Dititik inilah kehadiran Unit Pengelolaan Pascapanen Kolektif (UPPK) menjadi sangat strategis.
UPPK bukan hanya sebagai tempat menjemur atau mengolah namun ia adalah jembatan antara petani dan industri. Dengan adanya UPPK maka standar mutu industri bisa turun ke tingkat petani, sementara produk petani bisa naik kelas dan memenuhi standar permintaan pasar. UPPK dapat menciptakan ruang baru agar proses pasca panen tidak lagi dilakukan asal jadi, tetapi mengikuti standar yang sudah disepakati bersama. Jika hal ini dapat berjalan baik maka sudah barang tentu akan diikuti dengan kualitas yang naik sehingga secara otomatis posisi tawar petani pun ikut naik.
Namun ditengah kesempatan ini ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan yakni petani berharap pemerintah hadir tidak hanya sebagai penerima cukai, tetapi juga sebagai penjaga ekosistem hulu sampai hilir dunia pertembakauan. Kontribusi tembakau terhadap APBN sangat besar tetapi perhatian terhadap penguatan pasca panen, ketersediaan fasilitas, pendampingan teknologi, serta penguatan lembaga seperti UPPK masih belum seimbang.
Padahal keberlanjutan industri tembakau tidak mungkin berdiri tanpa kesejahteraan petaninya. Jika pemerintah memberi dukungan yang merata, baik melalui pelatihan, fasilitas, hingga kebijakan yang berpihak, maka penguatan pemasaran dan kualitas tembakau akan berjalan lebih stabil. Cukai memang penting tetapi menjaga petani tetap kuat jauh lebih penting bagi masa depan pertembakauan Indonesia.
Bimtek Angkatan V menunjukkan bahwa petani sesungguhnya siap untuk berubah. Mereka siap memahami standar pasar, siap berkolaborasi dengan industri, dan siap masuk ke pola kemitraan yang lebih modern. Yang dibutuhkan adalah pendampingan yang konsisten, fasilitas pasca panen yang memadai, dan kebijakan pemerintah yang tidak hanya fokus pada penerimaan negara, tetapi juga pada keberlangsungan petani.
Pesannya cukup jelas bahwa pemasaran tembakau tidak bisa lagi mengandalkan pola lama. Mutu adalah bahasa baru pemasaran, UPPK adalah jembatan baru dan kemitraan adalah ruang belajar baru. Dan pemerintah diharapkan hadir bukan hanya ketika menarik cukai, tetapi juga ketika petani membangun kualitas dan memperluas pasar.
Jika semua unsur bergerak dapat bersama, maka tembakau petani tidak hanya mampu bertahan, tetapi justru berpeluang besar untuk naik kelas.
____________________________

Komentar
Posting Komentar