Seri Artikel: Rahasia Hari Pasaran dalam Tradisi Jawa



Seri Artikel: Rahasia Hari Pasaran dalam Tradisi Jawa

Oleh : Sutoyo

______________

Bagian 1

Jejak Peradaban di Balik Hari Pasaran Jawa

Didalam tradisi masyarakat Jawa dikenal dengan lima hari pasaran yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Kelima hari ini membentuk siklus lima harian yang dikenal sebagai Pancawara. Kata panca berarti lima, sedangkan wara berarti hari. Jadi Pancawara adalah sistem pekan lima hari yang berjalan terus menerus berdampingan dengan pekan tujuh hari biasa.

Pada masa lalu pasar di desa-desa Jawa tidak dibuka setiap hari seperti sekarang. Aktivitas jual beli hanya berlangsung pada hari pasaran tertentu. Diluar hari-hari itu lapangan pasar biasanya kosong tidak ada pedagang dan tidak ada pembeli, bahkan tidak ada transaksi sama sekali.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan tradisional. Para peneliti budaya melihatnya sebagai sistem ekonomi lokal yang sangat rasional. Antropolog ekonomi seperti Clifford Geertz dalam penelitiannya tentang pasar di Jawa menyebutkan sistem ini sebagai bentuk jaringan pasar berkala yang memungkinkan pedagang berpindah dari satu pasar ke pasar lain sesuai dengan jadwal hari pasaran.

Misalnya, satu desa ramai pada Pon, desa lain pada Wage, desa lain pada Legi. Pedagang dapat berkeliling mengikuti siklus tersebut sehingga pasar selalu ramai tanpa harus ada pasar setiap hari di satu tempat.

Sistem ini menjadi sangat efisien pada masa ketika transportasi masih terbatas. Para pedagang tidak perlu membuka lapak setiap hari cukup dengan mengikuti jadwal pasaran yang sudah disepakati bersama secara sosial.

Penelitian tentang sistem pasar berkala ini juga dibahas oleh J. J. Fox dan beberapa peneliti ekonomi pedesaan di Kawasan Asia Tenggara dan menemukan bahwa sistem serupa juga ada di Thailand, Vietnam, hingga Afrika Barat.

Dengan kata lain hari pasaran adalah teknologi sosial yang diciptakan oleh masyarakat tradisional untuk mengatur distribusi barang, mobilitas pedagang, dan keramaian pasar.

Namun hari pasaran tidak berhenti sebagai sistem ekonomi saja. Ia bahkan berkembang menjadi sistem waktu budaya yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan dimasyarakat Jawa.

Itulah sebabnya hingga sekarang hari pasaran tidak hanya terkait dengan pasar, tetapi juga dengan hari lahir, pernikahan, hingga hajatan keluarga.

Mengapa sistem ekonomi bisa berubah menjadi sistem budaya?

Jawabannya terkait dengan cara orang Jawa memahami waktu.

Itulah yang akan kita bahas pada bagian berikutnya.

__________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum