Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali


 Episode 2 –Pelajaran Ketika Ngarit di Tanggul Kali


Matahari mulai condong kearah  barat. Panasnya masih terasa, tapi tidak lagi setajam ketika siang hari tadi. Amin Zaid berjalan menuntun kambing-kambingnya menyusuri jalan setapak menuju tanggul kali, karung goni tersampir di pundak dan sabit kecil digenggamnya dengan erat.

Air sungai tampak mengalir tenang. Pantulan cahaya matahari bergerak pelan di permukaannya. Amin Zaid membayangkan  bahkan merasakan bahwa aliran air sungai itu seperti menggambarkan  kehidupan yang tidak selalu lurus, tetapi terus berjalan.

Rumput disekitar tanggul tidak semuanya hijau. Ada yang sudah menguning, ada pula yang tinggal batang.

Kambing-kambingnya mengembik pelan, seolah gelisah menunggu.

Amin Zaid berhenti sejenak. Ia teringat cerita guru ngajinya tentang Rasululloh Muhammad SAW yang menggembala kambing dengan sabar, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengeluh meski panas menyengat.

“Kalau Nabi saja berjalan sejauh itu,” batinnya,

“aku tidak pantas mengeluh hanya karena rumput yang sedikit.”

Ia menengadah sebentar, lalu berdoa lirih.

“Ya Allah, kenyangkanlah kambing-kambingku ini.

Jika disini sedikit, tuntunlah aku ke tempat dimana rumput yang lebih banyak.”

Doa itu keluar apa adanya. Tidak panjang, tapi penuh harap.

Amin Zaid melanjutkan langkahnya menyusuri tanggul lebih jauh lagi. Dibalik semak ia menemukan rumpun rumput yang masih hijau segar. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat kambing-kambing itu mulai tenang.

Ia memotong rumput perlahan memastikan tidak merusak akar. Karungnya hampir penuh, tapi pundaknya terasa ringan.

Menjelang senja angin sungai berhembus lembut. Amin Zaid duduk sebentar di atas batu, memandang kambing-kambingnya yang makan dengan tenang. Di dadanya muncul rasa syukur yang tidak ia rencanakan.

Hari itu ia belajar satu hal sederhana bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, dan usaha tanpa doa mudah melelahkan hati.

Ketika ia menuntun kambing-kambing itu pulang, adzan magrib terdengar dari kejauhan. Langkah Amin Zaid mantap. Sore itu ia pulang bukan hanya membawa rumput, tetapi juga ketenangan.


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Magnet Kerinduan di Watuduwur: Sebuah Pertemuan Tak Terduga dengan Pak Dhani Harun

Ibu Ketua TP PKK Jateng borong produk KWT se Kecamatan Bruno

Keresahan yang Mencair di Aula B dan C: Petani Tembakau Akhirnya Bisa Tersenyum