Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Poel dalam Pandangan Kehidupan: Menjadi Matang Tanpa Banyak Menggigit

Gambar
  Poel dalam Pandangan Kehidupan: Menjadi Matang Tanpa Banyak Menggigit Oleh : Sutoyo ___________ Poel atau gigi yang mulai ompong sering dipandang sebagai tanda menurunnya usia dan kekuatan fisik. Tidak sedikit orang merasa minder ketika  satu per satu gigi mulai tanggal. Padahal dibalik itu semua tersimpan filosofi kehidupan yang sangat dalam. Saat manusia masih muda, gigi lengkap, kuat, dan tajam. Hampir semua makanan bisa digigit tanpa pikir panjang. Nafsu makan besar, tenaga melimpah, keinginan pun sering tak terbendung. Dalam usia muda, manusia cenderung ingin mencoba semuanya, mengejar semuanya, bahkan kadang ingin menang dalam segala hal atau rakus tanpa batas. Namun seiring dengan bertambahnya usia oleh Alloh perlahan dikurangi  “alat menggigit” itu. Gigi mulai goyah, tanggal, dan tidak lagi sekuat dulu. Seolah ada pesan halus bahwa hidup tidak selamanya tentang melahap dan menguasai. Poel mengajarkan pengendalian diri. Makanan yang keras mulai dihindari. Ya...

HKTI dan Tantangan Mengubah Aset Mangkrak Menjadi Mesin Ekonomi

Gambar
HKTI dan Tantangan Mengubah Aset Mangkrak Menjadi Mesin Ekonomi Oleh : Sutoyo ________________ Pertanyaan Wakil Bupati Purworejo tentang bagaimana cara menaikkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) sesungguhnya bukan sekedar pertanyaan fiskal, tetapi pertanyaan tentang arah pembangunan daerah. Sebab PAD tidak lahir dari ruang kosong. PAD tumbuh justru ketika ekonomi daerah itu hidup, usaha rakyat bergerak, dan aset daerah mampu menghasilkan nilai tambah. Ditengah kegelisahan itu, publik tentu bertanya: mengapa masih banyak aset daerah yang belum dikelola secara optimal, bahkan cenderung mangkrak? Ada kandang sapi di Sumberejo dan Gunung Tugel yang belum benar-benar menjadi pusat ekonomi peternakan. Ada pula gedung resi gudang di Kutoarjo yang seharusnya bisa menjadi simpul perdagangan dan logistik pertanian, namun belum menunjukkan denyut ekonomi yang kuat. Persoalannya sering kali bukan pada kondisi bangunannya. Bangunan bisa saja berdiri megah. Tetapi apabila tanpa adanya ekosistem usaha...

Mengembalikan Marwah HKTI di Tengah Kegelisahan Petani

Gambar
Mengembalikan Marwah HKTI di Tengah Kegelisahan Petani Oleh : Sutoyo _________________ Ditengah mahalnya biaya produksi, ketidakpastian cuaca, hingga lemahnya posisi tawar hasil panen, petani sesungguhnya tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga membutuhkan organisasi yang benar-benar hadir dan memperjuangkan suara mereka. Dititik itulah marwah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia atau HKTI kembali dipertanyakan: masihkah menjadi rumah besar bagi petani, atau sekedar nama besar yang perlahan menjauh dari denyut kehidupan kaum tani? Hari ini petani sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga-harga hasil panen sering jatuh saat musim panen raya, pupuk kadang sulit diperoleh, biaya produksi terus meningkat, sementara perubahan iklim membuat musim semakin sulit ditebak. Disisi lain banyak generasi muda mulai meninggalkan dunia pertanian karena merasa sektor ini tidak lagi menjanjikan masa depan yang layak. Dalam kondisi seperti itu HKTI seharusnya hadir bukan hanya saat bermus...

Kelelahan Informasi di Dunia Pertanian: Ketika Grup WA Menggantikan Ruang Belajar

Gambar
Kelelahan Informasi di Dunia Pertanian: Ketika Grup WA Menggantikan Ruang Belajar Oleh : Sutoyo ______________ Dulu persoalan utama petani adalah keterbatasan informasi. Hari ini, masalahnya berubah 180 derajat petani justru tenggelam dalam limpahan informasi. Setiap hari grup WhatsApp pertanian dipenuhi: edaran, instruksi, video pendek, tautan berita, himbauan, laporan kegiatan, hingga pesan berantai yang datang tanpa jeda. Informasi bergerak sangat cepat. Tetapi pemahaman tidak selalu ikut bergerak. Dititik inilah dunia pertanian mulai mengalami sesuatu yang jarang dibicarakan: information fatigue atau kelelahan informasi. Istilah ini pertama kali banyak dibahas oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970), ketika manusia mulai mengalami tekanan yang hebat akibat dari perubahan dan arus informasi yang terlalu cepat. Fenomena itu kini terasa nyata di dunia pertanian digital Indonesia.  Satu pesan belum selesai dipahami, pesan lain sudah masuk. Satu persoalan di sawah belum selesa...

Adu Data Pangan: Ketika Angka Menjadi Senjata, Petani Tetap Menanggung Beban

Gambar
Adu Data Pangan: Ketika Angka Menjadi Senjata, Petani Tetap Menanggung Beban Oleh : Sutoyo ___________ Viralnya adu data antara Feri Amsari dan LBH Tani Nusantara baru-baru ini sebenarnya bukan hanya sekedar perdebatan biasa. Ia membuka satu kenyataan yang selama ini sering disembunyikan dibalik tabel statistik dan konferensi pers tentamg keadaan pangan di Indonesia yang sebenarnya  bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal narasi, legitimasi, dan kepentingan politik. Disatu pihak berbicara tentang surplus beras, peningkatan produksi, dan cadangan pangan yang kuat. Sementara dipihak lain mempertanyakan makna swasembada yang diklaim oleh pemerintah ditengah suasana masih tingginya impor berbagai komoditas pangan strategis. Sehingga secara spontan publik pun menjadi terbelah, seolah harus memilih siapa yang paling benar. Padahal masalah utamanya bukan pada siapa yang berbicara, melainkan pada bagaimana negara memaknai pangan itu sendiri. Selama ini kita terlalu sering mencampuraduk...